Berkunjung di Golden Triangle, Bekas Padang Opium milik Khun Sa di Pertemuan Tiga Negara Thailand, Laos dan Myanmar

Berkunjung di Golden Triangle, Bekas Padang Opium milik Khun Sa di Pertemuan Tiga Negara Thailand, Laos dan Myanmar

Oleh Tutin Apriyani

PERJALANAN ke Thailand tidak pernah menjadi agenda utama dalam daftar destinasi impianku, meski pekerjaan sebagai pramugari selama lebih dari satu dekade membuka pintu mengunjungi berbagai belahan dunia. Thailand hanyalah satu dari sekian banyak negara yang sempat aku singgahi, entah dalam tugas atau ketika hari libur.

Namun, setiap kunjungan ke Negeri Gajah Putih itu selalu meninggalkan kesan tersendiri. Thailand bukan hanya surga belanja dengan pusat perbelanjaan terkenal seperti MBK, Pratunam, atau Chatuchak. Juga kulinernya yang nyaman di lidah. Aku sangat menyukai kuliner yang rasanya hampir sama dengan taste negeri serumpun Asean. Tentu saja sepanjang dijamin halal.

Di utara negara ini juga, terbentang sebuah kawasan yang menyimpan kisah kelam dan misteri: Golden Triangle, atau Segitiga Emas.

Kami berpose di depan White Temple

Tahun 2012, aku bersama suami Fakhrunnas dan putra kami, Theo memutuskan untuk menjelajah bagian utara Thailand, tepatnya Provinsi Chiang Mai. Kota ini kerap dijuluki ‘Kota Bunga di Utara” karena tanaman bunga tumbuh subur.

Dari Bangkok, kami menempuh perjalanan darat dengan bus selama sepuluh jam. Perjalanan malam berangkat jam 11 malam, udara terasa semakin sejuk, dan sampai di Chiang Mai pagi hari. Suasana perdesaan dan perbukitan yang hijau menjadi sajian utama sepanjang perjalanan. Di sisi lain, ketika kami kembali ke Bangkok, kami memilih moda pesawat—dua jam penerbangan yang menghemat banyak waktu, tapi tentu saja, kehilangan momen romantik yang hanya bisa dirasakan lewat jalan darat.

Setibanya di Chiang Mai, dua hari pertama kami habiskan untuk city tour. Kota ini begitu memesona. Udara yang sama dengan Indonesia—namun tidak terasa panas karena daerah pegunungan, membuat kami betah berlama-lama di luar ruangan. Bunga-bunga bermekaran di taman-taman kota, dan lampu malam warna-warni, dengan penduduk/warga lokal begitu ramah terhadap wisatawan.

Namun, petualangan sesungguhnya baru dimulai pada hari ketiga, ketika kami mengikuti one day trip ke kawasan Golden Triangle. Nama ini sudah lama ku dengar, terutama dari brosur dan leaflet dan juga cerita dari teman-teman pramugari senior atau artikel yang pernah kubaca.

Dulu, kawasan ini dikenal sebagai pusat perdagangan opium terbesar di dunia, dan salah satu tokohnya yang paling legendaris adalah Khun Sa, “Raja Opium” dari Myanmar.

Kami berangkat pagi-pagi dengan mini bus yang memuat sekitar sepuluh orang. Rombongan kecil kami sangat berwarna: seorang profesor asal Korea Selatan, sepasang suami istri keturunan India dari Malaysia, empat gadis muda dari Tiongkok, seorang pelajar SMA dari Jerman, dan satu pemuda dari Israel. Aku senang mengamati orang, dan suasana internasional seperti ini selalu menghidupkan rasa ingin tahuku. Bahasa Inggris menjadi jembatan komunikasi kami, meski sesekali kami hanya saling melempar senyum dan isyarat tangan ketika kata-kata gagal menjembatani pengertian dan perbedaan.

