Idealis dan Erich Fromm dalam “Badai Sepanjang Malam”: Catatan Bambang Kariyawan Ys.

Tergelitik menyaksikan salah satu pertunjukkan teater dalam rangkaian Anak Pekan Fest. Penampilan teater “Badai Sepanjang Malam” oleh Komunitas Jejak Langkah membuat saya melihat ke dalam diri saya sebagai seorang guru. Mengingat cerita yang dibangun dalam teater mengisahkan tentang pilihan hidup beserta konsekuensinya.
Saya tidak akan mengkaji dari sisi penampilan karena dewan juri lomba teater ini telah memberikan penilain terbaik pada setiap pertujukkan yang ditampilkan. Saya mencoba melihat dari sisi konten cerita yang terdapat dalam naskah “Badai Sepanjang Malam”.

Tidak! Mesti ada sesuatu yang hilang antara kau dengan masyarakatmu. Selama ini kau membanggakan dirimu sebagai seorang idealis.Idealis sejati, malah.Apalah arti kata itu bila kau sendiri tidak bisa dan tidak mampu bergaul akrab dengan masyarakatmu.

Itu adalah ucapan Saenah, tokoh perempuan yang selalu berupaya menguatkan tokoh Jamil, suaminya untuk terus merawat makna idealis.

Makna Idealis

Makna idealis merujuk pada pandangan, keyakinan, atau konsep yang melibatkan cita-cita atau tujuan yang sangat diinginkan, berdasarkan pada prinsip-prinsip atau standar tertentu. Istilah ini sering digunakan untuk menggambarkan keadaan yang diinginkan atau diharapkan, yang mungkin belum sepenuhnya tercapai dalam kenyataan.
Ketika seseorang berbicara tentang makna idealis, mereka mungkin merujuk pada visi atau konsep-konsep yang menggambarkan kondisi yang lebih baik atau keadaan yang lebih adil, sejahtera, atau harmonis bagi individu, masyarakat, atau dunia pada umumnya. Makna idealis dapat berhubungan dengan nilai-nilai seperti keadilan, kebebasan, kesetaraan, kedamaian, atau kebahagiaan yang universal dan dianggap sebagai tujuan yang mulia.
Namun, penting untuk diingat bahwa makna idealis sering kali merupakan representasi dari tujuan jangka panjang yang sulit untuk dicapai sepenuhnya dalam realitas yang kompleks dan bervariasi. Meskipun demikian, konsep-konsep idealis dapat menjadi sumber inspirasi dan motivasi untuk memperbaiki kondisi nyata dan mencapai kemajuan menuju visi yang lebih baik.
Inilah inti muara cerita dalam pementasan drama “Badai Sepanjang Malam” berbincang tarik ulur tentang harga idealisme seorang guru di daerah terpencil.

Pikiranku sederhana saja. kau masih ingat tentunya, ketika kita pertama kali tiba di sini,ya setahun yang lalu. Tekadmu untuk berdiri di depan kelas,mengajar generasi muda itu agar menjadi pandai. Idealismemu menyala nyala. Waktu itu kita disambut oleh Kepala Desa dengan pidato selamat datangnya.

Dialog tersebut menyuarakan idealis yang menyala-nyala dari seorang guru yang sebenar-benar ingin mendedikasikan diri untuk kemajuan pendidikan di negeri ini. Waktulah yang akan membawa warna idealis apa yang akan mengiringinya. Masihkah komitmen untuk berdedikasi akan terus tersemat di dada tokoh Jamil? Jamil yang sempat terombang-ambing dengan pilihan idealisnya terselamatkan dengan kehadiran istrinya, Saenah. Tokoh Saenab menjadi motivator bagi Jamil kala gamang.

Kegaguan Intelektual

Aku mungkin mulai menyadari apa benda yang hilang yang kaukatakan tadi. generasi sekarang mengalami kesulitan dalam masalah hubungan. Hubungan antar sesama manusia.Mereka mengalami apa yang disebut kegaguan intelektual. Kita makin cemas, kita seakan akan mengalami kemiskinan artikulasi. Disementara sekolah di banyak sekolah malah, mengarang pun bukanlah menjadi pelajaran utama lagi, sementara makin banyak gagasan yang harus diberitahukan ke segala sudut. Pertukaran pikiran makin dibutuhkan.

