Aroma Tembakau: Cerpen Uleceny Saguni

Aroma udara pagi pedesaan, menyajikan sensansi yang menyegarkan rongga-rongga dada. Membuka paru-paru setiap yang bernafas menerima udara bersih, memang, waktu subuh selalu menjanjikan kejernihan hati dan pikiran.

Mobil merah maron, melaju dengan batasan standar menjemputku pulang, dari rumah sakit provinsi Nusa Tenggara Barat. Rumah sakit ini, sebuah bangunan baru yang di bangun di bagian timur kota Sumbawa Besar. Panggilan jiwa sosialku yang terlalu kebangetan, memanggilku tidak bisa kutinggalkan keponaan yang akan melahirkan dan keputusan akhir aku menanti sampai dia melahirkan seorang bayi mungil perempuan.

Berawal dari kejadian lalu, menjadi pemikiran seorang perempuan berusia empat puluh delapan tahun. Usia yang matang dalam bagaimana mengasuh anak, mendidik anak-anaknya menjadi jauh lebih hebat. Ternyata itu belum cukup ada jaminan keberhasilana, setiap individu mampu mengasuh anaknya menjadi baik.

Ketika langkahku salah dalam mengawali setiap aturan dan prinsisp-prinsip hidup untuk anak-anakku, maka pasti akan salah selamanya. Untuk bisa menjaga semua itu kejujuran dan keterbukaan pastilah menjadi pondasi dasar yang harus di pegang oleh kita para orang tua dalam mendidik anak-anak kita.

Sebanyak apa tantangan yang terhampar di masa generasi Z, ini di antaranya, mudahnya anak-anak mengakses segala informasi baik yang bersifat positif ataupun yang bersifat negatif. Informasi yang positif untuk dapat dipahami oleh anak. Maka kita, sebagai orang tua, berusaha menjadi teman dalam tim diskusi anak-anak kita, mengarahkan, membimbing, menjadi teman, menjadi pengerem dalam setiap jalur yang salah bila mereka akan melaluinya.

Pengendalian diri pada tiap anak sangat diperlukan, semua akan berakar dari rumah. Sebaik-baiknya benteng dalam peperangan di zaman ini, untuk menjaga anak-anak kita bukan di sekolah, bukan di pondok, bukan di komunitas,bukan pula di pemerintahan tapi benteng akhlak yang paling kuat dasarnya ada di dalam rumah kita sendiri. Rumah adalah hunian jiwa raga yang paling nyaman buat anak-anak yang akan menjadi penerus diri kita sebagai orang tua.

Semua hal-hal yang ada di benak perempuan hampir setengah abad ini adalah ketakutan yang sangat mendasar di zaman ini. Dan tantangan yang akan dihadapinya dalam mendidik putra putrinya.

Dalam pikiranku. “ Akar mati pohon mati, akar tumbuh pohon hidup.” Begitulah aku menjadikan anak-anakku. Aku harus menghidupkan semua akar-akarku, agar pohon-pohon yang kutanam tumbuh menjadi baik, sehat ,dan selamat. “Sekali lagi anak-anakku, kalian harus menjadi akar tumbuh pohon hidup.”

**

Selepas beberapa menit kemudian, ruang persidangan adalah tempat mencari keadilan sejati.

“Semuanya berkumpul di ruang keluarga!” terdengar suara perintah dari seorang perempuan yang berpostur tubuh tinggi besar, wajah khas pesisir nan tegas pula.

Ruang keluarga tertata mejanya dengan rapi, ada pas bunga di pojok ruangan itu, dan perabotan seadanya yang membuat ruangan itu berukuran lebih luas dari ukuran ruang keluarga biasanya. Nampak sekali kalau pemilik rumah ini sangat sederhana namun bersahaja, perempuan yang berumur hampir setengah abad ini berjalan tegas, dengan tatapan yang tegas pula menuju tempat duduknya yang sudah tersedia sedari dulu.

Ketiga lelaki yang berbeda usia ini mengambil posisi yang ditentukan pula. Ada tawaran dari perempuan hampir setengah abad ini, yang biasanya para lelaki itu menyebutnya Inaq ( panggilan ibu dalam masyarakat Sumbawa). Tapi hari ini, inaq menentukan langsung siapa yang menjadi pembela dalam kasus ini. Lelaki ketiga yang berusia 8 tahun, lelaki kedua yang berusia 12 tahun, dan lelaki kesatu berusia 15 tahun. Serta lelaki berumur setengah abad sebagai penuntut. Situasi ruangan keluarga hari ini agak tegang, namun perasaan berada di dalam rumah yang akrab tetap terjaga dengan baik, karena Inaq menjaga situasi itu tetap sehangat hati perempuan tangguh.

