Pahit Lidah Dalam Interaksi Simbolis | Catatan : Bambang Kariyawan Ys

PAHIT LIDAH DALAM INTERAKSI SIMBOLIS

Kami harus memusnahkan dengan nanah perih beserta tangisan nyawa

sebab, kami bukan pemuja yang agung setelah dirampas.

Penggalan puisi tersebut merupakan sebait puisi yang terdapat dalam naskah monolog “Pahit Lidah” yang ditulis oleh Joni Hendri. Ketika membaca sinopsis naskah monolog tercantum kalimat “Kisah monolog ini berangkat dari kisah nyata, matinya seorang aktivis bernama Abu Sofyan yang mengalami kecelakaan”, membuat saya menelusuri lewat internet lokasi,perusahaan, dan fakta informasi lainnya yang sekiranya dapat ditelusuri.

Ketika saya klik Penyalai maka hal informasi yang muncul seputar pro dan kontra pengalihan lahan gambut menjadi perkebunan sawit oleh perusahaan yang menebang hutan alam dan merusak gambut milik masyarakat di pulau Penyalai Kabupaten Pelalawan Riau. Penulis naskah mengingatkan pada kita semua tentang “sesuatu” akan pulau ini.

Pulau itu tempat orang-orang baik. Tapi yang baik bisa hilang karena uang. Lucu sekali, seperti hidup ini untuk besok. Tanpa memikirkan anak cucu yang masih mempunyai perjalanan panjang.

Interaksi Simbolik

Pahit lidah bersinonim dengan masin lidah, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti masin adalah perkataannya selalu dituruti (dikabulkan) orang. Naskah ini dalam kajian sosiologi dapat didekatkan dengan teori interaksi simbolik. Dalam hal ini “mitos pahit lidah” menjadi medium sentral dalam berperilaku masyarakat.  Masyarakat terpengaruh akan mitos pahit lidah dan membuat mereka memilih dan memilah dalam bertindak (berhati-hati).

Dalam sosiologi, menurut George Herbert Mead teori interaksionisme simbolik merupakan interaksi sosial yang terjadi karena penggunaan simbol-simbol yang memiliki makna. Simbol-simbol tersebut dapat menciptakan makna yang dapat memicu adanya interaksi sosial antara individu satu dengan individu lainnya. Simbol pahit lidah dalam naskah ini begitu mengikat alur cerita yang dimonologkan. Pemeran dengan bolak-balik berperan dan mengingatkan dahsyatnya efek mitos itu.

Pahit lidah sebuah simbol yang bermakna untuk menyatakan bahwa apa yang dikatakan oleh lidah manusia bisa saja benar-benar terjadi. Dan juga bisa menjadi doa yang akan terkabulkan. Bagi orang Melayu pesisir khususnya Penyalai, pahit lidah menjadi sesuatu hal yang sangat ditakutkan ucapannya.

            Simbol-simbol interaksi lain yang mempengaruhi alur cerita dalam naskah ini hadirnya suara sastra lisan orang Melayu. Senandung itu (meski dalam naskah tidak dinarasikan artinya) telah menguatkan interaksi antara masyarakat tempatan dan pihak perusahaan. Senandung itu menjadi simbol menyuarakan sesuatu yang ingin disampaikan. Selain simbolis perantara antara masyarakat dan perusahanaan, juga dapat menjadi simbolis perantara antara pelakon dan penonton monolog.

Sosiologi Sastra

Dalam naskah ini telah menguatkan kajian teori sosiologi sastra, bahwa latar belakang penulis sangat mempengaruhi atas karya yang dihasilkannya. Penulis naskah ini memiliki latar belakang berkarya dalam puisi turut memberikan sentuhan puisi dalam naskah ini. Puisi itu dimunculkan karena kegelisahan penulis pada tanah kelahiran. Namun, masyarakat tidak begitu antusias merespon peristiwa yang terjadi. Terutama orang-orang kampung yang tidak tahu semua kejadiannya. Penuh dengan kesia-siaan.

Di ujung teluk itu, hutan-hutan dibantai 

menggerogoti tanah-tanah para petani

tak ada sesal dalam hati dan perasaannya mengganas:

“Pukimak, orang-orang itu bagai hantu paku

sembunyi-sembunyi menutupi diri

saat Mak dan Bapak kami sedang menanam padi.”

Bertahun-tahun tanah kami menuai mimpi

memanen kelapa untuk negeri

maka, kami tumpahkan darah sebagai jihad

sebelum segalanya cacat

untuk mengungkai hal yang belum tamat:

“Tuan, makian apa lagi yang harus kami lantunkan

atau jangan-jangan kau sudah mendapatkan pembelaan?”

Alahmak, ada rasa curiga dari hulu, bisikan yang bertanak

seperti gelombang Teluk yang berkecipak.

Kami harus memusnahkan dengan nanah

perih beserta tangisan nyawa

sebab, kami bukan pemuja yang agung setelah dirampas.

Epilog

Pahit Lidah semakin mengokohkan bahwa tanah apapun variannya (gambut, ladang, kebun) adalah simbol interksi masyarakat Melayu. Simbol marwah dan harga diri yang harus diperjuangkan. Naskah dan pementasan monolognya menguatkan akan identitas itu. Tahniah!

Bambang Kariyawan Ys., Sastrawan.
Comments (0)
Add Comment