500 Tahun Tun Fatimah, Mengenang Srikandi Melayu Isteri Sultan Melaka Terakhir: Catatan Husnu Abadi

Pengantar: Tulisan ini merupakan catatan perziarahan ke Makam Tun Fatimah, di Desa Tolam, tepi Sungai Kampar, seberang Air Tiris, Kampar, 2 Oktober 2025 yang lalu, bersama beberapa aktifis DMDI yaitu Taslim Prawira, Amir Hamzah dan Zulfikar. Keberadaan makam ini oleh banyak penulis, memang masih terjadi perbedaan pendapat.

Saya cukup penasaran dengan makam Tun Fatimah ini. Sudah beberapa kali Ustaz Taslim mengantar tamu-tamu dari Malaysia, khususnya dari Melaka, berkunjung berziarah ke makam ini. Penelusuran beberapa informasi masih membingungkan saya, apakah makam ini memang makam Tun Fatimah? Bahkan dalam buku yang ditulis oleh Rida K.Liamsi menyatakan bahwa makam Tun Fatimah sebagai isteri dari sultan terakhir Kerajaan Melaka, Sultan Mahmud, terletak di samping makam Sultan Mahmud yang berada di Pekan Tua, Pelalawan, di tepi sungai Kampar. Hal ini juga disampaikan oleh Rida K. Liamsi sewaktu bertemu dalam Festival Sastra Internasional Gunung Bintan, di Tanjung Pinang (28-31 Oktober 2025). Rida mengatakan bahwa kepastian mana yang benar tempat dan lokasi makam Tun Fatimah memang banyak diperdebatkan dan makam di Desa Sungai Tonang ada saja yang meragukan.

Makam ini memang berada di sebuah pemakaman umum desa dan memang berada di tepi sungai Kampar. Makam Tun Fatimah terlihat agak menonjol karena satu-satunya makam yang ada batasnya dan mempunyai tembok walau dalam bentuknya yang amat sederhana. Ciri khas lainnya adalah adanya pohon bunga kemboja. Kabarnya, karena adanya pohon bunga kemboja inilah merupakan ciri khas yang berdasarkan sumber bacaan merupakan ikrar anaknya yang berkata bahwa bila nanti sang ibunda wafat (Tun Fatimah) maka mereka akan menanam sebuah pokok bunga Kemboja sebagai petanda bahwa ini adalah makam ibunda. Di samping makam, kanan kirinya, terdapat banyak batu nisan yang serupa dan dikatakan bahwa itu merupakan dayang-dayang ibunda. Kompleks pemakaman pula luas sekitar kurang dari 1 hektar, berpagar dan mempunyai pintu masuk yang berupa gapura sederhana disertai dengan sebuah teks tentang pemakaman ini.

Masyarakat di sini, berpesan kepada mereka yang sering berziarah, termasuk kepada ustaz Taslim, agar bentuk makam jangan ditambah-tambah, misalnya ditambah dengan bangunan rumah makam. Bagi masyarakat sekitar desa ini, mereka menganggap bahwa pembuatan rumah makam tidak sesuai dengan ajaran agama yang mereka pahami. Boleh jadi faham mereka itu serupa dengan faham yang diikuti di masyarakat Mekah dan Madinah, dimana makam sahabat nabi hanya ditandai dengan batu-batu belaka dan tidak ada penanda lainnya. Mau tak mau, niatan sebagian peziarah, yang juga datang dari Melaka, untuk membangun sebuah ramah makam, seperti yang telah mereka buat untuk makam Sultan Mahmud di Pekan Tua Sungai Kampar, Pelalawan, tidak kan terwujud selama masyarakat sekitarnya masih tetap kokoh memegang faham agamanya.

Narasi tentang Tun Fatimah
Rida K. Liamsi dalam Prasasti Bukit Siguntang dan Badai Politik Di Kemaharajaan Melayu 1160-1946, halaman 47 menulis sebagai berikut: Di Pekantua, sebuah bandar di Kuala Kampar itu, Sultan Mahmud Syah melanjutkan pemerintahannya, membangun istana yang baru (di Kabupaten Pelalawan, sekarang) dan melakukan konsolidasi. Tapi Sultan Mahmud Syah hanya mampu bertahan 2 tahun di Kampar. Kesehatannya memburuk, terutama setelah perjalanan berat menyingkir dari istananya di Kopak, Pulau Bintan. Uzur dan lelah berperang, tekanan politik akibat konflik perebutan tahta oleh anak-anaknya. Pukulan terberat adalah wafatnya permaisuri tercinta Tun Fatimah. Akhirnya Sultan mahmud Syah wafat pada tahun 1528, setahun setelah Tun Fatimah mendahuluinya. Kemangkatan Tun Fatimah, membuat Sultan Mahmud Syah (Sang lelaki yang perkasa, begitulah ia diriwayatkan), rapuh dan tidak kuat menghadapi kesepian. Wafatnya Tun Fatimah bergelar Cahaya Melaka itu telah meninggalkan Sultan Mahmud Syah sendiri menghadapi hari-hari terakhir Melaka yang gelap dan suram. Dia dan Tun Fatimah dimakamkan di Pekantua, bersempena tempat ia dimakamkan itu, maka gelar postomousnya adalah Marhum Pekantua.