Aroma tembakau sungguh menggiurkan bagi para penikmat, tanpa tembakau sehari saja, hidup menjadi sepi bagi para lelaki yang memiliki citarasa baik terhadap tembakau.Tembakau selain menjadi candu dalam menikmati hidup para penyukanya, bisa mejadi sumber inspirasi, tapi bagi anak-anak yang beranjak dewasa bukan menjadikan dia sesuatu yang baik, namun akan menjadi tidak baik buat perkembangan badannya atau fisiknya, mentalnya,dan lain-lain.

“ Sepertinya ada aroma tembakau dari dalam kamar mandi,” suara lelaki setengah abad, menjelaskan apa yang diciumnya dari kamar mandi.

Mata curiga mulai tertuju pada anak lelaki kesatunya. Setelah sampai di rumah sekembalinya dari menjemput perempuan setengah abad, lelaki setengah abad langsung masuk ke kamar mandi, dan melihat lelaki kesatu menyambutnya pulang sambil membawa segelas kopi.

“ Kenapa pagi-pagi ngopi nak, kamu belum sarapan?” ucap perempuan itu,

Hati inaqnya, langsung tertuju pada gelas yang dipegang anaknya, spontan pikirannya melayang kemana-mana.namun anaknya menjawab seadanya.

“ Ingin, ngopi pagi ini Inaq,” jawab anaknya pula.

“Jangan biasakan diri kamu minum kopi nak, usiamu belum cukup,.ditambah lagi ini ada aroma tembakau dari kamar mandi,” inaq berceloteh panjang lebar memulai celotehnya tentang bahaya tembakau pada anak remaja yang akan memasuki masa puber pertama.

“ Itu bapakmu, yang tahu persis seperti apa kamar mandi kalau ada aroma rokok.”

Itulah awal rapat yang agak menegangkan di ruang keluargaku hari ini.

***

Rasa curiga yang membuat pikiran seorang inaq melayang-layang ke mana-mana. Mulai menyelimuti setiap langkahnya dalam seharian penuh. Dan bapaknya dari anak-anakku, masih pula mempertajam pertanyaannya, ”siapa yang merokok pagi ini, sementara aku semalam tidak masuk di kamar mandi itu,” gumam lelaki setengah abad yang di panggilnya bapak oleh ketiga putranya. Kamar mandi di rumah ini, ada tersedia kamar mandi khusus untuk kedua orang tua, ada buat anak-anak dan satu lagi tersedia buat tamu yang mampir berkujung ke rumah mereka. Bapak setengah abad ini tidak menerima kenyataan kalau anaknya terjerumus ke dalam kebiasaan buruk yaitu merokok. Ia merasa gagal sebagai orang tua.

Tapi ada yang aneh, kamar mandi beraroma tembakau.

“ Randi,, sini nak.” Suara lelaki setengah abad di ruang keluarga atau ruang persidangan ini. Sementara Randi duduk dengan wajah cemas di hadapan bapaknya.

“Iye (dalam bahasa Sumbawa) bapak.”

“Nak, kamu sekarang masuk puber pertama. Usia abang kan sudah 15 tahun, jangan sekali-kali belajar menghisap tembakau. Bapak takut kalau abang sudah mencoba atau ingin belajar.”

“ Abang belum merokok bapak, cuman penasaran.”

“Berarti abang coba?”

“ Ngak, bapak. Abang tahu apa yang dibolehkan sama apa yang tidak. Abang tahu hadistnya, selama abang di pondok tentang jujur dan tidak itu abang pelajari bapak.” Randi teringat temannya kemarin, teman kelasnya mulai belajar memulai seperti apa merokok. Kata mereka merokok itu nikmat.

“ Baik abang, kalau sampai abang mencoba merokok sekali saja, maka abang akan ketagihan dan itu namanya kecanduan, paham! Namun bapak menuntut kejujuranmu terhadap apa yang menjadi kecurigaan bapak, karena ibumu pasti menjadi hakim dalam permasalahanmu ini.”

