Intip Buku “Membaca Laut Pada Kampung yang Hilang”: Catatan Abdul Rahman

Buku ini dikarang oleh Bambang Kariyawan Ys, beliau adalah seorang akademisi atau pendidik yang telah terjun ke dunia sastra dan menjadikan sastra menjadi ladang amal beliau di dunia ini. Buku ini berbau sosial budaya. Kebanyakan karya puisi Bambang Kariyawan Ys bertemakan sosial budaya. Hal ini mungkin dikarenakan beliau berasal dari jurusan sosial, ditambah lagi sikap pedulinya akan kondisi sosial.
Pengambilan judul buku ini diambil dari puisi pertama dalam buku kumpulan puisi ini. Tentunya penulis memiliki alasan yang kuat untuk menjadikan judul puisi “Membaca Laut pada Kampung yang Hilang” untuk dijadikan sebagai judul sebuah buku.
Bisa saja karena puisi tersebut adalah puisi yang paling beliau suka atau ada historis yang lebih dalam penulisan puisi ini. Bisa juga karena puisi ini bisa mewakili peristiwa yang terjadi dalam goresan puisi lainnya.
Ketika membaca puisi ini, saya melihat seolah nyata tentang kehidupan masyarakat yang berada di pinggir laut, tentang kondisi ekonomi, pendidikan dan bagaimana mereka melakukan kegiatan sosial budaya di tengah masyarakat. Terbayang, tentang kampung yang menderita dan jauh dari hidup sejahtera dan bahagia.
Saya beranggapan penulis dilahirkan bahkan mungkin tumbuh besar di lingkungan tersebut, sehingga semua kejadian melekat dalam hati dan pikirannya. Kapan saja dia ingin bernostalgia dengan keadaan tersebut, dengan mudah dia menuangkan kembali kisah yang sudah dijalaninya di masa kanak-kanak dan remajanya.
Dalam puisi ini mengandung kritik sosial yang bisa dipahami oleh pembaca dan menjadi inspirasi dalam berpikir dan bertindak untuk selalu peka dengan kondisi alam sekitar. Dan bertanggung jawab secara sosial untuk memperbaiki segala bentuk penyimpangan yang sudah terjadi. Semoga masyarakat tidak menjadikan hujjah setiap yang sudah terjadi. Tetapi mampu mengadakan perubahan sesuai fungsi dan tugas masing-masing. Saya ikut merasakan betapa sangat resahnya penulis buku ini, kelihatan pada setiap bait-bait yang beliau tuliskan.
Dari buku ini, banyak hal yan dikisahkan tentang kehidupan masyarakat dalam berbagai kondisi sosial, mulai dari cerita pantai,sungai, danau, pohon, gunung bakan sampai pada cerita di taman kota. Semuanya berkisah tentang kehidupan sosial masyarakat.
Dalam tulisan kali ini, saya ingin lebih fokus dulu mengintip puisi dengan judul “MEMBACA LAUT PADA KAMPUNG YANG HILANG”
Serumpun bakau menyimpan kisah pada kampung ini
Tentang akar-akar yang tergeletak lelah menanti waktu
Semakin rapuh bebatangnya menjadi tua
Pada bait ini menjelaskan kondisi bakau secara konotasi, menyimpan makna tentang kondisi masyarakat yang terpinggirkan. Menyimpan kisah, akar tergeletak lelah menanti waktu. Mengharapkan datangnya sesuatu yang bisa mengobati lelah dan luka. Penantian panjang, hingga rapuh walau tak tahu kapan harapan akan bisa terwujud. Di awal bait saja, penulis sudah memperlihatkan kegelisahannya.
Termakan kisah-kisah pilu tentang deburan riak yang gagap
Terombang bersama jala sunyi
Terambing dihirup lumpur bisu
Tersangkut pada remah-remah gelisah
Pada bait kedua ini, makin jelas gambaran kehidupan di pantai laut. Kisah pilu tak mampu diungkapkan dengan terang benderang, tergagap, entah bagaimana untuk menjelaskan kondisi kumuh dan bagaimana berdamai dengan kondisi yang ada.
Kampung ini kampung yang pernah hilang
Kayu Ara, kampung yang menangis
Tertelan oleh kisah-kisah pembuangan
Pada bait ini semakin gamblang tentang kondisi masyarakat yang berada di pinggir laut, selalu tergusur dan terusir oleh tangan-tangan bengis, Isak tangis atas kondisi kisah pembuangan, pengusiran dan pembuangan.
Disini jelas, penulis buku ini mengamati atau bahkan mungkin saja mengalami peristiwa tragis tersebut. Paling tidak, menurut saya, penulis adalah pemerhati kehidupan sosial dan sangat peduli tentang kondisi masyarakat.

Pilu …
Berbonggol sisa kelapa rentah
Anak-anak arang menghitam kelam
Terbakar resah dipanggang resam
Masa lalu tergagu kelam
Bait ini juga bahasa konotasi. Tidak ada kebebasan, berada dalam belenggu, terkungkung tak bisa mengekspresikan diri ke dunia luar. Jauh dari jangkauan komunikasi.

Tenggelam bersama cericit walet di rumah beton yang terlupa
Kampung ini belum hilang …
Kampung ini belum tenggelam …
Kampung ini belum terbuang …
Belum !!!

Di bait akhir menjadi penjelas atas perbedaan antara kampung yang berpenduduk asli di geser dan ditenggelamkan secara mental oleh rumah beton bersama cericit waletnya. Kampung ini belum hilang, namun seolah tenggelam, walau masih ada setitik harapan dari pejuang yang punya semangat tak pernah padam.
Disinilah hebatnya penulis merangkai kisah yang terjadi agar menjadi pelajaran, penghayatan dan penyadaran bagi setiap pembaca dan siapa saja yang peduli dengan kondisi membaca laut pada kampung yang hilang.
Terima kasih saya ucapkan kepada penulis buku yang sudah menyuguhkan tulisan yang mengedukasi pembaca. Insya Allah kita akan melanjutkan dalam memperbincangkan karya terbaik ini untuk pembelajaran bagi generasi muda. Buku ini akan selalu hidup di tangan pembaca, terutama pemerhati kehidupan sosial masyarakat. Semoga di lain kesempatan, saya bisa mengintip karya terbaik lainnya dalam buku “ Membaca Laut pada Kampung yang Hilang”.

Comments (0)
Add Comment