Perbandingan dua tulisan yang membahas penggunaan humor dalam lingkungan pendidikan khususnya dalam konteks pengajaran bahasa inggris sebagai bahasa asin (EFL);
Seperti hujan di musim panas yang menyambut, humor mungkin tiba-tiba membersihkan dan mendinginkan bumi, udara, dan Anda.” – Langston hughesh
Humor adalah sikap yang cenderung dilakukan untuk membangkitkan rasa gembira dan memicu tawa gembira. Istilah ini berasal dari istilah medis Latin kuno, yang mengajari bahwa keseimbangan cairan dalam tubuh manusia, yang dikenal sebagai humor (Latin: humor, “cairan tubuh”), yang diatur oleh kesehatan dan emosi manusia.
Namun bagaimana jika humor diselipkan dalam pengajaran?
Pertanyaan di atas menjadi dasar dua artikel yang ditulis oleh Dian Rianita, Farah Merian Sari, dan Alexander Yandra dengan judul Students perspectives on Teachers use of humourin EFL classroom. Penulis akan mereview comparing dua artikel tersebut. Apakah ada perbedaan dan apa persamaan dari dua artikel tersebut?Artikel pertama yang mereview artikel kedua (artikel di dalam Journal Unilak)
Artikel pertama berfokus pada perspektif mahasiswat entang penggunaan humor oleh dosen mereka dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi minat belajar mereka. Artikel ini menemukan menemukan bahwa humor bermanfaat untuk mencairkan suasana belajar dan mendekatkan mahasiswa dengan dosen dan materi yang sedang dipelajari. Artikel pertama menggambarkan humor sebagai pedang bermata dua yang memiliki dampak negatif dan positif berfokus pada dampak langsung di dalam kelas.
Artikel kedua (Journal Unilak) juga menekankan pada perspektif mahasiswa, namun dengan lebih menekankan pada pengalaman belajar dan dinamika dosen-mahasiswa. Artikel ini menemukan bahwa humor berkontribusi pada suasana belajar yang lebih santai, hubungan yang lebih erat antara mahasiswa dan dosen, dan peningkatan keterlibatan dengan materi yang dipelajari. Dampaknya di dalam kelas juga menggunakan analogi pedang bermata dua dan menekankan pentingnya kepekaan dan kesesuaian dalam penggunaan humor namun implikasinya menekankan pada implikasi yang lebih luas dalam konteks pendidikan EFL di perguruan tinggi tidak seperti pada artikel pertama yang implikasinya hanya fokus dampak langsung di dalam kelas.
Kedua artikel mempunyai beberapa persamaan. Kedua Aatikel menggunakan kuesioner yang diberikan kepada 122 mahasiswa dan wawancara mendalam dengan 5 mahasiswa untuk mengumpulkan data, rentang usia siswa yang sama, yaitu 18 hingga 45 tahun. Kedua Artikel tersebut menekankan bahwa humor yang digunakan oleh dosen harus sesuai dengan status dewasa mahasiswa.Secara keseluruhan, kedua makalah tersebut memiliki banyak kesamaan dalam topik dan temuan, tetapi makalah kedua tampaknya memberikan analisis yang lebih mendalam tentang implikasi penggunaan humor dan dinamika dosen-mahasiswa dalam konteks yang lebih luas.
Namun penulis menyakini, jika humor diletakkan sesuai dengan porsi tanpa berlebihan membuat suasana kelas menjadi nyaman dan menyenangkan, hubungan dosen dan mahasiswa menjadi dekat tanpa mengurangi rasa hormat dan segan kepada dosen pengajar. Humor yang baik memberikan dampak yang baik di dalam hubungan pengajar dan mahasiswa.
Apapun itu hasil dari dua artikel tersebut, penulis ingin mengingatkan bahwa hidup itu tidak seringan kapas, karena itu agar ia seperti kapas maka humor diperlukan untuk meringankan beban kehidupan itu. Tertawalah! Sebelum dunia mentertawakanmu.