Berwisata ke Raja Ampat: Gugusan Pulau dan Pesona Taman Terumbu Karang
Oleh Tutin Apriyani
HEBOH soal penambangan nikel di Raja Ampat kembali mengisi media massa awal tahun ini. Gugatan warga, aktivis, dan pemerhati lingkungan atas eksploitasi sumber daya alam di wilayah yang begitu kaya ekosistem laut ini menjadi alarm bagi kita semua. Raja Ampat bukan hanya destinasi wisata dunia, tetapi juga simbol keanekaragaman hayati laut yang tak ternilai. Ketika sejumlah izin tambang nikel di beberapa pulau kecil di wilayah ini dihentikan sementara, suara publik menguat: batalkan semua izin, lindungi warisan dunia ini.
Ingatanku langsung melayang ke penghujung tahun 2019, ketika aku dan suami memutuskan untuk berwisata ke Raja Ampat. Sebuah perjalanan impian yang selama ini hanya kami nikmati lewat buku, majalah pariwisata, dan layar kaca. Ketika akhirnya kaki ini menapak di Sorong, kami sadar, ini bukan dari sekadar liburan. Ini perjalanan ke salah satu titik terindah di bumi.
Perjalanan dimulai dari Jakarta ke Sorong, Papua Barat Daya. Penerbangan menempuh waktu sekitar lima jam dengan transit di Makassar. Begitu mendarat di Bandara Domine Eduard Osok, nuansa tropis langsung menyergap.
Peluh yang menetes tidak terasa sia-sia. Kami memilih menginap di salah satu hotel di tepian laut kota Sorong. Di sinilah denyut wisata Raja Ampat mulai terasa: perahu nelayan yang berseliweran, kapal feri siap menanti penumpang, dan speedboat wisata berlalu-lalang setiap pagi.
Dari balkon hotel, kami menikmati sarapan sambil memandangi debur air dan semilir angin yang membawa aroma laut. Suasana ini seperti melambai-lambai, mengajak segera menyeberang ke gugusan pulau Raja Ampat yang legendaris.
Awalnya, kami memutuskan untuk berpetualang sendiri ke Pulau Waisai, ibu kota Kabupaten Raja Ampat. Pagi hari sekitar pukul 08.00, kami menyeberang menggunakan speedboat selama kurang lebih 20 menit. Namun, pengalaman ini jauh dari ekspektasi eksotisme yang kami bayangkan. Kami menyewa dua ojek motor yang mengantar keliling pulau, dan akhirnya tiba di sebuah cottage tepi laut yang pernah menjadi tempat menginap Presiden Joko Widodo dan keluarga.
Tukang ojek kami bercerita tentang kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebelumnya. Bedanya, SBY memilih tinggal di kapal TNI yang bersandar di laut. Sepertinya kedua kisah ini menandakan pentingnya Raja Ampat dalam lanskap politik dan simbolik Indonesia.
Namun, kenyataannya, pengalaman mandiri tanpa paket tur kurang memuaskan. Gugusan karst (wilayah atau kawasan yang memiliki bentang alam khas yang terbentuk melalui proses pelarutan batuan oleh air), spot snorkeling, dan keindahan bawah laut yang kami buru justru tak terlihat dari pulau ini. Di sinilah kami belajar: untuk benar-benar menjelajahi Raja Ampat, harus ikut tur resmi.
Keesokan harinya kami mendaftar paket tur sekitar seharga Rp1,5 juta per orang. Harga ini termasuk makan siang, minuman, pelampung, alat snorkeling, dan sepatu sirip untuk diving ringan. Perjalanan dimulai pukul 07.00 pagi. Speedboat besar membawa sekitar 20 wisatawan dari berbagai kota.
Tujuan utama kami adalah Pulau Wayag, ikon Raja Ampat yang paling sering muncul di foto-foto promosi pariwisata Indonesia. Gugusan pulau karst dengan air sebening kristal menjadi latar sempurna untuk menyelam, berenang, atau sekadar duduk di tepian speedboat sambil merenung tentang betapa kayanya negeri ini.
Selain Wayag, kami juga menyambangi Arborek, sebuah desa kecil dengan keindahan laut yang memukau. Penduduknya menyambut wisatawan dengan hangat. Di dermaga kayunya yang panjang, anak-anak melompat ke laut dengan riang. Di spot ini kami snorkeling dan menjumpai hamparan terumbu karang yang masih alami dan penuh warna-warni. Ikan-ikan kecil berenang di antara anemon laut (hewan yang terlihat seperti tumbuhan) dan karang, seolah menari menyambut kami.
Sawinggrai, desa lainnya, menjadi lokasiburung cendrawasih, ikon fauna Papua. Dalam senyap pagi, pemandu kami menunjukkan pohon tempat burung jantan mempertontonkan tarian kawin di hadapan betina. Ini bukan pertunjukan wisata biasa, ini adalah pelajaran tentang keterhubungan manusia dan alam.
Raja Ampat dikenal sebagai jantung segitiga terumbu karang dunia (Coral Triangle). Dengan pemandangan yang sangat eksotis. Luas wilayahnya sekitar 4,6 juta hektar. Semoga bisa kembali lagi kesini dengan tidak banyak perubahan alamnya. Sampai jumpa dicerita selanjutnya.***