Perjalanan menuju kawasan Golden Triangle memakan waktu sekitar lima jam, dengan tiga kali berhenti untuk istirahat. Salah satu perhentian yang paling berkesan adalah di sebuah pagoda indah yang berdiri megah di atas bukit yang bernama Wat Rong Khun Temple atau dikenal juga White Temple- Pagoda Putih. Apabila berpose-foto di kawasan ini, terlihat seolah-olah kita berada di awan.

Pagoda itu dipenuhi ukiran khas Thai, dindingnya berwarna keemasan dan tampak seperti mengambang di awan. Kabut pagi membuat suasana di sana terasa magis. Aku sempat terpaku cukup lama sebelum akhirnya berfoto bersama suami dan putra kami. Di tempat ini, aku merasa sangat kecil di tengah keindahan ciptaan Allah Yang Agung.

Perjalanan dilanjutkan hingga kami tiba di dermaga kecil. Di sinilah bagian yang paling aku tunggu-tunggu: menyusuri sungai menuju titik pertemuan tiga negara—Thailand, Laos, dan Myanmar. Kami menaiki kapal kayu bermesin, yang sudah diatur oleh pemandu wisata.

Suara gemuruh air dan deru mesin menciptakan harmoni yang unik. Kami menyusuri sungai kecil dengan airnya yang tidak begitu jernih selama kurang lebih setengah jam. Saat mendekati persimpangan sungai, kapal kami bergabung dengan rombongan-rombongan lain. Jumlah penumpang kapal yang bertambah, mendadak menciptakan semacam semangat kolektif akan petualangan. Sebab, ragam etnik dan bangsa semakin kaya.

Saat kapal mulai mendekati daratan Laos, pemandangan berubah drastis. Sebuah pasar tradisional menyambut kami. Itulah Mae Sai Market.

Lapak-lapak kayu berjejer rapi menjual aneka barang khas tiga negara: kain tenun Laos, rempah-rempah dari Myanmar, hingga kerajinan tangan dari Thailand. Ada juga minuman lokal dan makanan ringan yang khas. Kami diberi waktu sekitar satu jam untuk menjelajah dan berbelanja. Aku membeli beberapa souvenir.

Sambil berjalan di antara lapak-lapak pasar, aku membayangkan bagaimana kawasan ini dulunya menjadi tempat yang begitu tertutup, dikelilingi ladang opium yang dijaga ketat oleh pasukan Khun Sa. Kini, tempat yang dulu ditakuti dunia itu telah berubah menjadi destinasi wisata sejarah yang penuh pelajaran. Jejak gelap masa lalu memang tak bisa dihapus, tapi waktu perlahan mengubah kawasan ini menjadi lebih terbuka dan ramah.

Setelah puas menjelajah pasar, kami kembali ke kapal dan melanjutkan perjalanan kembali pulang. Dari sana, mini bus menjemput kami untuk kembali ke Chiang Mai.

Hari itu adalah hari yang panjang, tapi sangat berkesan. Aku merasa seperti menembus batas ruang dan waktu—dari hiruk-pikuk kota Bangkok, ke sejuknya pegunungan Chiang Mai, hingga jejak kelam di Golden Triangle yang kini penuh warna dan kehidupan.

Perjalanan ini mengajarkan padaku bahwa wisata bukan semata-mata tentang bersenang-senang. Ada pelajaran sejarah, ada nilai budaya, dan ada makna manusiawi yang tersimpan di tiap tapak perjalanan. Golden Triangle bukan sekadar pertemuan tiga negara, tapi juga pertemuan antara masa lalu dan masa kini—antara ketakutan dan harapan, antara kelam dan terang. Sampai bertemu lagi di cerita selanjutnya. ***

Hj. Tutin Apriyani, SE adalah pramugari maskapai pemerintah 1980-1993. Pernah melayani rombongan VVIP Presiden Soeharto. Kini menjadi Ketua WPI (Wanita Penulis Indonesia) Riau periode 2025-2030.
Comments (0)
Add Comment