“Candi Arjuna” Rahim Kabut: Puisi Sekar Hartono

Pagi merangkak
dari rahim kabut.
Di punggung Dieng,
batu-batu menua
tanpa pernah menjadi debu.

Candi Arjuna,
sepotong langit
yang tertinggal di bumi,
aksara bisu
pada dinding waktu.

Lumut menghijaukan sunyi.
Gerimis menjahit celah batu.
Dari rongga yang gelap,
abad-abad mengembuskan
napasnya yang dingin.

Siapa yang meninggalkan sunyi
sedalam ini
di tengah gunung?

Di sini,
waktu tak berjalan.
Ia berakar,
menyusup ke tanah,
menjadi urat
di bawah telapak kita.

Dan kita,
yang datang hanya sebentar,
akankah pulang
dengan sesuatu yang lebih tua
daripada sekadar kenangan?

Atau justru
ada yang tertinggal dari diri kita,
sepotong usia,
sebelum kabut
menutup jalan pulang.

Purwokerto, 22 Oktober 2026

Sekar Hartono lahir di Jakarta dan kini menetap di kota kecil Purwokerto. Kegemarannya menulis bermula dari cerita pendek, yang kemudian membawanya untuk belajar mengekspresikan diri melalui puisi. Dalam proses itu, ia bergabung dengan komunitas Competer sebagai ruang untuk bertumbuh dan berbagi makna. Menulis pun menjadi jalan sunyi untuk menebarkan kebaikan ke semesta.

Comments (0)
Add Comment