A. Aris Abeba, Saye ini Ahli Pantun, Tak Usahlah Banyak Berpantun: oleh Dheni Kurnia

Dheni Kurnia

WAKTU saya melamar istri saya, 1992, saya membawa paman dan Abang saya Alhaj Aris Abeba ke rumah keluarga perempuan. Ikut juga beberapa famili membawa tanda lamaran seperti cincin dan alat-alat rumahtangga.

Ketika kami datang, di ruang tamu sudah menunggu ninik mamak perempuan sekitar 20-an orang. Mereka datang dari Tapung, Kampar (pihak Ayah Perempuan) dan dari Pulau Rupàt Bengkalis (pihak ibunya).

Setelah kami disilahkan duduk, maka becakaplah orang yg ditunjuk sebagai juru bicara, pihak perempuan; “Bukanlah tari sembarang tari/Ini tari serampang duabelas. Apa tujuan tuan datang kemari/tolong sampaikan supaya nak jelas,” ujarnya, sesuai meminang cara orang Melayu.

A. Aries Abeba

Mendengàr pantun ini, Bang Aris Abeba langsung berdiri dari duduknyà. Katanya dengan keras sesudah mengucapkan salam; “Saye Aris Abeba. Semua orang di Riàu ini tahu, kalau saye ahli pantun dan puisi. Jadi, tak usahlah berpantun-pantun di sini. Nanti tidak akan terlawan oleh tuan-tuan. Saye kemari nak melamarkan anak bapak/ibu untuk adik saye ini. Kalau diterima, alhamdulillah. Kalau tidak, ayo kite balek Dhen,” katanya.

Ruangan lalu menjadi diam. Bang Aris lalu memandang saya. Saya pun menunduk karena salah tingkah. Tapi tak berapa lama, tiba-tiba ada yang bertepuk tangan. Lalu dia berkata sambil tertawa, “Hahaha. Saya kenal Tuan Aris Abeba ini. Terima sajalah lamarannya. Usah bepantun-adat lagi. Jom, mari kita makan. Dingin pulak nasi nanti.” ajaknyà, yang belakangan saya diberitahu, itu adalah paman calon istri saya yang datang dari Rupat.

Mendengar ucapan ini, ibu-ibu juga menimpal dari dapur. “Iye. Marilah kite makan. Kami masak banyak. Tak habis, boleh bawak pulang. Calon menantu ini, dah kenal lame dengan anak kite dah. Mereka same kuliàh di Unri” ujàr ibu itu dari belakang.

Para ninik mamak, lalu tertawa semuanya. Bukannya malah marah. Suasana menjadi cair. Tapi Bang Aris belum juga duduk. Kemudian kami dengar dia bercakap, “Dulu, orang-tua atau bapak Dheni Kurnia ini, Ayah kandung saya yang mencarikan jodoh serta melamarkan ibunya di Airmolek. Zaman modern sekarang, Dheni sudah bisa mencari sendiri jodohnya. Tapi dia meminta saya yg melamarkan. Jadi saye setuju. Itung-itung dari bapak turun ke anak. Assalamu’alaikum. Ww.

Bang Aris lalu duduk. Begitu bersila, dia kembali melihat saya. Saya pun, lalu menyalaminya. Dia mengerdipkan mata kepada saya. Tàpi saya hanya tersenyum. Ilmu yang tak pernah saya duga-duga. ***

Dheni Kurnia adalah sastrawan dan wartawan. Buku puisinya Bunatin memenangkan Buku Puisi Terbaik Indonesia HPI tahun 2018

Comments (0)
Add Comment