Benkahar dengan Puisi-Puisi Imajisnya: oleh Rida K Liamsi

Yang tak berluka, takkan menulis puisi“. Begitu sebuah aporismus tua yang rasanya sekarang ini, di era kehidupan digital ini, tetap masih relevan. Karena luka itulah kehidupan yang tak bisa dihapus oleh teknologi. Luka tetap ada dan terus terasa dan berdarah. Luka sejarah. Luka Adam dan Hawa. Luka sejarah kemanusiaan. Luka, yang meski dalam keceriaan pun, di tengah senyum pun, tetap nampak menyeruak, memberi ruang kesedihan tampil dalam sosok manipulatif nya. Selagi ada cinta, maka selagi itu ada luka.

Demikianlah dengan kumpulan puisi “Selendang Cindai Rembulan“ karya Benkahar (Armawi Khahar). Sebuah kumpulan puisi yang mendedahkan luka penyairnya. Luka cinta, luka rindu, luka keterasingan oleh waktu, oleh kehidupan, luka yang berdarah darah, luka dimana mana. Ngilu! Begitu saya selalu mengomentari puisi Benkahar ini, setiap saya selesai membacanya.

Benkahar sebenarnya lebih seorang perupa, ketimbang penyair dalam menghasilkan karya karyanya. Dia sudah menghasilkan beratus ratus lukisan, patung, karya grafis dan lainnya. Tapi dia baru menghasilkan 3 kumpulan puisi, yang dalam tiap kumpulan hanya sekitar 30 atau 40 puluh puisi, termasuk “Selendang Cindai Rembulan“ ini.

Latar belakang ini, membuat puisi puisi yang ditulisnya, lebih terasa sebagai lukisannya yang dilukis dengan kata kata. Yang garis dan warna, adalah metamorfosa dari luka nya sebagai penyair.

Puisi puisinya, seperti lukisan lukisannya, puisi puisi yang tampil dengan sapuah kuas warna warna yang resah, yang rindu, yang marah, yang luka, yang kecewa. Ujud dari semua lukanya, yaitu cinta. Karena itu, hentakan garis dan pilihan warnanya, seperti tertahan, terputus putus. Terhenti tapi tajam, menusuk di ujung ujung sapuannya, meskipun dengan sapuan kuas yang dinamis. Pendek pendek tapi puitis. Putus putus tapi tajam dan imajis .

Gaya lukisan yang demikian itulah terasa dan mendominasi puisi puisi Benkahar dalam kumpulan ini. Diksi-diksi yang tajam, tapi terputus putus. Perlu alur imajinasi lain dan tafsir yang berakar pada alur kultur untuk menghubungkannya ke dalam frasa-frasa puitisnya. Frasa- frasa yang pendek, bahkan hanya sebuah kata. Seakan terlepas. Tersendiri, tapi melalui sambungan imaji lain, maka terasa ada hentakan emosi yang terpendam di sana. Luka yang dalam yang mengendap dalam methapor yang gelap, imajinatif. Seperti garis garis warna dalam lukisan. Cerah tapi suram. Lukisan surealis yang memerlukan kekayaan pemahaman untuk merasakan keindahan dan juga kepedihannya.

Sebagai seniman yang dibesarkan dalam kultur Melayu, puisi-puisi Benkhahar, terasa sekali kemelayuannya. Benkahar dilahirkan dan dibesarkan di Bagan Siapi api, di muara Sungai Rokan yang bersejarah. Salah satu pusat peradaban Melayu di jazirah tanah Melayu.

Kultur Melayu adalah kultur yang lembut, terbuka, asosiatif, yang selalu dapat membungkus semua makna dan endapan perasaannya dengan arif, melalui disksi yang nyaris tak kasat mata dan terasa purba.

Ada sungai, ada ombak, ada arus . Ada burung, ada angin yang seakan membawa semua diksi dan hentakan frasanya, entah kemana, tapi suasana yang ditimbulkannya, terasa menggerunkan dengan pilihan kata yang sudah sulit dicari dalam khazanah pergaulan sehari hari. Kata kata archais yang terputus putus. Bertengger sendiri seperti seekor burung yang hinggap di ranting petang. Yang tiba tiba muncul, yang tiba tiba berhenti dan meminta kita pembaca untuk menyerap suasana puitika yang ditimbulkannya , untuk menyambungnya dengan alur emosi dan latar sejarah kultural yang menyertainya.

Puisi puisi gelap? Bukan. Puisi puisi imajis yang frasa-frasanya dihuni oleh kabut perasaan yang memerlukan renungan untuk sampai pada kesimpulan: inilah luka cinta yang tak terkatakan. Senyap dan mengalir entah ke mana.

Lihatlah penggalan puisi ini :
Menunggu Dendam
………….
telah kulupa mantera itu kini
Isim lena pelukan- dulu !
hilang di kinyar mata
di kerling mata
tenggelam
– telah lalu, aku !

Atau puisi “Hulu Rindu“ , yang sangat imajis, dengan suasana arkhais:

.,,,,,,,,,,,,,,,,
Aku suka rakit di ujung boom
merenung ungu kiambang lewat
ranting menghilir awan larat
arus beracun menuba
aku sendiri

pusar di ulak membingkai sepi
pokok tumbang , di tebing sungai
makin ke hilirhilir menjauh
Engkau !

Hampir semua puisi yang terhimpun dalam kumpulan ini, menyajikan puisi puisi dengan suasana yang demikian. Yang mengajak pembaca yang ingin menikmati puisi puisi ini, untuk membawa serta semua khazanah pengalaman hidup, dan geliat luka yang ada di sana. Seperti imaji apa yang kita rasakan “di ungu kiambang yang hanyut menghilir“ , seakan ada luka ternganga di situ. Tertawa. Tapi juga memeram luka. Rindu.

Ada sebuah aporismus tua yang bilang begini: Perempuan dapat menyimpan rahasia cintanya bertahun tahun, tapi tak dapat menyembunyikan cemburunya meski sedetik. Tetapi, lelaki bisa menumpahkan rindunya dalam warna dan diksi puisi, meskipun diperlukan kearifan untuk memahaminya . Adakah begitu adanya puisi puisi Benkahar dalam “Selendang Cindai Rembulan “ nya ? Kita memerlukan imajinasi untuk menghubungkan makna Selendang Cindai dan Rembulan. Melalui terawang kain cindai, rembulan yang tampak, adalah rindu yang menoreh luka, cinta yang menggarami dendam.

Semua diksi dalam kumpulan puisi ini seakan berlarian untuk membangun aroma keindahan. Keindahan rembulan: Tapi kita memerlukan tafsir hidup yang penuh warna untuk memaknainya. Menyelaraskan frasa-frasa yang ada. Seperti kita menafsirkan warna dan sepotong garis dalam sebuah lukisan surealis. Shabas !

2026

*) Rida K Liamsi, seorang penyair, kini menetap di Tanjungpinang, Kepri. Sudah menerbitkan sejumlah buku puisi. Buku puisinya ROSE (Dwi Bahasa) memenangkan anugerah buku kumpulan puisi terbaik Indonesia pilihan Badan Bahasa. Kumpulan puisi terbarunya Qasidah Cinta untuk Fatma (2026).

Comments (0)
Add Comment