Hari Kamis, 9 Oktober 2025, sesuai dengan janji, kami bertolak dari rumah sastrawan nasional Fakhrunnas MA Jabbar, di Perumahan Sudirman Indah (PSI), sebelah timur Gedung Konsulat Malaysia, Jalan Sudirman, kami bertiga (saya, Fakhrunnas dan Arbi Tanjung) menuju Tempat Pemakaman Umum Lokomotif, Jalan Lokomotif, Pekanbaru. TPU ini berada di depan komplek sekolah, SMPN Nomor 7. Arbi Tanjung, seorang penulis yang sedang merangkai jejak perjalanan novelis pertama wanita Indonesia, Sariamin Ismail, sejak awal tahun lalu telah mempersiapkan diri dengan pengumpulan data awal. Sariamin Ismail, adalah penulis sastra wanita pertama di Indonesia, yang lahir di Talu, Pasaman, pada 31 Juli 1909. Ia seorang guru yang menamatkan sekolah guru (Meisjes Normaal School) Tahun 1925 dan sejak itu ia bertugas sebagai guru di Bengkulu, kemudian pindah ke Padang Panjang (1930-1939), lalu berpindah lagi ke Aceh (1939- 1941) dan sejak Tahun 1941 pindah ke Kuantan Sengingi (Riau) dari tahun 1941-1968 dan berakhir di Pekanbaru, sampai beliau pensiun dan wafat di 15 Desember 1995. Menurut Ensiklopedia Sastra Indonesia, Sariamin Ismail pernah menjadi Ketua Jong Islamieten Bon Dames Afdeling Cabang Bukittinggi Tahun 1928-1930 dan ketika di Riau pernah juga menjabat anggota DPRD Riau Tahun 1947-1948 (Hasanaudin WS: 2004; 723). Yang dimaksud dengan DPRD Riau tentu saja pada masa itu adalah Komite Nasional Indonesia Daerah, karena di Jakarta dibentuk suatu Komite Nasional Indonesia Pusat yang kemudian berperan sebagai parlemen (DPRRI).
Sehari sebelumnya, rencana kunjungan ke tokoh novelis dan penulis besar wanita Indonesia pertama ini, telah kami sampaikan kepada Ketua Wilayah WPI Provinsi Riau, Neni Apriantini SE dan juga ke sekretaris umumnya, Hening Wicara. Mereka menyambut baik ziarah yang penting ini, terutama menyangkut dunia kepenulisan wanita /perempuan, dimana organisasi WPI ini didirikan di Indonesia dan di Riau memang mempunyai misi khusus yaitu memajukan dunia kepenulisan di kalangan perempuan Indonesia. Menurut Hening Wicara, suatu hari nanti program ziarah ke makam tokoh sastra perempuan akan menjadi perhatian WPI, misalnya saja pada Hari Ibu, Hari Kartini, atau Hari Bahasa. Untuk diketahui, Ketua WPI Pusat adalah Dr. Free Hearty, seorang penyair dan cerpenis wanita terkenal di Indonesia, pernah menjadi wartawan di kota Padang, kini tinggal di Jakarta. Beliau ini adalah sarjana Sastra Inggris lulusan dari Universitas Gajah Mada. Pernah pula menjadi dosen di Fakultas Sastra Universitas Bung Hatta, Padang.
Kami masuk TPU Lokomotif dari pintu gerbang yang berada di tengah-tengah di tengah-tengah makam, dan Arbi Tanjung melangkah sekitar 15 meter dari pintu gerbang. Selain membaca doa ziarah kampi pun mengambil foto-foto untuk dokumentasi. Pada batu Nisan, tertulis secara jelas kata-kata sebagai berikut: Innalillahi Wa Inna Ilaihi Rojiun, Nenek Kami Tercinta, HJ. SARIAMIN ISMAIL binti LAUR. Lahir: Talu, 31 Juli 1909, Wafat: Pekanbaru 15 Desember 1995. Lalu dalam batu nisan yang sama tertulis: Ibunda Kami Tercinta, HJ. SURYAHATI ISMAIL binti Ismail, Lahir: Pekanbaru, 18 Januari 1943, Wafat: Pekanbaru, 28 Oktober 2017. Berarti dalam satu liang, dimakamkan dua jenazah, yaitu Sariamain Ismail dan anaknya tercinta Suryahati Ismail.
