“Puisi Shanghai dibacakan Sutardji Calzoum Bachri di Teater Arena TIM tahun 1975, para hadirin dibuat terkekeh apalagi dengan gaya khasnya membaca puisi. Namun HB Jassin terlihat manggut-manggut“ (Alwi, 2015).
Kredo puisi dalam puisi Shanghai
Sutardji Calzoum Bachri menulis lima puisi bergaya-ucap yang tidak biasa pada tahun 1973. “Sepisaupi”, “Denyut”, “Laut”, “Shang Hai”, dan “Mesin kawin” adalah kelima puisi itu. Diterbitkan di Majalah Horison pada September tahun 1975. Puisi-puisi itu masih ada dan dikaji oleh banyak orang bahkan setelah bertahun-tahun. Salah satunya adalah “Shang Hai”. Adapun wujudnya sebagai berikut:
Shang Hai (Sutardji Calzoum Bachri)
ping di atas pong
pong di atas ping
ping ping bilang pong
pong pong bilang ping
mau pong?bilang ping
mau mau bilang pong
mau ping?bilang pong
mau mau bilang ping
ya pong ya ping
ya ping ya pong
tak ya pong ya tak pong
Tak ya ping tak ya pong
kutakpunya ping
kutakpunya pong
pinggir ping kamu pong
tak tak bilang ping
pinggir pong kamu ping
tak tak bilang pong
Sembilu jarakmu merancap nyaring
(Majalah Horison, 1973)
Kita harus terlebih dahulu memahami kredo puisi Sutardji Calzoum Bachri yang pertama kali dipublikasikan dalam majalah Horison No.12 Th.IX, Desember 1974, dan kemudian digunakan sebagai pengantar untuk kumpulan puisi Sutarji Calzoum Bachri yang dikenal sebagai O (dalam O Amuk Kapak, 1981). Ia mengakui bahwa dalam puisi, kata-kata harus memiliki kebebasan untuk berkembang, berfungsi, dan menentukan maknanya sendiri tanpa terbatas oleh konvensi (Bachri, 1973). Selain itu, ia menyatakan bahwa menulis puisi adalah proses membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata-kata ke bentuk aslinya. Mula-mula adalah ‘Kata’ dan kata pertama adalah “Mentera”. Maka menulis puisi adalah “mengembalikan kata kepada mentera” (Bachri, 1973)
Dengan kredo puisi itu memungkinkan pembaca untuk memahami sajak dan sikap kepenyairannya. Kredo puisi dapat dianggap sebagai pertanggungjawaban Sutarji Calzoum Bachri atas cara dia memperlakukan bahasa untuk menciptakan puisi. Dengan memahami kredo puisinya, bentuk, gaya ucapan, ritme, irama, dan bunyi puisi Shanghai bukanlah hal yang aneh, apalagi sampai membuat pembaca dan pendengarnya tertawa.
Apa sebenarnya pesan yang ingin disampaikan penyair melalui puisi Shanghai? Karya sastra seperti cerpen, novel dan puisi dapat di analisa melalui pendekatan analisis wacana kritis (Critical Discourse Analysis). Menurut Dijk (2014) ada 3 dimensi karya sastra yang dapat di analisis yaitu; struktur teks, kognisi sosial dan konteks sosial. Puisi berjudul Shanghai ini mewakili sebagian dari puisi kontemporer karya Sutardji Calzoum Bachri.
Diksi, imaji, bahasa kiasan, dan sarana retorika yang terintegrasi dalam bahasa, serta unsur-unsur lain yang dapat memberikan nilai estetis atau keindahan dalam puisi termasuk dalam isi puisi. Selain itu, terdapat unsur rima, perulangan bunyi yang terintegrasi dalam karakteristik bunyi dan makna puisi. Di sisi lain, diksi atau pilihan kata adalah elemen yang paling menonjol dalam membangun konsep estetis pada puisi kontemporer atau elemen yang mendapat tekanan yang tepat.
Dalam puisi ini, diksi mendorong komponen lainnya untuk bergabung, yang pada akhirnya dapat membentuk kesatuan makna yang utuh, yang secara makna juga memiliki nilai estetis. Namun, sang penyair kurang memperhatikan gaya bahasa yang digunakan dalam puisi-ini. Penyair hanya menggunakan gaya bahasa tertentu, seperti repetisi dan hiperbola.
Puisi ini menunjukkan penggunaan kata-kata dari berbagai bahasa atau dialek yang tidak biasa dalam puisi konvensional. Ini menunjukkan pendekatan Sutardji untuk mengeluarkan kata-kata dari tradisi kuno dan menggabungkan berbagai komponen bahasa untuk menghasilkan efek yang berbeda. Puisi ini juga bermain dengan bunyi kata, seperti “ping” dan “pong”, dan mengulang kata-kata tersebut secara berulang. Permainan kata ini menghasilkan irama dan ritme yang unik, menimbulkan sensasi yang mirip dengan permainan anak-anak saat bermain dengan kata-kata. Selain itu, kesan dinamis permainan bunyi ini menarik pembaca untuk berpartisipasi. Puisi “Shanghai” tidak mengikuti struktur puisi biasa dengan baris dan bait. Puisi ini lebih mirip dengan tata letak atau komposisi visual yang tidak teratur. Struktur nonkonvensional ini mencerminkan prinsip puisi Sutardji tentang kebebasan ekspresi.
