Catatan Perjalanan Gol A Gong (Bagian 8): Hanoi – Kunming Naik Kereta

Hanoi, goodbye. Pengalaman yang menakjubkan di Hanoi. Ho Chi Min, selain pelatihan travel writing di KBRI, jumatan di masjid Al Noor Old Quarter, nonton Train Street, Mbak Made Santi mengajak kami jalan kaki, wisata literasi. Kami mengunjungi:

1. Toko buku independen.
2. Hanoi Library
3. Pho Sach Hanoi (Hanoi Book Street)
4. Maison Centrale Hanoi (Museum penjara Perancis)

Aku masih terkesan dengan Hanoi. Kotanya bersih, walaupun lalulintas diwarnai klakson tapi tertib, dan memperhatikan pejalan kaki. Hanoi yang komunis ternyata tidak seseram yang dibayangkan. Jika kita nonton film perang Vietnam – propaganda Hollywood, terasa sekali Vietcong distigmakan kejam. Padahal Amerika yang kejam.

Lima hari di Hanoi jadi kenangan indah. Kami harus membuat kenangan yang lain di China atau Tiongkok. Maka 10 Januari 2026, kami naik kereta malam menuju Lao Chai, perbatasan dengan Yunnan, China. Tujuan kami ke Kun Ming, ibu kota Provinsi Yunan. Orang-orang merasa heran, kenapa kami tidak ke Sapa – Destinasi populer di para wisatawan mancanegara.

Jadwal Literacy Journey 12 Negara ini padat dan tentu hemat. China Negara keempat. Sapa kami coret dulu. Ada pelatihan travel writing di KBRI Beijing pada 18 Januari. Sedangkan kami akan mampir di Kun Ming dan Chongqing sebelum ke Beijing.

Di kamar kami, untuk 4 orang. Tempat tidurku dan Natasha di bawah. Di atasku Jordy, di atas Nat ada perempuan Vietnam.

Kereta melaju pukul 21:45. Kami terlelap tidur. Si Teteh di Beijing sudah siap memesankan taksi online jika sudah tiba di Kun Ming.

Kami dibangunkan kondektur. Kereta sudah memasuki stasiun Lao Chai. Setelah berkemas, kami naik taksi ke perbatasan. Sarapan dulu. Nasi ketan dan telur. Kami juga tukar uang ke Yuan. Interaksi di perbatasan ini kental dengan suasana transaksi tapi manusiawi.

Aku ingat pesan Bapak, seperti hal kita harus memakmurkan masjid, saat kita jadi traveler juga harus memakmurkan ekonomi di tempat. Misalnya menukar uang bisa saja di bank, tapi tentu kepada para pelaku bisnis di jalanan juga, itu lebih berdampak.

Ketika ada yang menawarkan jasa mengangkut 3 ransel dan 3 daypack, kami setuju. Perjalanan di 2 Imigrasi jadi ringan karena ada porter. Ini juga bagian dari memakmurkan para pelaku ekonomi di daerah yang kita lewati.

Di imigrasi Vietnam lancar. Semua tersenyum. Hanya saja seorang polisi mengingatkan agar aku membuka topi dengan lambang bintang – logo bendera Vietnam.

Begitu di imigrasi China, kami dilayani di jalur khusus. Selain Visa, juga ada surat rekomendasi dari KBRI Tiongkok di Beijing. Hal lainnya , aku yang berlengan satu, dilayani khusus. Butuh 1 jam untuk verifikasi. Alhamdulillah, lolos.

Dari imigrasi, porter mengantar ke pangkalan taksi. Suhu dingin mulai Menyerbu. Taksi meluncur ke stasiun kereta Ho Keu, Yuni. Kami beli tiket biasa (kursi) karena perjalanan 7 jam. Kereta berangkat pukul 13:30.

Keretanya seperti Woooosssshhh di Indonesia. Kecepatannya 280-300 km/jam. Di China kereta cepat sudah biasa. Di kita baru 1 kereta cepat sudah ribut. Para penumpangnya ramah karena selalu tersenyum.

“Saya dari Indonesia,” selalu mengenalkan diri.
Jangan kaget, aku harus menjelaskan berulang-ulang. Tapi aku senang. Aku sering meminta Jordy untuk banyak menolong orang tua mengangkat barang bawaan, misalnya sambil mengenalkan diri dari Indonesia.

Pukul 20:00 kereta tiba di Kunming. Ya Allah, guedeee banget. Setelah dicek paspor, kami langsung diserbu calo taksi. Kami sudah tidak ada waktu menghubungi si Teteh di Beijing. Langsung memilih taksi. Kami ingin segera sampai hotel, mandi, dan tidur.

Gol A Gong
Traveler, Author

Comments (0)
Add Comment