Di Balik Kesederhanaan Huruf, Menimbang Estetika dan Kekurangan dalam “Bulan Melengkung di Rumah Orang-orang Beriman”: Catatan Irwandi

Kumpulan puisi Bulan Melengkung di Rumah Orang-orang Beriman karya Nafiah al-Ma’rab adalah sebuah karya yang mencoba menawarkan pengalaman membaca yang mendalam dan penuh refleksi spiritual. Bagi para pecinta sastra yang menghargai kedalaman makna dan keindahan bahasa, karya ini memang tampak seperti sebuah permata yang layak direnungkan. Namun, ketika kita menggali lebih dalam, ada beberapa aspek yang memerlukan kritik, baik dalam pendekatan tematik maupun dalam eksekusi teknisnya.
Nafiah al-Ma’rab, dengan gaya bahasa yang mengalir dan pilihan diksi yang cermat, berhasil menciptakan dunia puisi yang hampir mistis. Setiap kata dalam sajaknya seolah-olah memikul beban makna yang lebih dari sekadar kumpulan huruf. Tema religius yang menjadi inti dari kumpulan puisi ini bukan hanya sekadar latar, melainkan menjadi pusat eksplorasi spiritual yang ingin ditawarkan oleh penulis. Ia mengajak pembaca untuk merenung, berkontemplasi tentang iman, dan menelusuri hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Puisi-puisi ini memang tidak menyajikan keimanan dalam bentuk dogma atau ritual yang kaku, melainkan mencoba menggali makna terdalam dari keyakinan dan pencarian kebenaran yang lebih abadi.
Namun, meskipun kumpulan puisi ini mengangkat tema yang besar dan mulia, terdapat beberapa titik di mana karya ini terasa kurang maksimal dalam eksekusinya. Kekuatan utama dari kumpulan puisi ini memang terletak pada cara Nafia’ah menggunakan bahasa untuk menggambarkan pengalaman spiritual yang sarat nuansa. Dengan diksi yang dipilih dengan hati-hati, ia mampu menyampaikan perasaan dan pemikiran yang kompleks. Namun, pada beberapa kesempatan, pilihan kata yang berlebihan dan upaya untuk menciptakan efek estetik justru membuat puisi-puisi ini terasa terlalu berat dan kurang spontan. Ketika bahasa digunakan lebih sebagai alat hiasan daripada medium untuk mengekspresikan emosi dan spiritualitas, pesan yang ingin disampaikan bisa terasa kurang tulus dan terkesan dibuat-buat.
Salah satu aspek yang memang patut diapresiasi adalah penerapan licentia poetica—kebebasan kreatif yang ditunjukkan melalui keputusan untuk menulis hampir seluruh teks dengan huruf kecil. Langkah ini, di satu sisi, menciptakan efek visual yang unik dan mengundang pembaca untuk mendekati teks dengan cara yang lebih intim. Huruf kecil ini bisa ditafsirkan sebagai simbol kerendahan hati di hadapan Tuhan, sebuah sikap yang memang sesuai dengan tema-tema religius yang diangkat oleh Nafiah. Namun, di sisi lain, pilihan ini juga bisa dilihat sebagai upaya untuk menyederhanakan pesan yang sebenarnya mendalam dan kompleks. Dalam beberapa bagian, pendekatan ini justru menciptakan kesan monoton dan kurang variatif, mengurangi daya tarik visual dan dinamika teks.
Selain itu, tidak dapat dipungkiri bahwa Bulan Melengkung di Rumah Orang-orang Beriman mengandung beberapa kelemahan dalam aspek teknis. Terdapat sejumlah kesalahan dalam penulisan dan penggunaan tanda baca yang kadang-kadang mengganggu aliran pembacaan. Kesalahan-kesalahan ini bisa menyebabkan beberapa puisi kehilangan sedikit dari kejelasannya, sehingga dapat memengaruhi pemahaman pembaca terhadap pesan yang ingin disampaikan. Ketika kesalahan teknis ini berulang kali muncul, pembaca bisa merasa terputus dari aliran bahasa yang seharusnya lancar dan harmonis.
Namun, meskipun demikian, keindahan bahasa yang digunakan oleh Nafiah al-Ma’rab tetap mampu menutupi sebagian besar kekurangan tersebut. Diksi yang kaya dan penggunaan metafora yang mendalam masih memiliki daya tarik tersendiri, dan bagi sebagian pembaca, kesalahan kecil ini mungkin dianggap sebagai bagian dari keaslian dan keunikan karya. Seolah-olah Nafia’ah ingin menunjukkan bahwa dalam dunia yang tidak sempurna ini, keindahan masih bisa ditemukan di tengah-tengah kekacauan dan ketidaksempurnaan.
Secara keseluruhan, Bulan Melengkung di Rumah Orang-orang Beriman adalah sebuah karya yang mencoba menawarkan kedalaman makna melalui keindahan bahasa dan tema spiritualitas. Meskipun karya ini memiliki kelemahan dalam aspek penulisan dan beberapa elemen teknis, kekuatan estetik dan spiritual yang dihadirkan tetap mampu memberikan pengalaman membaca yang bermakna bagi mereka yang bersedia menggali lebih dalam. Namun, ada ruang untuk perbaikan, terutama dalam hal bagaimana bahasa digunakan dan bagaimana pesan disampaikan tanpa harus terlalu membebani pembaca dengan hiasan kata yang berlebihan. Dengan kritik yang membangun, Nafiah al-Ma’rab diharapkan dapat terus mengembangkan karyanya sehingga dapat mencapai potensi penuh sebagai seorang penyair yang mampu menginspirasi dan menyentuh hati pembacanya.

Irwandi, lahir di Pekanbaru pada 26 Desember 1992, kini menetap di Kota Batam. Meraih gelar sarjana dari Universitas Negeri Padang, pria yang akrab disapa Wandi ini kini sedang melanjutkan pendidikannya di Universitas Negeri Yogyakarta berkat berhasil menjadi awardee Beasiswa Pendidikan Indonesia (BPI) 2022, mengambil Program Magister Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI). Sebagai seorang guru Bahasa Indonesia di Dinas Pendidikan Kota Batam, penulis tidak hanya menyumbangkan pengetahuannya kepada generasi muda, tetapi juga menggali lebih dalam ke dalam dunia literasi dan sastra. Moto hidupnya, “Dengan tinta merangkai aksara, dengan aksara membentuk dunia,” mencerminkan keyakinannya akan kekuatan kata-kata untuk menciptakan dan mengubah dunia. Penulis tidak hanya menjadi pengajar, tetapi juga aktif menulis dan mengekspresikan pemikirannya melalui blog pribadinya. Berkat pengalamannya menjadi seorang SM-3T di pedalaman Papua, menjadikan kemampuan menulisnya kian terasah. Dunia digital juga menjadi ruang bagi penulis untuk berbagi inspirasi dan pengalamannya. Anda dapat mengikuti jejaknya di Instagram dengan akun @irwandiguci atau melihat tulisan-tulisannya di irwandi495.blogspot.com. Jika Anda ingin berkomunikasi lebih lanjut atau berbagi ide, Irwandi dapat dihubungi melalui surel di irwandi495@gmail.com

Comments (0)
Add Comment