Imajinasi
Menikmati karya sastra berarti menikmati hasil proses imajinasi. Imajinasi yang akan membawa pembaca berkelana menyusuri alam fantasi sebuah kisah. Alam fantasi itu menjadi penyebab, kita bisa berlama-lama membaca karya sastra.
Beragam pendapat bermunculan dari proses kreatif karya fiksi dalam mempermainkan imajinasi tersebut. Karya fiksi dihasilkan sebagai media menghibur. Fungsi ini bisa terwujud dengan memanfaatkan totalitas imajinasi penulis merangkai cerita. Sehingga hasil imajinasi itu akan membuat pembaca menyetujui dan membenarkan segala fakta dan data dalam cerita fiksi tersebut. Tidak takut lagi berselindung di balik kredo, itukan fiksi. Fiksi bukan sekadar berfungsi menghibur namun membangun paradigma pemikiran dan tindakan baru.
Kekuatan Fakta
Siapapun yang pernah membaca novel seperti terasuki untuk membenarkan fakta yang dimunculkan di dalamnya. Seperti halnya ketika kita membaca novel terbaru karya novelis laris di negeri ini, Tere Liye. Tepatnya novel berjudul Teruslah Bodoh Jangan Pintar. Ketika membaca novel ini kita akan menganggukkan fakta dan data yang disampaikan penulis.Kita masih ingat kalimat bijak John F. Kennedy “politik bengkok, sastra yang membelokkan”.
Fiksi memang cara bebas mengungkapkan ketidakpuasan akan situasi. Dengan berselindung di balik kredo, inikan fiksi, kebebasan membeberkan fakta menjadi lebih lentur dan mengalir. Penulis menjadi lebih nyaman berimajinasi, kecuali bila negeri ini sangat apriori dengan namanya kritik.
Novel ini secara akademis dapat dijadikan referensi untuk mahasiswa hukum dan ilmu lingkungan. Ceritanya penuh dengan fakta tentang akrobatik perjalanan persidangan hukum dan permainan menjadi lingkungan sebagai lahan meraup keuntungan sepihak.
Investasi
Percayakah kita dengan isitilah pembangunan pesat dengan banyaknya investor asing? Dalam novel ini tergambar dengan gamblang perhitungan keuntungan investor yang mengeruk dan mengubah pola hidup masyarakat yang tergusur. Masyarakat hanya menerima debu-debunya saja. Jumlah besarnya dinikmati pihak-pihak selingkaran pembuatan kebijakan. Miris.
Masyarakat yang telah merelakan tanah dan kampung kelahiran untuk negeri terbuang dengan alasan investasi. Dalam novel ini simbolis kehadiran dan kekuatan investor PT Semesta Minerals & Mining menjadi obyek memposisikan kekuatan sekaligus kerakusan mengeruk hasil investasi negeri ini.
Momen
Kehadiran novel ini menjadi momen yang tepat dengan adanya pemilu dengan segala sengkarutnya menjadi frasa yang tepat untuk melakukan sindiran atas kebodohan kita. Dalam berbagai perbincangan dan caption di media sosial menjadi kalimat yang di kedepankan. “Teruslah Bodoh Jangan Pintar”. Apalagi ketika dalam perjalanan jelang pemilu banyak masalah peradilan yang sepertinya menjadi media permainan orang-orang “pintar” menambah momen tepat kehadiran novel ini. Novel ini memang tentang perjalanan pengadilan hukum dan politik di negeri ini yang penuh dengan ketidakpastian.
Publikasi karya idealnya memang lahir di tengah momen yang tepat sehingga akan diingat pembaca. Untuk menghadirkan pada momen itu tentunya ada proses kejar target dan energi besar. Di sinilah letak kejelian penulis novel ini yang telah menjadikan data dan fakta sebagai kekuatan cerita, sehingga kita terlupa kalau cerita dalam novel ini adalah sebuah fiksi.
Personifikasi
Setiap tokoh dalam memiliki kausalitas yang kokoh, akan selalu ada alasan memunculkan tokoh tersebut. Hotma Cornelius, Presiden, Menteri Bacok, Tuan Liem, dan Penulis itu sendiri adalah Tere Liye.
Selain personifikasi tokoh, maka kemiripan peristiwa hangat di negeri ini pun dipersonifikasikan. Penyiraman air keras, pekerja imigran Cina, bahkan istilah yang marak dibincangkan saat debat Capres tak luput dari pemunculan dalam cerita yaitu hilirisasi.
Uang
Godaan uang telah sebenar-benar menggerus idealis pada penegak kebenaran. Dalam novel dari 7 anggota komite independen yang berhasil disusupi dengan politik uang berjumlah 6 orang. Bayangkan setumpuk uang telah menghilangkan logika kemanusiaan. Alasannya karena siapa lagi yang akan memikirkan mereka dan anak cucu mereka.
Cerita tentang uang ada sesuatu yang diselipkan tentang keberkahan dalam novel ini secara manis. Uang 3 milyar yang didapat dari salah satu tokoh (Rudi) karena menjual tanah warisan dengan cara yang tidak benar, maka nominal relatif besar itu menguap begitu saja. Inilah keberkahan.
Restart
Tetap ada peluang yang baik memberi solusi, 1 tokoh yang punya masa kelam masa lalu mengemas waktu yang tepat untuk balas dendam. Ending yang sangat terbuka ditawarkan sehingga “restart” memunculkan orang-orang baru untuk Indonesia baru sepertinya tawaran menarik meski caranya yang terasa menegangkan. Tapi “Inikan Fiksi”.
Ceritanya karya-karya Tere Liye harus kita sokong sebagai karya yang akan menghilangkan frasa kata “Teruslah Bodoh Jangan Pintar” menjadi “Teruslah Pintar Jangan Bodoh”.
Pekanbaru, 14 Maret 2024