Infaq Estetik Nasirun (Bagian 3): Obituari Doddi Ahmad Fauji

Nasirun berdomisili di wilayah Wates, yang masuk dalam provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, tepatnya di Perumahan Bayeman Permai, Jalan Wates KM 3, Ngestiharjo, Bantul, sehingga jarak membuat frekuensi perjumpaan kami tidak terlampau sering. Jika saya membutuhkan konfirmasi atau wawancara, saya biasa menelepon nomor ponsel istrinya terlebih dahulu untuk mengatur waktu yang tepat agar bisa berbincang dengan Nasirun. Maklum, dalam kesehariannya, Nasirun memang sengaja tidak memegang gawai.

“Aku terganggu kalau pegang HP. Kalau lagi melukis terus ada telepon masuk, lalu tidak kuangkat, nanti aku dibilang sombong,” kenangnya pada November 2014 di kediamannya.

Pertemuan fisik kami lebih sering terjadi di Jakarta, umumnya ketika Nasirun memiliki hajat pameran di berbagai galeri ibu kota. Sesekali tatkala bertandang ke Yogyakarta, saya selalu menyempatkan diri singgah ke studionya untuk berdiskusi panjang atau sekadar melepas rindu. Pada November 2014 itu, di tengah rencana penerbitan Majalah Arti, saya sengaja datang dan menginap di rumahnya.

Malam itu, ia mengajak saya berkeliling menikmati luasnya kompleks rumahnya. Saya taksir, lebih dari 100 lukisan, berukuran besar maupun kecil, dipajang di sebuah ruangan khusus yang ia juluki “Minimaret”, semacam minimarket mini yang didedikasikan sepenuhnya untuk memamerkan karya-karyanya. Usai dari sana, saya diajak menyeberang halaman dengan membawa lampu senter. Kami memasuki sebuah bangunan yang tampak gelap gulita, kecuali bias cahaya remang di serambi depan. Begitu lampu dinyalakan, betapa terkejutnya saya, rumah itu ternyata berfungsi sebagai gudang raksasa yang menyimpan ribuan karya yang dihasilkannya sejak pertengahan dekade 1980-an hingga 2014, merentang hampir tiga dekade perjalanan kreatifnya.

Merentang perjalanan selama empat dekade sejak paruh kedua 1980-an hingga hari ini di tahun 2026, Nasirun telah mendedikasikan hidupnya melalui infak estetik dan darmabakti budaya. Laku lampah tersebut selaras dengan titah universal lintas tradisi dan agama yang menyerukan penciptaan karya terbaik, kemanfaatan, serta ketulusan bagi sesama. Semangat kebajikan universal ini berakar kuat dalam kitab suci berbagai peradaban.

Al-Qur’an: Seruan untuk berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khairat) termaktub secara tegas dalam QS. Al-Baqarah 148 dan QS. Al-Ma’idah 48.

Injil (Perjanjian Baru): Anjuran untuk konsisten menabur kebajikan ditegaskan dalam Surat Galatia 6:9 (“Dan janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila waktunya tiba, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah.”).

Weda/Bhagavad Gita: Konsep kerja luhur demi kesejahteraan dan keharmonisan semesta (lokasaṅgraha) disuarakan dalam Bhagavad Gita 3:20.

Kyai Nasirun telah menunaikan panggilan luhur tersebut secara paripurna, bukan hanya satu, melainkan melalui ribuan karya yang menghidupkan peradaban dan menginspirasi publik luas.

Di sanalah, dalam keheningan malam dan keluasan waktu kunjungan tersebut, saya semakin menyelami siapa sesungguhnya Nasirun.

Comments (0)
Add Comment