Makam suami Sariamin, terletak di ujung utara TPU, sekitar 40 meter. Kami menuju makam itu tidak melalui areal pemakaman, tetapi melalui jalan Lokomotif. Kami menaiki tembok TPU yang agak rendah, dan sekitar 5 meter dari tembok utara, dekat ke arah jalan, terletak makam pak Ismail. Di nisan itu tertulis kata-kata sebagai berikut: Innalillahi wa inna ilaihi roojiun, Kakek Tercinta, ISMAIL KAMAR, Lahir: 12 -8- 1912, Wafat : 09-05-1982. Kemudian pada nisan itu juga tertulis Suami Tercinta YOHANNES NOVIRION BIN NOVIRION, Lahir 08-10- 1977, Wafat : 21-07-2024. Hal ini berarti dalam satu liang terdapat dua jenazah, kakek dan cucu. Johannes Novirion adalah anak ke 2 dari Hj. Suryahati atau cucu dari Sariamin Ismail. Pak Ismail adalah seorang yang berasal dari Kuantan, bekerja sebagai kontraktor, yang menurut Arbi Tanjung, karena perkawinan itu menyebabkan kepindahan Sariamin Ismal ke Kuantan, sebelum ke Pekanbaru. Di Kuantan, Sariamin Ismail tetap melaksanakan tugasnya sebagai guru. Di Pekanbaru, Sariamin Ismail pernah mengajar di SMAN 1 Pekanbaru, dan pernah menjabat sebagai Kepala Sekolahnya.
KARYA-KARYA SARIAMIN ISMAIL.
Sariamin Ismail dikelompokkan ke dalam angkatan Balai Pustaka, seperti halnya Soeman HS, Nur Sutan Iskandar, Abdul Muis, Merari Siregar. Adapun karya-karyanya sebelum kemerdekaan adalah Kalau Tak Untung, sebuah novel terbitan tahun 1933, Pengaruh Keadaan, novel terbitan 1937. Setelah kemerdekaan, berarti ia telah pindah ke daerah Riau, ia menghasilkan karyanya antara lain Rangkaian Sastra (1952), Panca Juara (cerita anak, 1981), Nakhoda Lancang (1982), Cerita Kak Mursi (cerita anak, 1984), dan Kembali ke Pangkuan Ayah (novel 1986). Selain novel Sariamin Ismail juga menulis sajak/puisi antara lain dimuat oleh Sutan Takdir Alisyahbana dalam Puisi Baru (bunga rampai, 1946), Toeti Heraty (editor) dalam antologi Seserpih Pinang Sepucuk Sirih (1979), dan oleh Linus Suryadi AG (editor) dalam bunga rampai Tonggak 1, tahun 1987. (lihat Hasanuddin WS: 2004; 723). Dilihat dari tahun penerbitan karya-karyanya banyak yang dihasilkan di usia senjanya dan setelah pindah ke daerah Riau. Hal ini karena antara lain karena adanya dorongan yang terus menerus disampaikaan oleh menantunyaa, Ismid Hadad (memegang pengelolaa di Majalah PRISMA/LP3ES Jakarta). Dorongan itu berupa saran agar kesegaran rohani jasmani seseorang di masa tua tidak lekas menjadi pikun antara lain dengan terus menerus menggunakan pikiran, dan salah satu cara agar pikiran seseorang tetap digunakan adalah dengan jalan mengarang atau menulis.
Sariamin Ismail, sangat dikenal dalam dunia sastra, antara lain karena banyak menggunakaan nama samaran. Antara lain: Selasih, Sekejut Gelinggung, Seri Tanjung Dahlia, Seri Guning, Seri Gunung, Bunda Kanduang, mande Rubiah, Ibu Sejati, Seleguri. Mengapa demikian ? Menjadi penulis di zaman penjajahan tidaklah mudah dan juga tidak aman. Tantangannya adalah ditangkap oleh Belanda kalau tulisannya itu dinilai bisa menghasut rakyat banyak.
Salah satu kenangan saya (HA) dengan Sariamin Ismail adalah ketika berhasil melakukan wawancara bersama rekan Eddie Rinaldy (almarhum, Sarjana Hukum, pegawai Bank Indonesia, Jakarta) dan hasil wawancara itu dimuat Rubrik Sastra, dari Harian BERITA BUANA, hari Selasa, 3 Mei 1981. Beberapa hal yang saya tanyakan dijawab dengan baik oleh Bu Sariamin Ismail, di kediaman beliau, Jln. Cempedak, sebuah rumah di kompleks perumahan. Judul dari laporan wawancara itu adalah Sariamin Ismail Pengarang Wanita Pertama dan Pseudonimnya.
Tanya: Sekarang kami ingin mengetahui barang sedikit suka duka ibu semasa ibu masih kreatif dalam karang mengarang, terutama mengenai sejumlah nama-nama yang selalu ibu pakai.Apakah itu mempunyai cerita sendiri.
Jawab: Hal yang selalu menjadi ukiran kenangan saya yang sukar dilupakan adalah saya pernah menulis ketika saya sudah menjadi guru di Padang Panjang (Sumbar) pada sebuah majalah di Padang. Tulisan itu merupakan satu kritik terhadap kebijaksanaan pemerintah saat itu. Resikonya cukup besar, sehingga para pemuka masyarakat mencari tahu siapa penulis yang sebenarnya dari artkel itu. Karena saya memakai nama samaran ketika itu. Sebenarnya orang banyak tahu bahwa yang menulis artikel itu adalah saya, tapi untuk menangkap saya data yang kuat tidak ada. Akibatnya kepala kampung di daerah yang saya kritik itu turun tahta, sedangkan majalah yang memuat tulisan saya tadi dibredel (ditutup, pen). Saya telah mengakibatkan hilangnya izin terbit 3 buah majalah. Alasan atau sebab saya sering memakai banyak nama samaran adalah sewaktu saya menjadi redaksi sebuah majalah atau bulletin. Penulis masa itu takut-takuta. Saya harus menerbitkan majalah itu sehingga sayalah yang mengisi halaman-halaman majalah tersebut dengan berbagai nama samaran.