Tenas Effendy dalam tulisannya berjudul Marhum Kampar (Dalam Mitos Rakyat Pelalawan) yang diterbitkan dalam bentuk buku bersama dengan tulisan H. Jamaluddin TA berjudul Mitos dan Cerita Lain dari Pelalawan. Buku ini diterbitkan oleh LAM Kabupaten Pelalawan, Tahun 2006 dengan ketebalan buku 86 halaman. Buku ini terbit dengan Editor Sudirman Shomary. Mari kita kutip tulisan Tenas Effendy sebagai berikut.

Selain Sultan Mahmud Syah I, isteri beliau Tun Fatimah juga dimitoskan dan digelari Cik Puan Sri Kampar sebagai seorang pahlawan perempuan yang handal. Bahkan di dalam beberapa kisah, Cik Puan Sri Kampar peranannya terasa lebih menonjol dari suaminya. Bahkan setelah beliau mangkat, makamnya yang berdampingan dengan makam suaminya juga sangat dihormati orang., dianggap sebagai tempat meminta tuah terutama bagi orang-orang yang menginginkan mendapat anak perempuan yang cantik dan terpuji.

Beliau dianggap sebagai pendorong semangat juang Sultan Mahmud Syah agar tidak patah semangat atau menyerah kepada takdir akibat kekalahan yang bertubi-tubi dari Portugis. Kisah kepahlawanan beliau dikenal sebagai Kisah Cik Puan Sri Kampar atau Cito Cik Puan Kampar atau Kayat Cik Puan. Kisah lain mengenai Cik Puan Sri Kampar adalah kisah Cik Puan Sri Bunyian yang menceritakan derita sengsaranya melawan Ajo Patuka (Raja Portugis) sampai beliau diracun oleh kaki tangan Portugis dan akhirnya meninggal dunia.

Dimana Makam Tun Fatimah? Ustaz Taslim Prawira termasuk seorang penulis yang cukup rajin. Umumnya ia menulis biografi beberapa rekan baik yang telah meninggal dunia ataupun yang masih hidup. Buku kecil ini memuat Syair TUN FATIMAH tanpa nama penulisnya, Artikel dari Prof. Madya Dr. Norazimah Zakaria berjudul Siapa Tun Fatimah, paper dari 3 penulis yaitu M. Ridwan Hasbi, Taslim Prawira dan Baharuddin Puteh berjudul Tun Fatimah Srikandi Melaka: Steorotipe Gender dalam Kultur Melayu dan Islam.

Abdul Latif menulis dalam kata pengantarnya sebagai berikut: Mungkin anak-anak muda belia di zaman kini banyak tak tahu, apa kisah dan cerita Tun Fatimah yang sebenarnya, siapa Tun Fatimah ? Bagaimana ia menuntut bela atas wafatnya sang ayah dan suaminya? Mengapa ia undur diri dari Melaka ke Johor, dari Johor ke Bintan dan dari Bintan ia tetap dikejar oleh Peringgi (Portugis) yang akhirnya ke Kampar, sehingga wafat tahun 1527 dan dikuburkan di desa Sungai Tonang, Kecamatan Kampar Tengah, kabupaten Kampar, Provinsi Riau.

Saya dua kali ke makam Tun Fatimah bersama jajaran pemerintahan Kabupaten Kampar dan Provinsi Riau, untuk menapak tilas Tun Fatimah Srikandi Melaka ini, saya dapati cukup membuat merinding bulu roma saya, karena bagaimana beliau menghindar dari kejaran dan tipu muslihat Peringgi (Portugis) untuk membunuh keluarganya.

Dengan sepenggal harapan, adanya buku kecil yang digoreskan oleh saudara kami Drs. Taslim Prawira MA ini, mengingatkan kita terus untuk mengenang bagaimana Tun Fatimah mempertahankan kedudukan dan integritas Melayu di kawasan rantau sepadan.