Di antara dua lelaki itu, terus terjadi perdebatan namun tidak ada tanda pengakuan anak kesatu kepada bapaknya.

“ Sudah selesai dewan penuntut.” Suara perempuan setengah abad.”

“ sudah, hakim yang mulia.”

Andi yang berusia 12 tahun, adik Randi yang selama duduk di ruang tamu tadi hanya diam dan mendengar percakapan bapak dan abangnya.Tiba-tiba berdiri dan berkata,” bapak abang Randi tidak jahat! Abang mungkin penasaran. Ada beberapa teman abang juga mulai belajar, adik lihat kemarin di tikungan jalan itu, sewaktu adik pulang sekolah setelah ashar.”

Semua mata tertuju pada Andi. Suara kecilnya penuh keberanian dan kepedulian. Randi merasa terharu mendengar pembelaan dari adiknya. Sementara ia sendiri berusaha untuk tidak jujur pada diri sendiri.
Dia paham kalau inaqnya tahu, ketika sewaktu-waktu inaq masuk ke kamarku. “Menghisap aroma nafasku di waktu tidur.”

“ Sudahlah, anak-anakku. Tinggal kejujuran abang yang sebenarnya inaq bapak tunggu.” Suara perempuan sebagai hakim dalam siding mulia ini.

“ Abang Randi, ngomong abang. Kami tahu, kalau abang tidak mau mengecewakan bapak.” Suara Andi menguatkan abangnya.

Randi tertunduk. Beberapa saat ruangan menjadi hening, ibu setengah abad mengambil alih pembicaraan. “ Bapak, biar abang Randi mencoba menjelaskan kenapa dia mencoba belajar merokok, toh juga semua orang pernah melakukan kesalahan, namun mereka berusaha untuk jujur pada diri sendiri dan berusaha memperbaiki segala kesalahan yang telah dilakukan. Randi anak inaq juga harus demiakian, kalian semua harapan inaq bapak sebagai buah yang dilahirkan oleh kami kedua orang tua kalian anak-anakku”

Randi akhirnya mengangkat wajahnya dan berbicara pelan.” Bapak,Inaq, abang hanya penasaran, ingin tahu seperti apa rasanya, dan teman-teman abang, menekan abang untuk mencobanya. Maafkan abang ya inaq bapak.”

Bapak setengah abad menghela napas panjangnya ia menyadari bahwa ketegasan tanpa pengertian tidak akan menyelesaikan masalah. Sebagai orang tua kita sebaiknya melakukan langkah-langkah bijak dalam menangani permasalahan anak-anak kita, kita perlu menstabilkan identitas anak kita, memvalidasi tindakan yang salah dan menanyakan kembali keyakinan baik apa yang ingin dicapai dalam hidupnya. “ Baiklah anak-anak ambil hikmah pelajaran tentang bagaimana candu tembakau mencoba menggoda kalian.” Lalu_

Perempuan setengah abad mengeluarkan makanan kesukaan anak-anaknya dari dapur, dan suasana langsung mencair. Randi merasa bersyukur atas dukungan keluarganya. Tanpa Inaq bapak dan adik-adiknya ia bukanlah siapa-siapa. Dalam hati ia berjanji untuk lebih hati-hati dan tidak mengulang lagi kesalahan yang sama.

_Dialah inaq, bapak terbaik bagi kami,damainya keluargaku.teruslah menjadi akar-akar hidup dan pohon yang tumbuh dalam kebaikan.

Sumbawa, 231024

Glosarium: Inaq artinya ibu ( bahasa Sumbawa)

Sulastri Saguni, dengan nama pena Uleceny Saguni, dilahirkan di Sumbawa 5 juli 1976, Seorang guru Matematika dengan hobby menulis puisi, cerpen, sudah menerbitkan 3 buku antologi antologi puisi tunggal dengan judul ” Rindu Perempuan Rumah Panggung” dan ” Cinta Sebening Madu. ” Serta ” Perempuan penjaga Tradisi. ” Admin NTB menulis syair ASEAN di PERRUAS. aktif di menulis bersama di Dewan Sastra Jakarta, pendiri Komunitas Sastra Sumbawa PANRE SATERA SUMBAWA,menulis cerpen bersama KMB.

Comments (0)
Add Comment