Itu adalah merupakan suka duka saya ketika saya giat dalam kegiatan lokal, tapi yang agak unik terjadi setelah kegiatan karang mengarang mulai ramai dan saya terlibat pula, yaitu sekitar tahun tiga puluhan. Saya pernah menyerang Sultan Takdir Alisyahbana yang waktu itu giat memperbaharui bahasa Indonesia. Akibat serangan saya ini menimbulkan polemik dengan STA, termasuk pula ketika itu Sutan Pamuncak, Tulis Sutan Sati dan lain-lain. Akhir dari polemik, STA meminta penundaan waktu sehubungan saya menulis surat pribadi kepadanya dan beliau terlibat dalam kegiatan lain. Saya masih ingat yang menjadi fokus sata pada saat itu adalah masalah kelamin kata, sepanjang yang saya ketahui hingga saat kini saya tidak menemukan ketegasan untuk ini.
Tanya: Apakah ibu mempunyai kesan lain ?
Jawab: Belakang ini saya pernah mengirim satu karangan saya yang saya tulis sekitar tahun 1949 kepada Balai Pustaka, tapi Balai Pustaka menolak tulisan itu, dengan alasan ejaan yang dipakaimasih ejaan lama. Tapi melalui surat pembaca dari satu surat kabar, yang ditulis oleh seseorang dan mendapat tanggapan oleh seseorang lain pula, Ia bersedia memperbaiki ejaan itu. Namanya Dra. Romlah Suhaidi dari Cirebon. Beliau itulah saat ini, yang mengerjakan tulisan saya itu dalam pembaharuan ejaan sehubungan saya tidak mempunyai kekuatan lagi melakukan pekerjaan itu. Pada Februari yang lalu, saudari Romlah telah mengirimkan lagi kepada Balai Pustaka, tapi sampai saat kini saya belum menerima keputusan apa-apa ( sambil memperlihatkan Tanda Terima dari balai Pustaka).
MEMBACA SARIAMIN ISMAIL.
Arbi Tanjung memang mempunyai rencana besar dengan mengangkat tema Membaca Sariamin Ismail. Dengan tekad yang besar, berbagai pihak bersedia membantunya, baik keluarga Sariamin Ismail itu sendiri, maupun rekan-rekan seniman sastrawan, baik yang berada di Sumatera Barat maupun yang ada di Riau. Bahkan bukan hanya itu saja, tempat-tempat sekolah dimana Sariamain pernah menjadi guru, turut menyambut niat baik karya kreatif ini. Diagendakan kerja besar ini, bia selesai di Tahun 2026. Arbi Tanjung memang mengharap agar Riau dapat mengambil peran yang besar dalam program ini, mengingat sebagian besar hidup Sariamin Ismail ada di Riau, bahkan jasadnya pun dikebumikan di bumi Riau. Sastrawan Kazzaini KS telah memberikan kesediaannya untuk ambil bagian dari program Membaca Sariamin Ismail, termasuk dengan penggunaan fasilitas perguruan tinggi seni Melayu yang beliau pimpin.
Sastrawan Fakhrunnas MA Jabbar menyambut gembira program ini. Sebetulnya, kata Fakhrunnas MA Jabbar, setelah selesainya penulisan biografi Suman HS (Bukan Pencuri Anak Perawan), akan dilanjutkan dengan penulisan biografi Sariamin Ismail. Bahan-bahan telah mulai dikumpulkan, dan nantinya pasti akan berguna dalam program besar ini bersama Arbi Tanjung. Sebagian tulisan tentang Sariamin ismail sudah ditulis, dan dimuat dalam majalah sastra budaya Horison ataupun koran Merdeka. Semoga kliping koran yang sudah banyak dikumpulkan tentang Sariamin Ismail, akan ditemukan dalam perpustakaan pribadinya yang menyimpan banyak koleksi sastra budaya.
Pekanbaru, 10 Oktober 2025
Penulis adalah penyair penerima hadiah Sagang Tahun 2015, pernah memimpin organisasi BKKI Provinsi Riau (2005-2025), dan penandatangan deklarasi Hari Puisi Indonesia di Pekanbaru (2012), serta pendiri Perkumpulan Penulis SATUPENA di Kongres Satupena di Solo (2017). Kini sebagai Penasehat Utama SATUPENA Wilayah Riau. Dosen Fakultas Hukum UIR, berstatus Associated Professor.