Bahasa Indonesia Pada Sidang ASEAN: Catatan Shafwan Hadi Umry

PM Malaysia, Ismail Sabri Yaakob sebelum digantikan PM Anwar Ibrahim pernah mengusulkan Bahasa Melayu dijadikan bahasa resmi ASEAN. Alasan sederhana, Bahasa Melayu banyak digunakan dalam bahasa lisan dan tulisan. Bahkan di negara jiran lain seperti, Singapura, Brunei, Filipina dan Thailand Selatan.
Indonesia melalui wakil pemerintah Mendikbud RI menolak. Oleh karena Bahasa Melayu berbeda dengan bahasa Indonesia. Walaupun bahasa Indonesia berakar dari Melayu, namun dalam perjalanannya mengalami transformasi yang luar biasa.
Alasan sederhana juga, penutur bahasa Indonesia jauh lebih banyak dari Melayu. Bahasa Indonesia sudah banyak diajarkan di sejumlah kampus di negara lain. Justru Indonesia malah sedang berusaha menjadikan bahasa Indonesia menjadi bahasa resmi dunia. Bahkan, pada 24 Mei 2023 lalu, Bahasa Indonesia diusulkan oleh UNESCO untuk menjadi salah satu bahasa dalam sidang PBB pada November 2023. Hal ini berarti bahwa bulan depan, bahasa Indonesia telah disetujui untuk menjadi salah satu agenda dalam sidang PBB.
Sidang KTT ASEAN baru saja usai di JCC Jakarta awal September 2023). Ada hal yang menarik di perhelatan para pemimpin Asia Tenggara itu yaitu penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Melayu
Presiden Jokowi, selalu menggunakan bahasa Indonesia di forum internasional. Kadang juga bahasa Inggris. Walaupun logat English-nya tidaklah sefasih bahasa Inggris standar PBB. Soal ini, Jokowi lebih mengedepankan bahasa Indonesia (Undang-Undang Bahasa Nomor 24 Tahun 2009).
Hal menarik dalam sidang itu bahasa Indonesia juga digunakan PM Timor Leste, Xanana Gusmao. Meskipun terbata-bata, ia penuh percaya diri menggunakan bahasa kita di hadapan kepala negara lain. Hal Ini membuktikan Timor Leste tidak mudah melupakan tetangganya, Indonesia.
Sisi menarik yang lain, PM Malaysia, Anwar Ibrahim yang lebih dikenal sebagai Perdana Menteri ke-10 menggunakan Bahasa Melayu, meskipun publik mancanegara juga tahu bahwa Datok Anwar jago berbahasa Inggris. Nah, di forum itu, sang PM-10 meminta izin ke Jokowi beliau menggunakan bahasa Melayu.
Hal ini jarang dilakukan PM Malaysia yang menggunakan bahasanya sendiri di forum dunia. Penggunaaan bahasa Melayu oleh PM-10 ini mendapat pujian dari publiknya sendiri. Ada kebanggaan berbahasa sendiri yang secara lantang diucapkan dihadapan para pemimpin dunia. Di sini, Malaysia juga ingin mempopulerkan bahasa Melayu di tingkat dunia.
Dari sudut penghuni alam keindonesian dan kemelayuan terbesar Nusantara pemakai bahasa Melayu moderen itu adalah bahasa Indonesia. Namun keberadaan bahasa Melayu sebagai bahasa pengantar utama bagi negara serumpun di Asia Tenggara ini perlu juga mendapat apresiasi yang konstruktif dan akomodatif.
Untuk mencari jalan keluar yang lebih apresiatif dan akomodatif .istilah bahasa Melayu Indonesia patut disebatikan sebagai istilah baku dan alternatif bagi bahasa pengantar resmi di Asean. Posisi Indonesia sebagai pengguna bahasa Indonesia yang terbesar dewasa ini yang asal-usulnya berasal dari bahasa Melayu perlu mengakomodasi kepentingan semua pihak untuk memartabatkan bahasa Melayu Indonesia sebagai jati diri berbangsa
Sama halnya kerjasama yang ulet dan gigih selama ini atas keberhasilan Malaysia dan Indonesia (Riau) yang menyimpankan warisan pantun di UNESCO Tahun 2020. Kita perlu mendahulukan “win-win solution” untuk mendaulatkan bahasa Melayu Indonesia sebagai bahasa pengantar resmi di ASEAN.

Penulis dosen dan sastrawan

Comments (0)
Add Comment