Hal-hal yang Sering Tak Disukai Penumpang Pesawat Terbang (Bagian 1 dari 2 Tulisan)

Hal-hal yang Sering Tak Disukai Penumpang Pesawat Terbang (Bagian 1 dari 2 Tulisan)

Oleh Tutin Apriyani

 

SEORANG penumpang di ruang tunggu bandara menatap layar ponselnya dengan kesal. Penerbangannya ke Pekanbaru yang seharusnya berangkat pukul 09.00 ditunda hingga pukul 13.00. “Ini bukan hanya soal waktu yang terbuang, tapi pertemuan dengan klien terpaksa ditunda besok pagi,” gumamnya dalam hati. Kesal.

Bagi banyak orang, terbang memang bukan sekadar berpindah dari satu kota ke kota lain. Proses panjang mulai dari membeli tiket, datang lebih awal ke bandara, melewati pemeriksaan keamanan, menunggu boarding, hingga akhirnya duduk di kabin pesawat dan menanti pesawat mendarat, dan mendapat pelayanan/perlakuan yang tidak nyaman seringkali memicu berbagai emosi dan rasa kecewa.

Banyak penumpang yang menahan kesal, jengkel, bahkan marah, namun jarang yang benar-benar menyuarakan keluhan mereka dengan lantang.

Pengalamanku jadi pramugari selama 13 tahun, berdasarkan pengalaman, curhat penumpang atau cerita teman yang terbiasa melayani penumpang dalam penerbangan, ada beberapa hal yang paling dibenci penumpang pesawat.

Penundaan Jadwal Penerbangan

Penundaan penerbangan/delay selalu menjadi topik pertama yang muncul dalam keluhan para penumpang. Alasannya beragam: cuaca buruk, alasan teknis, atau “operasional” yang kerap terdengar sepertinya alasan yang kerap didengar ditelinga. Apakah alasan tersebut memang benar atau hanya sebuah alasan. Pernah sekali aku mendengar cerita, crew (awak pesawat) tidak ada karena terlambat datang (traffic jam). Hal ini kadang- kadang membuat jengkel penumpang. Sedangkan kalau alasannya jelas pasti penumpang maklum.

Bayangkan Anda sudah bangun dini hari, menembus kemacetan, dan tiba di bandara dengan tergesa-gesa, dan di layar tertulis keberangkatan anda ditunda dengan menampilkan kata “Delayed” berwarna merah menyala.

Banyak penumpang merasa maskapai sering kali tidak memberikan informasi yang memadai.

“Kalau alasannya jelas dan disampaikan dengan baik, mungkin kita masih bisa mengerti,” ujar seorang pebisnis yang rutin terbang ke berbagai kota. “Tapi kalau diam-diam saja, rasanya kita diperlakukan tidak semestinya. Seharusnya dijelaskan.

Pernah pula, setelah hampir 35 menit telat dari jadwal, baru diumumkan pesawat terlambat tanpa penjelasan alasan keterlambatan. Hal seperti ini yang membuat banyak penumpang mengeluh.

Kursi Sempit dan Ruang Kaki Terbatas

Begitu naik ke pesawat, keluhan baru muncul: ruang duduk yang sempit. Bagi yang bertubuh tinggi atau gemuk, duduk di kursi ekonomi pastilah ada perasaan sedikit tidak nyaman.

“Belum lagi penumpang di depan merebahkan kursi sampai menimpa lutut kita,” keluh penumpang lain.

Banyak penumpang juga kesal jika penumpang di sebelah mengambil sandaran tangan seenaknya atau duduk terlalu melebar. Ruang sempit ini sering memicu konflik kecil, seperti saling senggol atau adu mulut, yang bisa merusak suasana penerbangan.

Anak Kecil yang Menangis atau Berlari-lari

Anak-anak yang menangis atau berlari di lorong kabin kerap menjadi mimpi buruk bagi penumpang yang mendambakan ketenangan.

Ada penumpang seorang bankir pernah mengalami pengalaman buruk, duduk di sebelah ibu yang menggendong bayi menangis tanpa henti selama dua jam. “Awalnya kasihan, tapi lama-lama bikin hati kesal,” katanya sambil tertawa dipaksakan.

Sementara itu, beberapa orang tua justru terlihat pasrah, membiarkan anak mereka berlarian di lorong atau menendang kursi di depannya. Situasi ini sering memancing amarah diam-diam, penumpang lainnya lebih memilih menahan diri daripada menegur langsung.

Penumpang yang Tidak Menghormati Aturan

Kebiasaan mengangkat ponsel begitu roda pesawat mendarat atau membuka sabuk pengaman sebelum lampu tanda padam adalah keluhan yang selalu muncul di antara para penumpang

Petugas kabin sudah berulang kali mengingatkan, tetapi sebagian penumpang seolah tak peduli. Kadang baru mendarat, sudah ada yang berdiri sambil membuka bagasi kabin. Padahal pesawat masih bergerak.

Hal serupa terjadi saat boarding. Masih banyak penumpang yang berebut masuk tanpa memperdulikan nomor kursi atau antrean, bahkan memaksa mendahului orang lain. Bagi sebagian penumpang, perilaku semacam ini adalah sumber kekesalan yang tak terucapkan.

Bau Tak Sedap di Kabin

Isu kebersihan dan bau badan juga tak luput dari daftar keluhan. Di ruang tertutup seperti kabin pesawat, bau menyengat cepat menyebar.

“Pernah ada penumpang yang membawa makanan berbau tajam. Begitu kotak makanan dibuka, seluruh kabin langsung beraroma aneh,” ujar seorang penumpang. Ada juga yang terganggu dengan bau badan penumpang, atau bau kaki yang menyengat saat penumpang tersebut melepas sepatu.

Meskipun sepele, hal ini bisa merusak kenyamanan sesama penumpang di kabin pesawat.

Penumpang yang Berisik

Sebagian penumpang tidak sadar bahwa suara mereka waktu ngobrol bisa terdengar hingga beberapa baris kursi ke belakang. Percakapan keras, tawa lepas, atau video yang diputar tanpa earphone sering menjadi sumber kegusaran.

Semestinya penumpang bisa lebih bijak menjaga volume suara, apalagi saat penerbangan malam ketika sebagian orang ingin tidur.*

Hj. Tutin Apriyani, SE adalah pramugari maskapai pemerintah 1980-1993. Pernah melayani rombongan VVIP Presiden Soeharto. Kini menjadi Ketua WPI (Wanita Penulis Indonesia) Riau periode 2025-2030.
Comments (0)
Add Comment