Dan di balik produktivitasnya sebagai pencipta, Nasirun adalah seorang penjaga. Ia memiliki kurang lebih 300 karya old master (maestro lama) Indonesia yang dikoleksinya sejak dekade 2000-an. Ia mendirikan Museum Para Sahabat di salah satu ruang rumahnya demi merawat ingatan para pejuang kebudayaan. Inilah mahakarya lain dari Nasirun untuk belantika seni rupa Indonesia, sebuah warisan kebajikan yang tak ternilai harganya.
Pernyataan Mas Warno dan kenyataan tentang keluasan hatinya itu tentu saya sepakati tanpa syarat. Bagi saya, di luar kehebatan kekaryaannya, Nasirun adalah pribadi yang istimewa, rendah hati, dan gemar menebar tawa. Kendati tempat tinggal kami berjauhan, Nasirun di Yogyakarta, sedangkan saya di Jakarta lalu Bandung, setiap kali bersua, kami senantiasa karib seperti sahabat lama. Pada 2009, saya bersama tim Majalah Arti (delapan orang) menyambangi kediamannya, bahkan menginap di sana. Rupanya Nasirun telah pindah dari hunian lamanya, meski rumah lama itu hingga kini masih berdiri.
Rasa kekeluargaan begitu memancar saat itu. Teman-teman Majalah Arti yang rata-rata belum terlalu lama bersentuhan dengan belantara seni rupa tidak merasa kaku ataupun minder, berkat keterbukaan Mas Nasirun beserta keluarganya, termasuk sang istri. Padahal, Nasirun pernah berujar bahwa istrinya kerap merasa minder jika harus menemui para seniman. Namun, kami yang datang bertamu memang bukanlah seniman besar. Alhasil, rasa canggung dari kedua belah pihak lebur seketika. Kami berfoto bersama di salah satu ruangan yang lumayan luas, berlatar sebuah meja besar dari kayu jati, tampak ideal untuk berdiskusi, dengan latar belakang lukisan Nasirun yang klop nan ciamik. Kami pun pamit pulang. Ada satu hal kecil yang terlewat, jaket saya tertinggal.
Tahun 2014, ketika saya kembali berkunjung ke rumahnya, Mbak Supartilah, istri Mas Nasirun, dengan ramah menyerahkan jaket tersebut. Sebuah gestur kecil yang menyiratkan ketulusan luar biasa, ialah menyimpan benda milik tamu selama lima tahun penuh. Barangkali, saya dianggap sebagai wartawan yang memiliki kesan tersendiri oleh keluarga Nasirun. Sebab, ketika ia hendak menggelar pameran tunggal keduanya di Galeri Nasional Indonesia, Jakarta, pada tahun 2000, sebuah babak penting yang menjadi batu loncatan baginya untuk melanglang buana lebih luas, saya adalah satu-satunya wartawan yang diajak oleh Galeri Kembang Jati selaku Event Organizer (EO) untuk mewawancarai, mengintip dapur kreatifnya, dan menyiarkannya ke ruang publik lewat koran Media Indonesia tempat saya bekerja.
Pameran monumental di Galeri Nasional itu bertajuk ‘Ojo Ngono!’ (Jangan Begitu!), dengan kurator Suwarno Wisetrotomo. Sejak pameran tersebut, betapapun peliknya pertanyaan yang saya ajukan, Nasirun selalu antusias menjawabnya. Dan jika ada data yang menurutnya kurang tepat, ia kerap menyela dengan santai, “Sebentar, aku koreksi dulu yang itu…”
Nasirun wafat di RS AMC Muhammadiyah Yogyakarta pada 1 Agustus 2026 pukul 05.58 WIB dalam usia 60 tahun. Jenazahnya diantarkan ke tempat peristirahatan terakhir di Makam Seniman Girisapto, Imogiri, Bantul, Yogyakarta.