Berkerut dahi, memicing mata, mengetuk-ngetuk kaki dan kepala bahkan apa saja yang dijumpai telunjuk serta sedikit tengadah dagu.
Saat itu sepi suara sapu, segelintir saja yang menyangga kepala dan dagu.
Sepi canda tawa, yang keluar dari mulut justru hal penting penting saja dengan muatan lisan sesampainya, sambung menyambung dalam bentuk pengantar paham.
Tidak ada yang sama, yang disisipkan secukup kulit mati kera, kupasan bilah pisau, gigi dan sembilu, namun biji dilempar sejauh ayunan tenaga, ada yang tenggelam, ada yang hanyut lalu mengakar senyaman semai jadi pulau, persemayaman Bangsa Paruh dan Lata.
Antara Balad Ballad dan Balada serangkai suara dalam serak, berkisah keluh kesah diusung saung-saung.
Di ujung kota-kota bertabuh riang bersama Si Paruh dan Si Lata dengan geliat bugar di akar segar sambil menyimak ‘Ada hijau ada kicau’.
Bangsa Susu setuju, seraya mengibas ujung rambut tulang belakang, ditambah kesepakatan Bangsa Buku sambil ngemil daun muda dan bunga-bunga.
Lucunya, Bangsa Sirip ikut melompat kegirangan, berkecipak di cermin rimbun rimba.
Tenang sebentar
Ada suara Makhluk Dua Alam
Mungkin mau pesta kawin.
Batang Duku, 6 November 2023