Kepemimpinan seperti apa yang dibutuhkan dunia yang seperti saat ini? Dan mengapa begitu banyak pemimpin gagal memenuhi harapan untuk menghadirkan solusi bagi berbagai permasalahan?
Saat kita sedang menanggung akibat dari buruknya kepemimpinan di seluruh dunia, pertanyaan tentang apa dan bagaimana mereka yang berkuasa semakin terasa dan mendesak. Warga dunia hanya dijadikan semakin binging dalam penderitaan.
Situasi ini mengingatkan saya Abraham Lincoln yang pernah berkata: “Hampir semua orang mampu menghadapi kesulitan, tetapi jika kau ingin menguji karakter seseorang, berilah ia kekuasaan.”
Tidak ada ujian karakter dan prilaku manusia sebagaimana kekuasaan. Ia memiliki kemampuan yang luar biasa untuk mengubah seseorang, dalam perilaku dan tindakannya, yang dengan itu menyingkap jati diri karakternya yang sebenarnya. Kekuasaan yang terbangun di atas karakter yang lemah dipastikan akan merusak secara mutlak. Menyedihkan justeru nampaknya tidak berkurang juga orang-orang berkarakter lemah yang memburu kekuasaan.
Kekuasaan memiliki banyak bentuk dan terwujud melalui banyak jalan. Bukan hanya bersifat politik atau organisasional, tetapi juga ekonomi, sosial, bahkan agama. Setiap kekuasaan itu menguji karakter pemiliknya, termasuk otoritas agama. Jika Anda masih mengira kekuasaan agama tidak menguji karakter seseorang, Anda keliru. Mereka juga manusia yang tidak terjaga dari rayuan syetan.
Seseorang pernah menggambarkan pemimpin sebagai orang jujur. Lalu temannya bertanya, “Jujur hingga dengan harga berapa?” Hal yang menjadikan kita terheran, apakah benar karakter orang memang memang diukur dengan harganya?
Kita pastinya sadar jika dunia saat ini merindukan kepemimpinan yang lebih baik, baik itu di Timur maupun di Barat. Ketidakpuasan yang meluas terhadap kepemimpinan yang korup dan runtuhnya kepercayaan terhadap para penguasa dan institusi terlihat di mana-mana; di media dan dalam kehidupan masyarakat secara umum.
Di Barat, kita telah menyaksikan banyak kasus dalam beberapa tahun terakhir yang menimbulkan keprihatinan serius tentang integritas dan kredibilitas para pemimpin dan tokoh panutan: saga Trump yang penuh skandal dan skandal memalukan Epstein Files, korupsi bank-bank besar, skandal Berlusconi, FIFA di bawah Blatter, dan kasus-kasus klasik seperti skandal Clinton-Lewinsky dan Enron, belum lagi skandal para pemimpin di Inggris, Prancis, Jerman, Rusia, dan negara-negara lainnya.
Di Timur, kepemimpinan yang korup dan diktator seolah menjadi hal yang lumrah di banyak negara yang secara konsisten berada di peringkat terbawah dalam Indeks Persepsi Korupsi dari Transparency International dan ukuran-ukuran lainnya. Beberapa waktu lalu Arab Spring berusaha merombak para pemimpin korup, namun hasilnya sangat terbatas, bahkan di tempat-tempat di mana diktator lama berhasil ditumbangkan, masyarakat tetap ditinggalkan dalam kekosongan karena tiadanya pemimpin yang memiliki kemampuan (capable) dan berintegritas, yang mampu menghadirkan alternatif nyata, membawa perubahan, dan meraih simpati dan penghormatan khalayak luas.
Peringatan Martin Luther King Jr. terasa begitu relevan ketika ia menggambarkan bagaimana kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah melampaui kemajuan moral dan spiritual, sehingga kita memiliki rudal yang terarah dan manusia yang semakin tidak punya arah.
Namun, dilema yang dihadapi para buruh, pekerja, dan masyarakat luas dunia bukanlah karena kurangnya pengetahuan tentang apa yang membuat seorang pemimpin menjadi baik. Ketika John Adair, profesor pertama di dunia dalam studi kepemimpinan, bertanya kepada mantan Perdana Menteri Inggris Jim Callaghan apakah ia pernah mempelajari kepemimpinan, jawabannya adalah, “Tidak pernah, dan mungkin jika aku mempelajarinya, aku bisa menjadi pemimpin yang lebih baik.”
Karenanya, disadari adanya kebutuhan mendesak untuk mendidik, membina, dan melatih para pemimpin saat ini dan yang akan datang di semua tingkatan, dari pemimpin sosial-politik hingga pemimpin ekonomi dan agama, tentang apa artinya menjadikan pemimpin yang lebih baik, jika kita ingin membangun masyarakat dan dunia yang lebih baik.
Dan di antara banyak kualitas yang harus diajarkan dan yang paling utama adalah integritas, yakni tertanamnya etika ke dalam karakter, seperti yang disinggung di awal, sebagaimana pemimpin besar seperti Lincoln melihat pentingnya karakter dan integritas ketika seseorang melangkah ke arena kepemimpinan.
Dalam sejarah dunia terlalu sedikit pemimpin yang mampu membangun integritas dan karakter dalam kepemimpinannya. Segelintir dari mereka yang tercatat sebagai orang besar karena integritas dan karakternya. Sejarah modern hanya mencatat segelintir tokoh-tokoh seperti Mandela, Gandhi, Martin Luther King Jr., dan Malcolm X dan beberapa lainnya. Dalam sejarah Islam klasik tercatat nama-nama agung seperti Abu Bakar, Utsman, Umar, Ali, dan Umar Ibn Abdul Aziz, dan lain-lain.
Namun dari semua pemimpin besar yang pernah hadir di dunia, ketika berbicara tentang pemimpin terbesar dan terhenti sepanjang masa, nama Muhammad SAW berada di barisan terdepan, bukan hanya di mata umat Islam di seluruh dunia, tetapi juga di mata para peneliti dan sejarawan non-Muslim terkemuka. Michael H. Hart misalnya menempatkan Muhammad SAW pada peringkat pertama dalam bukunya “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History”.
Sangat wajar jika Imam Sa’d Shirazi memujinya dengan sangat indah dalam syairnya:
(Muhammad) telah mencapai kemuliaan tertinggi dengan kesempurnaannya,
Dia telah menyingkap kegelapan dengan keindahannya,
Indah dan sempurna segala akhlaknya,
Maka bersholawatlah kepadanya dan kepada keluarganya.
“Shallallahu ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, wa barik ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad, wa ‘ala jami’i ashabihi al-ajilla’ wa man tabi’ahum ila yaumil qiyamah”.
12 Rabi’ Al-awwal 1448 H