CINTA YANG BUKAN “CINTA”

Tatkala separuh jiwa telah kembali ke-haribaanNya, meninggalkan kisah yang ikut berakhir menjadi angin nan tak berjejak, punah. (Biru yang Kehilangan Langit)

Apakah definisi cinta? Setiap kita punya pengalaman untuk mendefinisikannya. Ketika cinta menjadi tema dalam proses kepenulisan kreatif, dapatkah menjadi cerita bertema cinta yang sebenar cinta? Membaca delapan cerpen bertema cinta yang diajukan untuk dianalisis, beriku beberapa catatannya.

Secara umum delapan cerpen tersebut ditulis tanpa melakukan proses meta analisis referensi (rujukan). Sangat minim fakta yang dihadirkan dari cerita yang dipaparkan. Kalaupun ada masih sebatas nama tempat. Padahal cerita akan hidup dan terasa dekat dengan pembaca bila ada sesuatu fakta yang disajikan sehingga pembaca ikut larut di dalamnya. Meski cerpen itu karya fiksi, namun karya tersebut akan berarti bila pembaca merasa berada di dalam cerita meski diperhatikan.

Tema cinta yang diusung belum memiliki aroma cintanya. Masih terasa hambar. Asumsi ini didasari masih sempitnya pemahaman akan makna cinta. Sepertinya masih sebatas hubungan antar dua manusia. Pemahaman ini akan menukik bila penulis memperbanyak menganalisis dari berbagai cerpen dengan kualifikasi berbintang, sehingga wawasan akan makna cinta meluas, melebar, dan mendalam.

Plot dalam cerpen bertema cinta ini masih terkesan “tiba-tiba” dan ”ternyata”. Masih perlu memahami esensi plot yang berupa sebab akibat peristiwa. Hindari peristiwa yang dibangun dengan memaksa untuk dikait-kaitkan. Beri sentuhan halus bahwa peristiwa yang terjadi dan berakibat seperti air mengalir dengan kecepatan yang stabil.

Proses swasunting (editing) berupa struktur batin (konten cerita) dan fisik (ejaan, pengetikan, dan typo otomatis lainnya) rata-rata masih lemah. Terkadang pemahaman kalimat berikut perlu kita perhatikan. “Penampilan yang baik dari sebuah cerita akan menutupi isi dan makna cerita”.

Cerpen “Aku” mengisahkan tentang terhalangnya percintaan dua insan karena perbedaan adat (Jawa dan Batak). Yogyakarta menjadi tempat rajutan kenangan yang pernah terjalin. Memilih judul tunggal “Aku” namun sentuhan egois tentang akunya masih belum total. Logika cerita dibuat sangat sederhana dengan selamatnya Mament dari terjangan gelombang Parangtritis. Swasunting tidak total dilakukan secara batin dan fisik. Contoh: “Entah berapa banyak air asin dan pasir  yang kumasukkan dalam mulutku”. Mungkinkah air laut dalam keadaan tenggalam mampu kita masukkan?

Cerpen “Biru yang Kehilangan Langitnya”. Cerpen ini berkisah tentang dialog tokoh Biru kala mengalami pingsan. Cerpen ini digarap dengan rapi dari proses swasuntingnya. Serta permainan memilih simbol yang tidak biasa, “Biru”, “Putih”, dan “Langit”. Meski harus beberapa kali untuk memahami makna alur cerita yang dibangun, namun penggarapan cerpen seperti ini akan mengangkat penulisnya ke level terbaik bila dibarengi dengan ketekunan dan pergaulan sastra yang lebih baik. Upayakan dalam judul menghindari kata “yang”, sehingga judul menjadi “Biru dan Hilangnya Langit”.

Cerpen “Jodoh Permintaan Ibu” mengisahkan tentang upaya Doni mendekati Arumi. Ending yang dibuat mendadak kecelakaan tanpa simbol-simbol pendahulu dalam plot. Swasunting masih perlu diperhatikan terkhusus pengetikan dialog dalam cerpen.

Cerpen “Permainan”, bertutur tentang sepasang pengantin baru yang salah satu pasangannya (suami bernama Surya) belum mampu memaknai kebersamaan hidup berumah tangga. Masih asyik dengan “permainan” gamenya. Logika cerita, sekuat-kuatnya orang yang sudah bekerja asyik main game sepulang kerja dan hanya rehat satu jam, sepertinya dipertanyakan kembali. Proses penyadaran dari insyaf bermain game terjadi pada bagian akhir menarik. “Teman sepermainan daring ku mati ditikam istrinya dari belakang”. Namun penulis sepertinya berniat baik untuk menghindari pornografi namun kurang tepat memilih kata. Justeru memberi imajinasi liar pembaca akan pornografi. Apalagi sampai pengulangan dua kali maksud menyembunyikan kesan pornografi tersebut. “Padahal kami adalah pasangan pengantin baru. Surya lebih memilih permainan daringnya daripada bermain denganku”, serta “Malam ini merupakan malam jumat yang ketiga. “Sayangku, bagaimana bila malam ini main denganku yuk”, rayuku. “

Cerpen “Cinta dalam Diam”, berkisah tentang tiga tokoh “Anwar”, “Ridwan”, dan “Hanum”. Masalah komunikasi verbal yang tak terucap menjadi pemicu masalah. Cerita sederhana yang coba dibangun dan memiliki pesan yang kuat akan pentingnya persahabatan. Logika cerita yang perlu dipertanyakan mengapa dua lelaki bertengkar dengan saling menampar? Hindari pemilihan kata “tiba-tiba” dan “anehnya” dalam membangun plot. Contoh: “Tiba-tiba Anwar menampar Ridwan. Ridwan membalas tamparan tersebut. Setelah tiga kali mereka melakukan adegan tampar menampar, anehnya tak muncul pukulan tinju diantara mereka. Mungkin karena tak ada asap sekitar mereka.” Apa maksud kata “asap”?

Cerpen “Bukan Cinta Biasa”, mengisahkan tentang kesetiaan istri dengan cobaan suami yang terbaring sakit di pembaringan. Cerita menarik bila dikemas dengan baik. Sayang dari awal pembaca dibombardir dengan dialog-dialog yang berlebih. Akan lebih baik mengedepankan narasi deskripsi yang akan membuat imajinasi pembaca.

Cerpen “Tunggu Aku Pulang”, diswasunting dengan rapi. Membuat pembaca merasa senang. Sayangnya ada logika cerita yang tidak dijaga akan konsistensinya. Terkait pilihan menikah setelah lebaran, namun dalam cerita sepertinya tidak terjaga. Bahkan Tindakan tidak lazim sepasang yang belum menikah di bandara. “Ku lirihkan mata ke wajahmu, tampak linangan air mata di wajah indahmu. Ku peluk tubuhmu dan ku cium keningmu, sambil ku bisikan “tunggu aku pulang,” ku usap deraian air matamu yang jatuh di pipi.”

Cerpen “Choice Man”, mencoba menulis cerpen komedi, namun terlalu lelah untuk diikuti. Selain menggunakan dialek Betawi yang jauh dari kita, juga memunculkan istilah-istilah asing yang perlu banyak dijelaskan. Hindari mengawali cerpen dengan bombardir dialog pada pembaca.

Bagaimanapun proses kreatif dalam menulis cerpen meski dilakukan tanpa henti. Ketika memilih tema cinta, hadirkanlah cinta sebenar cinta.

Bambang Kariyawan Ys., Sastrawan.

Comments (0)
Add Comment