Dalam tulisan yang merupakan intisari ceramah YM Raja Kobat Salehuddin Ibni Almarhum Raja Muda Musa, dapat disarikan hal-hal sebagai berikut:

Sekembalinya tentara Portugis ke Melaka, setelah menyerang terus menerus Sultan Mahmud, maka Sultan Mahmud pun pindah ke daratan Sumatera, menumpang pada kerajaan menantu baginda, Raja Yang Dipertuan Abdullah di Kampar. Sesudah itu Sultan Mahmud dan Bendahara Paduka Raja Tun Khoja Ahmad selalu berikhtiar, namun mereka mulai diserap sakit-sakit tua.

Tahun 1529 Tun Khoja Ahmad meninggal dunia di Kampar, dan anaknya bernama Tun Ishak bergelar Bendahara Paduka Tuan mengganti jawatan almarhum ayahnya.

Setahun kemudian Sultan Mahmud pula mangkat setelah bertahta kerajaan selama 50 tahun.

Dengan itu, memenuhi Baiah almarhum Sultan Muda Ali Alauddin Riayat Shah telah dengan pantas diistiharkan menjadi bakal Raja Yang Dipertuan, sebagaimana janji almarhum Sultan Mahmud kepada Raja Ampuan Besar Melaka Tun Fatimah.

Tidak lama kemudian, seolah-olah bagai terkena padah, Tun Fatimah diserang penyakit ganjil. Demi mengelak penyakit itu merebak kepada rakyat yang lain, Tun Fatimah ini diasingkan ke suatu lokasi berdekatan dengan perkampungan di Hilir Bangkinang, di tepi Sungai Kampar. Para inang dedayang yang setia kepadanya, tetap sanggup menjagainya. Akibatnya lalu mereka juga terjangkit penyakit yang sama.

Sesudah meninggal dunia, Tun Fatimah dimakamkan di kawasan kampung itu, termasuklah jenazah inang sekaliannya. Pusara Tun Fatimah di sebuah pemakaman tua di hilir Bangkinang, tepian tebing kanan Sungai Kampar, Kabupaten Kampar. Makamnya bertanda sebuah pohon Kemboja yang diceritakan ditanam pada waktu Tun Fatimah dikebumikan. Pokok Kemboja itu kini sudah condong membongkok ke arah pusara, kelihatan seolah-olah memayungi Tun Fatimah dengan dua cabang usangnya bagaikan tangan seorang nenek di atas kuburan suri itu. Disekeliling kubur Tun Fatimah ditemui beberapa makam yang juga berbentuk batu-batu nisan perempuan yang seusia dengan batu nisan Tun Fatimah.

500 Tahun Tun Fatimah. Diperkirakan Tun Fatimah wafat di tahun 1527 bilamana ia wafat sebelum wafatnya Sultan Mahmud pada Tahun 1528 (ada yang mengatakan wafat Tahun 1530). Apakah generasi sekarang perlu mengenang dan mengenal siapa itu Tun Fatimah? Perjuangannya yang tak kenal lelah melawan penjajah Portugis padahal ia adalah permaisuri sultan yang selalu tampil perkasa dan mengetahui taktik dan startegi berperang. Perempuan yang pada saat yang tepat, mengambil alih peran yang seharusnya dimainkan oleh suaminya Sultan Mahmud.

Dalam pembicaraan dengan Amir Hamzah dan Ustaz Tsalim Prawira, yang semuanya aktifis dalam kepengurusan DMDI Kota Pekanbaru, saya mengemukakan gagasan bahwa kita perlu mengangkat peranan Tun Fatimah ini yang telah mengangkat derajat dan marwah Melayu. Kesadaran sejarah perlu juga ditularkan pada segenap pengurus DMDI antara lain dalam bentuk peringatan 500 Tahun wafatnya Tun Fatimah (1527-2027). Bila ingin anak muda berperan bisa saja mengundang mereka untuk menulis pantun, gurindam, syair atau puisi yang berkenaan dengan Tun Fatimah. Antologi puisi tentang Tun Fatimah, saya kira tak lah terlalu sulit dan para penyair ataupun anak muda se Indonesia + Malaysia paling tidak akan selalu ringan tangan untuk menulis. Kalau DMDI bersedia untuk turun tangan untuk penerbitan buku itu, saya kerja ini tak lah sulit untuk diwujudkan.

Sebelum kami bersurai, Amir Hamzah setengah bertanya … apakah kita perlu ziarah ke Makam Sultan Mahmud di Pekantua, siapa tahu ada makam lain di sebelahnya ?

Comments (1)
Add Comment
  • Taslim

    sukses selalu Prof Husnu Abadi