Beribu Gembira Sambut Datangnya Ramadan: Catatan Hendrizon

Setidaknya ada tiga sikap orang dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadan, yakni gembira (senang), sedih (tidak senang) dan biasa-biasa saja (tidak ada pengaruh).

Merasa sedih atau tak senang karena kebiasaannya mereka yang sehari-hari makan, minum dan sebagainya pasti tak dapat dilakukan lagi selama berada di Ramadan. Siang hari mereka harus berpuasa dan malam hari melaksanakan tarawih (Qiyamullail), pembicaraan dibatasi dan mereka dianjurkan pula untuk saling berbagi dan sebagainya.

Lalu mereka yang merasakan biasa-biasa saja atau tak ada pengaruh karena bagi mereka baik Ramadhan atau pun tidak hidup tetap dijalani berdasarkan keinginan sendiri, masa bodoh dengan orang lain dan bersetan dengan siapa pun yang jelas lu adalah lu dan gua adalah gua.

Namun bagi orang yang beriman dan bertaqwa datangnya bulan Ramadhan terdapat beribu rasa kegembiraan bahkan tak dapat diungkapkan dengan kata-kata sehingga yang terucap hanyalah kalimat Marhaban ya Ramadhan. Hal ini berangkat dari perkataan Nabi Muhammad SAW dalam sabdanya

مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ

Artinya: “Siapa bergembira dengan masuknya bulan Ramadan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk neraka.” (HR. an-Nasa’i).

Kabar gembira itu diawali dari HR. Muslim dengan teks hadist

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ، وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

Artinya, “Jika bulan Ramadan datang, maka pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.” (HR. Muslim)

Kabar kedua, menjalani ibadah Ramadan dengan penuh keimanan dan perhitungan segala dosa yang telah diampuni oleh Allah SWT. Berdasarkan Hadist:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ وَقَامَهُ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Artinya: Dari Abi Hurairah RA berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni. Dan siapa yang menegakkan (shalat pada malam) Lailatul Qadr dengan keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.”

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِه

Artinya: Dari Abi Hurairah RA berkata, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Ramadan dengan penuh keimanan dan mengharap (pahala dari Allah), maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni”.

Kabar ketiga mengatakan pada Ramadhan diturunkannya Kitab Suci Al-Qur’an (Nuzulul Qur’an). Surat Al-Baqarah ayat 185 berbunyi:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَالْفُرْقَانِۚ … – ١٨٥

Artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).”

Al Quran sebagai kitab suci yang teramat mulia diturunkan pada bulan yang mulia, maka terhimpun dua kemuliaan. Maka bagi siapa yang membacanya (mentadaruskannya) tentu memperoleh kemuliaan itu.

Kabar keempat segala amal kebaikan (Pahala) dilipatgandakan didalam bulan Ramadan, berdasarkan Teks Hadist Qudsi :

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا ، إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ ، قَالَ اللهُ تَعَالَى : إِلَّا الصَّوْمَ ؛ فَإِنَّهُ لِي ، وَأَنَا أَجْزِي بِهِ ، يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي ، وَلِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ : فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ ، وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ ، وَلَخَلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيْحِ الْمِسْكِ
Artinya: “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”

Kabar kelima terdapatnya malam Lailatul Qadar

وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ ۝٢ اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ ۝١
لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ ۝٣
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. (QS. Al Qadr: 1-3).

Malam ini merupakan salah satu waktu yang sangat dinanti oleh umat Islam. Pasalnya, malam ini disebut sebagai malam yang lebih baik daripada seribu bulan.

Kabar keenam, Ramadan merupakan waktu mustajab untuk berdoa
1. Ketika Sahur atau Sepertiga Malam Terakhir
Ini sesuai dengan yang tertulis pada Adz-Dzariyat Ayat 18:

وَبِالْاَسْحَارِ هُمْ يَسْتَغْفِرُوْنَ

Artinya: “Ketika waktu sahur (akhir-akhir malam), mereka berdoa memohon ampunan.”

2. Orang yang berpuasa sampai ia berbuka.

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ: الصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ، وَالإِمَامُ الْعَادِلُ، وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ يَرْفَعُهَا اللهُ فَوْقَ الْغَمَام، وَيَفْتَحُ لَهَا أَبْوَابَ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ: وَعِزَّتِي لأَنْصُرَنَّكِ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ

Artinya: “Tiga orang yang doanya tidak tertolak: pemimpin yang adil, orang yang berpuasa sampai ia berbuka, dan doa orang yang terzalimi, Allah akan mengangkatnya di bawah naungan awan pada hari kiamat, pintu-pintu langit akan dibukakan untuknya seraya berfirman: Demi keagungan-Ku, sungguh Aku akan menolongmu meski setelah beberapa saat.”

Ketujuh Ramadan Momentum memperbaiki diri
Menjalani ibadah puasa Ramadhan dituntut untuk tidak berbohong, menahan amarah, dan perbuatan-perbuatan tercela lainnya. Dengan kata lain mempuasakan mata, telinga, dan hati.

Kedelapan Ramadhan Saat yang Tepat untuk Bersedekah
Umat Islam sangat dianjurkan untuk bersedekah kepada sesama di bulan suci Ramadhan. Keutamaan bulan Ramadhan ini disebutkan dalam hadis yang berbunyi seperti ini:

أيُّ الصَّدَقَةِ أفْضَلُ قَالَ صَدَقَةٌ فَيْ رَمَضَانَ

Artinya: Rasulullah SAW pernah ditanya, “Sedekah apakah yang paling mulia?” Beliau menjawab: “Yaitu sedekah di bulan Ramadhan” (HR Tirmidzi).

Kesembilan, kesepuluh dan sebagainya yang mungkin tak dapat diungkapkan lagi dengan kata-kata tentang kelebihan yang dimilki oleh bulan Ramadhan. Maka wajar jikalau Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:

لَوْ تَعْلَمُ اُمَّتِيْ مَا في رَمَضَا نَ لَتَمَنَّتْ أُمَّتِي اَنْ تَكُوْنَ السَّنََة ُكُلُّهَا رَمَضَانَ

Artinya: “Seandainya umat manusia mengetahui pahala ibadah di bulan ramadhan, maka niscaya mereka akan meminta agar satu tahun penuh menjadi ramadan”. (HR Tabrani, Ibnu Khuzaimah, dan Baihaqi).

Oleh karena kita masih dipertemukan dengan bulan suci Ramadan, mari kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya demi mewujudkan kehidupan manusia yang berkeprbadian (Insan Kamil).

Bengkalis, 03 Maret 2025

Hendrizon Lahir di Bengkalis 17 Juli 1979. Bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil bagian Kehumasan pada Kantor Kementerian Agama Kabupaten Bengkalis. Pada 24 Februari 2024 resmi dilantik sebagai anggota Perkumpulan Rumas Seni Asrizal Nur (PERRUAS) Riau sebagai Koordinator untuk Kabupaten Bengkalis Masa Bhakti (2024 -2026). Mulai Aktif menulis sejak tahun 2021.No.Hp/WA 0813 6561 9584

Comments (0)
Add Comment