Hal-hal yang Sering Tak Disukai Penumpang Pesawat Terbang (Bagian 2 dari 2 Tulisan)
Oleh Tutin Apriyani
Gangguan pada Waktu Tidur
Bagi penumpang penerbangan jarak jauh, tidur menjadi cara ampuh melawan rasa lelah. Namun, tidak sedikit yang mengeluh terganggu oleh lampu baca penumpang lain, cahaya layar ponsel yang terang, atau pramugari yang mondar-mandir menawarkan minuman dan makanan.
Ada keluhan penumpang begini: “Saya sering terbang malam supaya bisa tidur. Tapi kalau setiap jam dibangunkan untuk makanan ringan atau pengumuman, ya sama saja.”
Tapi bagi yang biasa menjalani penerbangan panjang (long flight), mereka akan memberi tahu pramugari bahwa mereka mau tidur dan jangan dibangunkan sampai waktunya untuk breakfast (makan pagi) atau hidangan lain.
Proses Bagasi yang Lama
Setelah mendarat, masih ada satu rintangan terakhir: menunggu bagasi. Banyak penumpang yang mengeluh harus berdiri lama di sekitar conveyor belt, memelototi bagasi ratusan bagasi untuk mengamati milik sendiri.
“Sudah capek, pinggang pegal, eh bagasi baru keluar 35 menit kemudian,” keluh seorang penumpang yang sudah biasa didengar.
Tidak jarang juga terjadi masalah bagasi hilang atau tertukar, yang membuat penumpang semakin kesal kopernya dibuka dan diacak- acak, untung tidak ada barang berharga di dalamnya.
Harga Makanan dan Minuman yang Terlalu Mahal
Bagi beberapa maskapai low cost biasanya menjual makanan di dalam pesawat. Hal itu membuat penumpang mengerutu juga, karena merasa harga makanan dan minuman di dalam pesawat maupun di bandara sangat tidak wajar.
“Air mineral botol kecil bisa empat kali lipat dari harga normal,” ujar seorang penumpang lain lagi.
Tidak semua penumpang rela membayar mahal, apalagi bagi yang membawa keluarga. Padahal itu biasa terjadi karena sewa tempat di Bandara sangat mahal, sehingga harga bisa mencapai empat atau lima kali lipat harga normal.
Akibatnya, banyak penumpang memilih makan sebelum naik pesawat atau membawa bekal meski terkadang dibatasi oleh aturan.
Gangguan Cuaca dan Turbulensi
Meski bukan kesalahan maskapai, guncangan akibat turbulensi juga sering menjadi sumber ketakutan dan ketidaksukaan. Ada penumpang yang mendadak pucat, mencengkeram sandaran kursi, bahkan berdoa keras saat pesawat mulai berguncang. Padahal ini memang sudah biasa terjadi disebabkan hujan atau cuaca lagi tidak bersahabat.
Sandaran Kursi Tak Bisa Direbahkan
Fasilitas di dalam pesawat
Sandaran kursi yang tidak bisa direbahkan, padahal penerbangan long flight (masa terbang yang panjang).
Audio system yang rusak
Fasilitas audio system tak berfungsi baik atau rusak juga bikin kesal penumpang.
Keluhan yang Tak Pernah Usai
Dalam banyak kasus, keluhan penumpang memang tidak bisa dihindari. Dunia penerbangan diatur oleh berbagai prosedur keselamatan dan layanan standar yang harus diikuti, sementara setiap penumpang membawa ekspektasi dan kebiasaan yang berbeda-beda.
Namun, di balik semua keluhan tersebut, terselip harapan: penumpang ingin merasa aman, nyaman, dan dihargai.
Para maskapai pun tidak tinggal diam. Berbagai inovasi dilakukan, mulai dari harga tiket yang bersaing, pelayanan/servis ditingkatkan, hiburan di dalam pesawat yang lebih lengkap, hingga penyediaan Wi-Fi dan juga memperkecil delay pesawat.
Beberapa maskapai juga mulai lebih transparan soal penundaan, memperbaiki sistem boarding, serta memperhatikan variasi menu makanan.
Menariknya, keluhan tidak hanya soal maskapai atau pramugari. Sering kali, sesama penumpang justru menjadi sumber ketidaknyamanan. Karena itu, kesadaran bersama menjadi kunci dan nyamannya selama penerbangan.
Penumpang yang menghormati aturan, dan menghargai ruang pribadi orang lain sudah membantu menciptakan suasana penerbangan yang lebih menyenangkan.
Salah satu penumpang yang rajin berbagi cerita di media sosial, menulis, “Mungkin kita tidak bisa menghindari turbulensi, tapi kita harus bisa menjadi penumpang yang menyebalkan bagi orang lain.”
Terbang akan selalu memiliki tantangan tersendiri. Bagi sebagian orang, keluhan-keluhan itu dianggap “bumbu” perjalanan yang justru jadi bahan cerita setelah mendarat. Namun, bagi sebagian lainnya, hal-hal itu adalah penderitaan yang ingin dihindari sebisa mungkin.
Dalam dunia yang serba cepat ini, banyak penumpang yang akhirnya belajar menyiapkan mental, membawa bantal leher, memakai penutup mata, hingga memilih kursi tertentu agar bisa sedikit lebih nyaman.
Keluhan mungkin tidak akan pernah habis, tetapi di balik semua itu ada kebersamaan yang unik: ratusan orang dengan tujuan berbeda duduk bersama disuatu ruangan di langit, saling diam atau saling menggerutu dalam hati.
Pada akhirnya, saat roda pesawat menyentuh landasan dan pengumuman “Selamat datang” terdengar, hampir semua keluhan seolah terhapus. Penumpang buru-buru bangkit, bersiap menggapai tujuan masing-masing.
Saat itulah, mereka sadar bahwa betapa pun menyebalkannya pengalaman di kabin, terbang tetap menjadi satu-satunya cara tercepat untuk menjangkau jarak ribuan kilometer. Dan setidaknya, keluhan-keluhan itu bisa jadi bahan candaan atau cerita hangat di kafe bandara, seperti yang dilakukan Riska sambil menunggu penerbangan berikutnya. Nantikan cerita selanjutnya dengan episode yang berbeda***