Menurut saya naskah “Badai Sepanjang Malam”, pada bagian dialog tersebut yang memiliki kekuatan untuk diperdebatkan dan menjadi bahan kajian lanjutan. Saya tertarik dengan istilah kegaguan intelektual. Pemikiran menjadi beku.
Dialog tersebut mengungkapkan pemikiran tentang kesulitan yang dihadapi oleh generasi sekarang dalam hal hubungan antar manusia. Penulis naskah ingin menyatakan bahwa mereka mulai menyadari adanya kehilangan atau kekurangan yang disebutkan sebelumnya. Generasi ini mengalami apa yang disebut “kegaguan intelektual”, yang mungkin mengacu pada kurangnya pemahaman atau ketidakpastian dalam membangun hubungan interpersonal yang bermakna.
Selain itu, penulis juga mengungkapkan kecemasan bahwa kemampuan mereka untuk mengartikulasikan ide-ide mereka semakin terbatas atau terancam (kemiskinan artikulasi). Mereka merasa bahwa di banyak sekolah, kegiatan menulis kreatif (mengarang) bukan lagi pelajaran utama, sementara tuntutan untuk menyampaikan gagasan-gagasan yang penting semakin meningkat. Oleh karena itu, penulis berpendapat bahwa pertukaran pikiran atau diskusi yang aktif semakin diperlukan dalam konteks ini.

Erich Fromm

Naskah “Badai Sepanjang Malam” sepertinya perlu disandingkan dengan naskah aslinya. Mengingat setelah melihat konten naskah dan judul serta pertunjukkan di atas panggung, saya masih belum menemukan benang merahnya alasan memberikan judul naskah “Badai Sepanjang Malam”. Dimana letak badainya? Simbol-simbol apa yang terjadi dalam percakapan antara Jamil dan Saenah sehingga menjadikannya badai. Saya tidak menemukan itu. Namun terlepas dari itu ada titipan literasi dalam naskah dengan menyebutkan salah satu tokoh pemikir yang sempat membuat masa penasaran kala kuliah di kota pelajar beberapa tahun lalu. Beliau adalah Erich Fromm.

Kini aku menjadi sangsi terhadap dirimu.Mana idealisme yang dulu itu? Tengoklah ke kanan.apakah jejeran buku-buku itu belum bisa memberikan jawaban pada keadaan yang kauhadapi sekarang?Di sana ada jawaban yang diberikan oleh Leon Iris, Erich Fromm, Emerson atau Alvin Toffler. Ya,malam malam aku sering melihat kau membuka-buka buku-buku Erich Fromm yang berjudul The Sane Society atau Future Shock nya Alvin Toffler itu.

Pemikiran Erich Fromm dalam bukunya yang berjudul “The Sane Society” adalah kritik terhadap masyarakat modern dan menyajikan visi alternatif tentang bagaimana menciptakan masyarakat yang lebih sehat secara psikologis dan sosial.
Dalam buku tersebut, Fromm berpendapat bahwa masyarakat modern menderita karena adanya alienasi atau perasaan terasing dari diri sendiri, orang lain, alam, dan makna hidup. Ia menganggap masyarakat modern terfokus terlalu banyak pada pencapaian material dan konsumsi, sementara mengabaikan aspek-aspek esensial dari kehidupan manusia seperti cinta, hubungan sosial yang bermakna, dan pengembangan diri.
Fromm mengkritik sistem ekonomi kapitalisme yang dianggapnya menciptakan kesenjangan sosial yang besar dan menciptakan alienasi antara pekerja dan hasil kerjanya. Ia juga menyoroti pengaruh media massa dalam menggiring individu untuk mengikuti keinginan konsumsi yang tidak terpuaskan, sehingga menyebabkan ketidakpuasan dan kecemasan yang mendalam.
Dalam “The Sane Society,” Fromm mengusulkan bahwa masyarakat yang sehat psikologis dan sosial adalah masyarakat yang memprioritaskan pengembangan pribadi, kreativitas, dan hubungan sosial yang saling menguntungkan. Ia mempromosikan konsep cinta sebagai kekuatan yang kuat dalam menciptakan hubungan yang berkelanjutan dan saling memperkaya. Fromm juga menekankan pentingnya memiliki otonomi dan integritas diri, serta menghargai nilai-nilai kemanusiaan.
Salah satu gagasan sentral dalam pemikiran Fromm adalah “kebebasan dari” dan “kebebasan untuk.” Kebebasan dari merujuk pada pembebasan dari keadaan-keadaan yang menghambat pertumbuhan dan kemanusiaan, seperti kemiskinan, eksploitasi, dan penindasan. Sementara itu, kebebasan untuk mengacu pada kemampuan individu untuk mengembangkan potensi mereka, mengejar tujuan pribadi yang bermakna, dan berkontribusi pada masyarakat.
Fromm juga menyuarakan pentingnya transformasi individu dan masyarakat melalui proses kritis dan reflektif. Ia menekankan perlunya mengeksplorasi dan memahami diri sendiri, mengenali kebutuhan-kebutuhan batiniah, dan mencari makna dalam hidup.
Secara keseluruhan, pemikiran Erich Fromm dalam “The Sane Society” mengajukan kritik tajam terhadap masyarakat modern yang teralienasi dan mempromosikan konsep cinta, pengembangan pribadi, dan transformasi sosial sebagai upaya untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan berkelanjutan.

Bambang Kariyawan Ys., Penulis.

Comments (0)
Add Comment