Sutardji bermain dengan makna dan hubungan kata-kata dalam puisi ini. Pengulang kata “ping” dan “pong” dalam bentuk yang berbeda dapat dianggap sebagai permainan verbal yang melibatkan orang dan membuat mereka berpikir tentang artinya. Selain itu, tema yang muncul dalam puisi ini, seperti “Shanghai”, yang merujuk pada kota besar dan modern, mencerminkan upaya Sutardji untuk mendekatkan diri dengan dunia modern dalam karya-karyanya, meskipun penggunaan bahasa, gaya, dan struktur puisi terlihat eksperimental.
Intelektualitas dan religiusitas Sutardji Calzoum Bachri jelas terlihat dalam puisi Shanghai ini. Dia memahami apa yang tertulis dalam Kitab Suci dengan segala akibatnya. Manusia diciptakan berbangsa-bangsa dengan segala perbedaan untuk saling memahami, bukan untuk mengungguli satu sama lain. Komunikasi menjadi sangat penting selama proses pemahaman. Bahasa adalah bagian dari budaya agar komunikasi tidak buntu. Jika tidak, “sembilu jarak mu merancap nyaring”. Pada dasarnya, menulis dan membaca karya sastra berfungsi sebagai sarana komunikasi. Agar tidak tersesat, konvensi yang berlaku padanya harus dipahami. Puisi, misalnya, dibangun dengan bahasa figuratif, majas, dan kias. Puisi tidak selalu menggunakan “kata” dalam arti dasar atau denotasi, tetapi mereka dapat berfungsi sebagai simbol. Misalnya, puisi Chairil Anwar, “Rumahku dari unggun-timbun sajak/Kaca jernih dari luar segala nampak”, menggunakan istilah “rumah” dengan arti denotatif yang berarti bangunan untuk tempat tinggal.
Dengan demikian, semakin intens seseorang berkomunikasi dengan karya sastra, maka pendapatnya juga layak dicatat. Dengan pemahaman luas tentang konvensi sastra, pendapatnya tidak lagi didasarkan pada pilihan pribadi. Setelah membaca kembali “Shanghai” karya Sutardji Calzoum Bachri, pikirkan kembali kredo puisinya yang mengejutkan. Setelah itu, kita akan menemukan bahwa “Shanghai” itu “estetik”.
Daftar Pustaka
Alwi, Adek (2015). “Shanghai Sutardji Calzoum Bachri” https://m.facebook.com/nt/screen/?params. retrieved Agustus, 7 2013 02 : 30 AM
Bachri, C, Sutardji. (1975). Majalah Horison No.12 Th.IX, Desember 1974. Penerbit Yayasan Indonesia.
_______. (1992). Manuskrip Puisi “O AMUK KAPAK Tiga Kumpulan Sajak Surtardji Calzoum Bachrie” . ISBN 979-96342-7-X Penerbit Yayasan Indonesia dan Majalah Horison. Jakarta Timur – Indonesia
________. (2002). O, Amuk Kapak . Edisi kedua . Penerbit Yayasan Indonesia. Jakarta Timur- Indonesia
Dijk, Teun. A. Van (2014). Discourse and Knowledge; A Sociocognitive Approach. Cambridge: Cambridge University Press.
Gilang.P. (2021). ”Puisi Kontemporer: Pengertian, Jenis dan Contoh Penerapan”.https://gramedia.com/literasi/puisi-kontemporer/ retrieved Agustus, 7 2013 02 : 40 AM
Horison (1973). “Majalah Sastra September Edisi Tahun X ” Penerbit: Yayasan Indonesia
https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/04/Horison_09_1975.pdf
Horison (1975). “Majalah Sastra September Edisi Tahun XI ” Penerbit: Yayasan Indonesia. https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/0/04/Horison_09_1975.pdf
Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional (2006). Sutardji Calzoum Bachri “ Sastrawan Indonesia Penerima Anugerah Mastera Tahun 2006”. Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta- Indonesia
https://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/Kredo_Puisi. Ensiklopedia Sastra Indonesia – Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. Retrieved Agustus, 7, 2013 02 : 42 AM
Satinem and Juwati .(2019).The Diction and Language Style in Sutardji Calzoum Bachri’s Contemporary Poetry (A Study on Stilistics). AKSIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Volume 3 Nomor 1, Juni 2019. DOI: doi.org/10.21009/AKSIS.030115
Dedi Saputra, dengan nama pena Daris Kandadestra, aktif berproses dalam Forum Lingkar Pena Pekanbaru dan Salmah Creative Writing.