Cerpen : Monstera – Bambang Kariyawan Ys

Monstera

Tak ada yang tahu, mengapa tiba-tiba Santi dalam seminggu ini tak keluar rumah. Biasanya tak pernah tinggal pada jam-jam seperti ini berkumpul di kedai untuk belanja harian.

“Dah berapa hari ini tak nampak bu Santi ya?”

“Iya, hampir seminggu ini. Apakah sakit?”

“Padahal saat ini, kedai ini juga lagi ramai-ramainya jualan bunga,”

“Bukankah bu Santi penggemar bunga ya?”

Lenni, tetangga Santi penasaran. Pintu rumahnya selalu tertutup. Beberapa kali hubungi lewat telepon dan WA tidak direspon.

“Ada apa ya? Apa sebaiknya aku ke rumahnya?” heran Lenni.

Ternyata Santi tidak ada di rumah, menurut Bagas, anaknya yang telah memasuki bangku kuliah, Santi pergi ke rumah orang tuanya di kampung.

“Mengapa Ibu ke sana, Bagas?”

“Ibu tak ada beri alasan khusus, Tante.”

Jawaban Bagas membuat Lenni semakin penasaran. Lenni memperhatikan pekarangan kecil rumah Santi yang biasanya penuh dengan bunga termasuk bunga Monstera yang paling disukai Santi.

“Bunga-bunga Ibu pada kemana Bagas?”

“Dibuang Ibu semua.”

“Haa … dibuang? Kemana?”

“Bagas pun tak tahu. Tahu-tahu sudah tidak ada. Sejak itu Ibu sering kelihatan sedih.”

“Mengapa?”

“Bagas tak tahu.”

 “Apa ada hubungannya dengan bunga?” Lenni mencoba mengambil kesimpulan.

Di kampung Santi, ia hanya sesenggukan di kamar ibunya. Moer, ibunya Santi selalu mencoba membujuk untuk bercerita akan masalahnya.

“Ceritalah sama Ibu, San.”

Santi kembali menangis.

“Baiklah Santi, nanti saja, bila sudah tenang. Istirahatlah dulu.”

Jelang senja setelah rehat sejenak, Santi duduk di teras. Dengan tiba-tiba saja pot-pot bunga ibunya dihancurkan.

“Ada apa Santi?! Mengapa bunga-bunga itu kau rusakkan?”

“Santi tak mau bunga-bunga itu ada di dekat Santi, Bu?”

“Mengapa?”

“Lidah mertua ini mengingatkan kata-kata Bu Wiwik, mertua Santi, Bu. Tajam omongannya seperti tajamnya ujung bunga ini.”

Santi menceritakan kekesalannya akan sikap mertuanya yang selalu menghinanya sejak ditinggal kematian suaminya. Semua tingkahnya diawasi. Kalau keluar rumah sedikit saja selalu salah dan selalu dibicarakan yang tidak mengenakkan.

“Ada kata-kata yang tak kuat Santi dengar Bu. Tingkah Santi dianggap seperti bunga-bunga yang lagi Santi tanam di rumah, Monstera Bu. Janda Bolong katanya.”

“Ha!” Ibunya tercengang.

Pekanbaru, 2020

cerpen bambang kariyawan
Comments (0)
Add Comment