Benci dan cinta adalah dua hal yang sangat berlawanan, namun kadang dua hal ini bisa saja saling bertukar posisi. Tergantung kondisi yang mempengaruhinya. Ada yang mulanya kita benci lalu jadi cinta. Namun juga ada yang awalnya kita cinta atau bahkan sangat sayang, tapi kemudian memusuhinya, setelah tahu cela dan kekurangannya. Maka sederhanakanlah keduanya dan berlaku adillah.
Benci yang berlebihan akan menimbulkan gelap mata. Sedangkan cinta yang berlebihan akan mengakibatkan kekecewaan. Karena itu, apabila kita membenci seseorang atau sesuatu, jangan biarkan rasa benci itu menguasai hidup kita. Sebab suatu saat nanti boleh jadi rasa benci itu berbalik menjadi cinta. Begitupun sebaliknya, apabila kita mencintai seseorang jangan biarkan sedikit kesalahan membuat kita membencinya. Karena cinta yang sesungguhnya tak pernah menyimpan dendam dan selalu tulus memaafkan kesalahan sekalipun kesalahan itu terasa sangat besar dan menyakitkan. Sebaliknya benci yang disertai sikap adil selalu mengharapkan hadirnya kebaikan yang akan mengubahnya menjadi cinta.
Rasulullah SAW adalah orang yang paling membenci kekufuran. Akan tetapi beliau tidak membenci orang-orang kafir seperti beliau membenci kekufuran mereka. Beliau selalu bersikap adil terhadap mereka. Kepada Suraqah yang membuntuti beliau untuk membunuhnya ketika sedang dalam perjalanan hijrah menuju Madinah. Beliau berkali-kali menolongnya di saat kaki kudanya Suraqah terperosok ditelan pasir. Tapi lihatlah apa yang terjadi, para pembenci itu kemudian berbalik menyayangi beliau sepanjang hidup mereka.
Buya Hamka pernah di penjara oleh Presiden Republik Indonesia Pertama Soekarno karena tidak menyukai pemikirannya. Tapi ketika Soekarno meninggal, Buya Hamkalah yang memimpin shalat jenazahnya. Benci pada sesuatu yang kita anggap salah dan mengandung cela itu harus. Dan cinta kepada hal yang kita anggap benar juga mesti. Tetapi berlaku adil, seimbang, dan tidak melampaui batas pun sangatlah penting, agar suatu saat nanti, bila ternyata pandangan atau pikiran kita ada yang harus direvisi, kita tidak merasa berat untuk melakukannya. Sebab itu, bencilah sekadarnya dan cintai pula sekadarnya. Bencilah karena Allah dan cintailah juga karena Allah.
Benci dan cinta adalah perasaan yang tentu dimiliki semua orang. Tak peduli kaya atau miskin, berkuasa atau rakyat jelata, laki-laki atau perempuan, kecil atau dewasa semua memiliki potensi benci dan cinta dalam dirinya. Benci dan cinta adalah anugerah dari Allah SWT yang ditanamkanNya dalam diri kita. Namun begitu, jika kita tak pandai mengelola dan menempatkannya, ia bisa mendatangkan petaka dan penyesalan. Ia bisa menjerumuskan kita. Ia bisa memperlihatkan kekonyolan-kekonyolan kita. Maka agar benci dan cinta menjadi mulia dan mendatangkan pahala, dia harus selalu disandarkan kepada Allah SWT. Hanya benci dan cinta karena Allah SWTlah yang paling utama dan akan mendatangkan kebaikan. Karena itu kita harus selalu bisa mengoreksi dan merekonstruksi kembali rasa benci dan rasa cinta yang kita miliki, yang kita tujukan kepada seseorang atau sesuatu hal. Karena sesungguhnya amal yang paling tinggi adalah membenci dan mencintai hanya karena Allah SWT.
Benci dan cinta bukanlah semata kebebasan memilih. Benci serta cinta itu telah ada aturannya di dalam Islam. Siapa atau apa yang boleh dibenci dan dicintai, bagaimana cara mencintainya, dan apa ketentuan Allah SWT dan Rasul-Nya dalam metode membenci dan mencinta. Jika dalam hidup ini kita mendapati sesuatu yang memang tak memberi manfaat bahkan menciptakan mudharat, maka jauhilah. Kalau memang agama ini memberikan aturan untuk membencinya maka bencilah. Bencilah sesuatu yang harus dibenci dan cintailah sesuatu yang pantas dicintai. Sebab menyanyangi sesuatu yang hanya akan memunculkan mudharat, sama halnya kita membinasakan diri sendiri, dan mencintai sesuatu yang tidak layak dicintai sama artinya kita membenci Allah SWT dan Rasul-Nya.
Dalam sebuah hadist, sikap seperti itu adalah hal yang bahkan harus dipinta kepada Allah SWT. Rasulullah SAW dalam sabdanya mengajarkan do’a “Ya Allah, cintakanlah kami akan keimanan dan jadikanlah ia hiasan dalam hati-hati kami, dan jadikanlah kami membenci kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan (HR. Ahmad). Allah SWT juga menjelaskan dengan gamblangnya perihal sifat benci yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang-orang yang di luar kalanganmu (bukan seagama) sebagai teman kepercayaanmu, (karena) mereka tidak henti-hentinya menyusahkan kamu. Mereka mengharapkan kehancuranmu. Sungguh, telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang tersembunyi di hati mereka lebih jahat. Sungguh, telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya” (QS. Ali Imran [3] Ayat 118). Di Surat Al-Kautsar [108] Ayat 3 Allah SWT juga menjelaskan perihal sifat benci “Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah)”.
Di sekitar kita terlalu banyak hal-hal buruk yang harus kita benci. Terlalu melimpah maksiat yang harus kita jauhi. Dan benci kita kepadanya haruslah selalu awet dan bertahan sampai kapanpun. Benci kita pada hal-hal yang telah jelas diharamkan Allah SWT tak boleh luntur, apalagi sampai berubah menjadi cinta. Begitupun perkara-perkara yang seharusnya kita cintai, janganlah sampai kita membencinya, apalagi mendustakannya. Nauzubillah.
Andai ternyata hari ini ada benci kita yang berubah menjadi cinta atau cinta kita beralih menjadi benci padahal Allah SWT dan RasulNya mengharuskan sebaliknya, maka segeralah kita membenahi benci dan cinta itu. Karena sekali lagi, dalam wilayah ini, benci dan cinta bukan semata kebebasan memilih tapi akan ada konsekuensi yang mungkin segera menimpa kita. Kita tentu tidak ingin hati ini menjadi hitam legam lantaran benci dan cinta yang salah. Tapi yang kita inginkan, kita mau hidup ini dihiasi dengan cinta dan benci yang memberi kebahagiaan dan rasa aman. Sebab itu, tatalah benci dan cinta kita, agar keduanya tidak membuat hidup kita semua hancur dan binasa baik di dunia maupun di akhirat. Wallahua’lam bi al- Shawab.
*Guru MTsN 1 Bengkalis & Alumni Program Magister PAI-IAIN Datuk Laksemana Bengkalis