Jejak Sultan Mahmud Syah Di Desa Koto Perambahan: Catatan Husnu Abadi

Pengantar: Catatan kali ini, merupakan lanjutan perjalanan ke makam Tun Fatimah, 2 Oktober yang lalu, dengan berziarah ke3 situs bersejarah, yaitu Masjid Al Qubro, Istana Kerajaan Kampar, serta Makam Sultan Adlisyah, di Desa Koto Perambahan, Kecamatan Kampar Timur. Pada batu nisan itu tetrtulis Sultan Adlisyah Wft. 1928 Penerus Sultan Halipatullah Mahmud Syah Akhirlluh Zaman. Sedangkan di depan Istana Kampar terdapat bangunan kantor dengan tulisan Kantor Informasi Istana Sultan Mahmudsyah (Redaksi Tirastimes).

Ziarah ini dilakukan pada 25 Desember 2025, hari Libur karena Perayaan Hari Natal. Kami berempat: saya, Fakhrunnas MA Jabbar, Amir Hamzah dan ustaz Taslim Prawira memanfaatkan waktu untuk berwisata, wisata ziarah sejarah. Ke 3 siitus itu tak jauh dari kota Pekanbaru, persis selepas sekitar 2 km dari jembatan Danau Bingkuang, akan ditemukan Desa Koto Perambahan. Memang harus belok kanan dulu, sekira 2 kilometer.

Kalau diperhatikan keberadaan 3 situs ini disandingkan dengan situs makam Tun Fatimah yang berada di Desa Sungai Tonang, dan situs makam Sultan Mahmud Syah Marhum Pekantua, maka ketiganya berada di tepi Sungai Kampar, dengan catatan bahwa Ke 3 situs ini berada lebih dekat jaraknya ke situs Makam Tun Fatimah. Tun Fatimah wafat di tahun 1527 sedangkan Sultan Mahmud Syah wafat pada tahun 1528. Tahun berapakah Sultan Mahmud Syah membangun ke 3 situs dimaksud. Adakah jejak-jejak Sultan Mahmud Syah di Desa Koto Perambahan ini, dalam rangka melihat dan memastikan keberadaan Tun Fatimah di Sungai Tonang (sebagai tempat untuk mengasingkan diri untuk memelihara kesehatannya dari penyakit tertentu yang berbahaya sekaligus mengindari dari kejaran dan pencarian yang terus menerus oleh kaum Portugis). Hal ini sangat dimungkinkan dimana Desa Koto Perambahan diasumsikan sebagai desa tempat persinggahan oleh Sultan.

Dilihat dari segi arsitekturnya Masjsid Al Qubro di desa Koto Perambahan ini mempunyai banyak kesamaan dengan mesjid kuno yang berada di desa Tanjung Berulak, Kecamatan Air Tiris. Namun catatan mesjid Jamik Air Tiris,terdapat catatan yang lebih terang dan dapat dibaca riwayatnya. Seperti ini: Dibangun pada tahun 1901, dimana pendirinya adalah ulama lokal Datuk Engku Mudo Songkal bersama-sama warga masyarakat. Konstruksinya semua terbuat dari kayu tanpa paku (menggunakan pasak). Mesjid ini mempunyai ukiran khas Melayu China dan batu kerbau yang konon bisa berpindah tempat serta dipercaya bisa menyembuhkan penyakit, menjadikannya obyek wisata religi yang penting.

Awalnya masjid ini seluruh bangunannya dari kayu, atapnya kini sudah diganti dengan seng, namun bangunan intinya tetap kokoh. Pada Tahun 2004, bangunan masjid ini ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Kementerian Kebudayaaan dan Pariwisata. Narasi ini dikutip dari Ringkasan AI.

Bagaimana dengan mesjid Al Qubro? Di dalam mesjid, terdapat sejumlah tulisan beraksara Arab yang mengutip beberapa ayat suci dari Al Quran. Bagaimana mungkin terjadi kesamaan arsitektur dengan mesjid Jamik Air Tiris, agaknya masih belum mendapatkan informasi yang jelas. Bilamana mesjid Al Qubro diasumsikan sebagai mesjid yang menjadi tempat persinggahan Sultan Mahmud, maka dapat dipastikan bilamana mesjid Al Qubro pendiriannya jauh lebih awal dari Masjid Jamik Air Tiris. Apalagi bilamana dikaitkan dengan adanya Istana Kampa di desa itu. Memang Istana Kampa saat sekarang ini merupakan bangunan yang dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Kampar saat Bupatinya adalah Jefri Nur (sekitar tahun 2013). Istana Kampa itu didirikan di Koto Perambahan tentu saja tidak bisa dipisahkan dari jejak-jejak Sultan Mahmud, dimana isteri yang sangat dia cintai, Tun Fatimah, berada dan bermukim untuk sementara di Sungai Tonang.

Kompleks Makam. Keberadaan kompleks makam yang lokasinya tidak jauh dari Istana Kampa juga menjadi perhatian. Di depan komplek makam itu terdapat papan pengumuman yang tentu saja berasal dari masyarakat setempat. Bunyinya adalah PERHATIAN. Dilarang keras membangun kuburan (Kungkuong) dengan menggunakan semen dan keramik di arena kuburan ini. Ditulis dengan huruf kapital berwarna hitan. Papannya sendiri berwarna putih.

Paham keagamaan masyarakat di Koto Perambahan, agaknya seperti paham keagamaan masyarakat Muslim di Mekah dan di Madinah, dimana setiap makam cukup ditandai dengan batu saja, bahkan tanpa penulisan nama-nama sang almarhum. Di pemakaman Koto Perambahan, agak berbeda, karena nama-nama almarhum tetap boleh ditulis, namun makam itu sendiri tidak ada yang dibangun dari semen atau marmer/keramik, sebagaimana banyak ditemukan di sejumlah pemakaman di Pekanbaru. Namun khusus untuk kuburan seorang sultan, yaitu Sultan Adlisyah, yang merupakan penerus dari Sultan Mahmud Syah, yang wafat Tahun 1928, ternyata mendapat perlakuan khusus. Makam Sultan ini merupakan makam yang disemen, dikeramik, dan dibuatkan rumah-rumahannya. Walaupun terkesan tidak terlalu terawat, seperti dengan terlihat banyaknya batu-batu yang tersebar di area makam, dan atap rumah kuburan yang mulai banyak terkelupas, namun keberadaan rumah kuburan ini terlihat sangat khusus. Satu-satunya rumah kuburan dalam pemakaman itu. Ini menandakan bahwa dalam hal apapun juga, selalu ada yang namanya perlakuan khusus.

Mungkin ada baiknya, setiap penziarah yang datang ke makam Sultan Adlisyah ini, menyiapkan diri untuk sejenak bergotong royong bersih-bersih, di sekitar makam ini, dengan sebuah sapu pun sudah cukup. Boleh jadi juga sesekali rombongan DMDI datang untuk bergotong royong agar membuat makam Sultan ini menjadi lebih bercahaya dan menarik. Hal ini perlu dilakukan paling tidak untuk memberi contoh pada masyarakat setempat, bahwa bagaimanapun kebersihan dan keindahan sebuah makam itu merupakan bagian cerminan dari kehidupan masyarakat setempat.

Penulis adalah peminat sejarah dan kini masih bertugas pensyarah di Universitas Islam Riau, pendiri organisasi penulis SATUPENA tahun 2017 di Solo dan kini sebagai Penasehat Utama SATUPENA Wilayah Riau.

Comments (0)
Add Comment