IMAJINASI SEJARAH DAN CERITA LOKALITAS: Esai Bambang Kariyawan Ys.

Lokalitas

Membincangkan lokalitas sejalan dengan pemahaman sederhana tentang budaya lokal. Menurut Ismail (2011), yang dimaksud budaya lokal adalah semua ide, aktivitas dan hasil aktivitas manusia dalam suatu kelompok masyarakat di lokasi tertentu. Budaya lokal tersebut secara aktual masih tumbuh dan berkembang dalam masyarakat serta disepakati dan dijadikan pedoman bersama.

Lokalitas dalam konteks Melayu Riau dapat kita arahkan perbincangannya seputar nilai-nilai yang terpelihara dalam masyarakat berupa tunjuk ajar Melayu. Ragam aktivitas kebudayaan berupa sejarah, tradisi, seni, beserta komponen/unsur kebudayaan lainnya yang masih terawat di tengah masyarakat Melayu Riau.

Dengan demikian sumber budaya lokal bukan hanya berupa nilai, aktivitas dan hasil aktivitas tradisional atau warisan nenek moyang masyarakat setempat, namun juga semua komponen atau unsur budaya yang berlaku dalam masyarakat serta menjadi ciri khas dan atau hanya berkembang dalam masyarakat tertentu.

Menulis Lokalitas

Menulis karya sastra bertema lokalitas memerlukan perencanaan matang dalam proses penyelesaiannya. Langkah pembuka dengan meta analisis referensi terkait tema.

Dalam kesempatan ini puisi yang berjudul “Embung dan Seraga Mata Lanun” serta cerpen “Tijah” mengambil referensi utama dari buku “Sejarah Perjuangan Tengku Buwang Menumpas Belanda di Pulau Guntung Siak 1746-1760” karya Dr. Ellya Roza, M. Hum. Tentunya ditambah dengan berbagai referensi berupa cetak dan online. Referensi cetak banyak merujuk yang tersedia di Bilik Melayu Perpustakaan Soeman Hs. Sedangkan naskah drama “Suara-Suara Sejarah” dengan referensi utama “Sejarah Melayu” karya Ahmad Dahlan, Ph.D.

Referensi yang telah dimeta analisis lanjutkan dengan melakukan proses interpretasi. Interpretasi dapat disederhanakan untuk proses kepenulisan kreatif dengan istilah imajinasi.

Imajinasi Sejarah

Imajinasi dalam proses kepenulisan kali ini secara spesifik dengan pendekatan imajinasi sejarah. Karya atau tulisan sejarah adalah fakta, dan para sejarawan meyakini bahwa fakta tersebut benar-benar fakta, dan itu adalah kebenaran (Kleden, 2004). Keyakinan itu agaknya perlu dipertanyakan. Hal itu disebabkan karena ternyata fakta yang dituliskan kembali, yang dikeluarkan melalui dari pemikiran manusia tidak lagi murni fakta, siapapun manusianya. Dalam fakta ternyata ada fiksi begitu juga di dalam fiksi ada fakta (Art van Zoest, 1980). Fakta rupanya tidak dapat hadir murni kefaktaannya, demikian juga fiksi, bahkan, bukan tidak mungkin, mustahil untuk dapat hadir murni faktanya, tanpa ada fiksi agak sedikitpun.

Sebaliknya fiksi termasuk karya sastra tidak lagi murni kefiksiannya, fiksi tersebut telah dirangkai, dibungkus dan mengandung fakta. Fakta di dalam karya sastra hadir dengan pakaian majasi (metafora, satir, ironi, dan lain-lain.), dalam rangkaian fiksi, tepatnya ia hadir dalam kesastraan.

Tidak pada tempatnya bila fakta dalam pakaian majasi dalam karya sastra dilihat dan diperlakukan bahwa ia adalah fakta yang murni. Akan tetapi, mungkin inilah kesalahan fatal yang sering terjadi, bahwa fakta di dalam karya sastra diperlakukan sebagai fakta murni. (Fadlillah. t.t.).

Imajinasi sejarah dapat kita artikan sebagai proses menghidupkan peristiwa, tokoh, dan latar melalui proses perenungan, menghubungkan, dan membenturkan dalam bingkai peristiwa yang dituliskan. Imajinasi sejarah dapat dilakukan selain dengan menggeluti referensi juga dapat dengan mendekatkan diri pada fakta sejarah yang menjadi bahan kajian.

Kunjungan ke Makam Tengku Embung, Sultanah Khadijah, dan Hang Nadim memberikan energi dan daya hayal untuk mengisi sisi-sisi kosong yang dapat memperkokoh terbangunnya diksi dan cerita.

Epilog

Kembali pada satu kesimpulan bahwa di balik fakta ada fiksi dan di balik fiksi ada fakta, merupakan kunci dalam mengimajinasikan peristiwa sejarah sebagai bahan kepenulisan kreatif.

Rujukan

Art van Zoest. 1980. Fiksi dan Nonfiksi dalam Kajian Semiotik. Terj. Manoekmi Sardjoe.
Jakarta: Intermasa.
Fadlillah. t.t. “Sejarah, Sastra, dan Imajinasi Sebuah Dekonstruksi”. Makalah.
Ignas Kleden. 2004. Sastra dalam Enam Pertanyaan. Jakarta: Grafiiti.

Comments (0)
Add Comment