Jurnalisme, Cinta dan Prahara: Catatan Rian Kurniawan Harahap (Bagian-4)

Jurnalisme bisa dikatakan sebagai pisau untuk mengupas sejarah tentang Lanun Alang Tiga. Prinsip-prinsip dasar jurnalisme seperti kebenaran dan akurasi, objektivitas, independensi, keberimbangan dan keadilan menjadi bagian yang muncul dominan dalam mengorek informasi dari narasumber. Saya tidak akan mengatakan bahwa novel ini dihantar oleh jurnalisme. Justru jurnalisme hadir lebih jauh dari itu. Setiap bagian jurnalisme yang dimainkan oleh tokoh-tokoh tersebut telah purna sebagai bahan baku. Jurnalisme menjadi sebuah bagian yang sama penting dengan sejarah yang ada dalam buku ini.
Novel ini tidak dihantar atau pun menghantarkan sejarah. Jurnalisme menjadi bahan penting untuk mengelola data primer sejarah, untuk kemudian diubah suai sebagai bahan baku merekonstruksi kejadian-kejadian sejarah itu sendiri. Data-data yang diperoleh dari narasumber, buku-buku, atau penelitian dengan sumber sejenis jadi dasar untuk mengembangkan outline penceritaan. Inilah yang disebut dengan keunikan dalam sebuah karya sastra. Novel sebagai sebuah karya sastra tidak berdiri sendiri, namun berintegrasi dengan jurnalisme.
Adapun Jurnalisme yang dibangun dengan menciptakan ‘bangunan’ tanpa batas untuk menunjukkan bahwa karya sastra ini berdiri tanpa embel-embel ‘tempelan’. Semua bagian dianggap penting tanpa mengaburkan tugas dan fungsi novel sejarah itu sendiri. Jurnalisme yang dimulai dengan pencarian oleh Nadin seorang jurnalis Suara Borneo. Tulisan yang dimuat berseri dengan berbagai macam pola penelusuran untuk menemukan jejak Iranun yang disebut sebagai orang melayu timur di daerah Indragiri.
“Seminggu setelah seri tulisan terakhir, saya diminta ikut musyawarah para editor. Datuk Rahman sebagai Chief Editor dan Publisher, minta isu Iranun itu dijadikan liputan bersambung di Suara Borneo. Mereka minta tiap hari. Mulai saya menjejak kaki di Riau sampai saya kembali. Untuk seri tulisan di kaki halaman muka,” cerita Nadin lagi. (hlm.23)
Jurnalisme yang mengupas sisi latar belakang serta sistematisnya alur kejadian menunjukkan bahwa kerja jurnalisme memang dituntut rapi dan langsung dari sumber. Dalam Lanun Alang Tiga ada pesan yang jika ditilik lebih dalam menunjukkan bahwa jurnalisme adalah bidang yang menarik untuk digeluti. Bisa dilihat dari kebebasan ruang mencari berita langsung ke keturunan atau zuriat Iranun di Indragiri maupun Alang Tiga. Ini menyampaikan secara tersirat bahwa kerja-kerja jurnalisme adalah kerja yang membutuhkan keberanian, waktu dan kebebasan.
Nadin dan Mustam dijadikan sebagai representasi wartawan yang gigih mencari berita untuk dimuat dalam surat kabar. Sosok-sosok yang digambarkan rela meninggalkan keluarga serta kampung halaman demi melakukan liputan berseri tentang Iranun. Nadin yang dibentuk oleh Datok sebagai protagonis dengan konflik-konflik yang dimilikinya. Menunjukkan salah satu ciri kekuatan novel ini sebagai sebuah novel yang menjamah batas realis ‘segar’ (baca:kekinian) yang kesehariannya bisa dilihat dalam keseharian wartawan. Sebagai tokoh protagonis Nadin bergerak sebagai motor menjadikan cerita itu menggelinding menunjukkan peristiwa-peristiwa lewat pencarian informasi dari narasumber.
Datok Rida menciptakan ini bukan tanpa alasan. Membaca profesi wartawan yang telah digelutinya selama bertahun-tahun tentu bukanlah hal yang sulit untuk membuat pertanyaan-pertanyaan penelusuran dari mulut Nadin. Selain itu, karya novel ini juga diukur dengan alat ukur ketepatan dan akurasi. Bagaimana seorang wartawan harus menunjukkan ketepatan dan akurasi dari sebuah data untuk lembali ditulis redaksinya. Jurnalisme digunakan sebagai rahim tempat lahirnya informasi-informasi sejarah yang disampaikan narasumber.
Lagi, jurnalisme telah melampaui batasnya sebagai sebuah komoditas news, feature atau editorial. Hal-hal besar dibuka oleh kerja jurnalisme yang masuk dari kota besar hingga ke ceruk-ceruk kampung. Melihat dari sisi yang berbeda serta menafsirkan persepsi peristiwa dari mata yang lain. Nadin dan pola kerjanya yang mengejar deadline untuk kolom surat kabar pagi dibuat senyata mungkin. Mendekatkan kerja jurnalis pada pembaca yang mungkin awam atau pernah tahu namun tak menyangka akan sedetil itu.
Sementara Prof. Kazai dibentuk dengan sosok intelektual yang terbiasa dengan prosiding seminar, tulisan jurnal yang terindeks, atau kemampuan-kemampuan intuisinya sebagai seorang akademisi kampus. Ia menjadi tokoh sentral atau pencerita, seperti ensiklopedia sejarah yang berjalan. Prof. Kazai inilah yang diduga menjadi kekuatan Datok Rida untuk mengantisipasi kecaman-kecaman dari luar bahwa sejarah yang tertulis tersebut valid dan benar adanya. Datok sengaja menempatkan Prof. Kazai sebagai penjaga kemurnian peristiwa sejarah sebagai sebuah tragedi yang tidak perlu lagi ditanyakan kesahihannya. Penempatan yang cukup cerdas untuk menembus halang rintang yang dalam setiap penulisan novel sejarah akan ada pro dan kontra mengenai masing-masing versinya. Sekali lagi, novel sejarah dalam hal ini Lanun Alang Tiga mesti dibaca sebagai sebuah karya fiksi utuh.
Novel ini tentunya telah menjadi catatan sendiri dalam menambah khasanah prosa Indonesia yang menyentuh novel-novel berbasis kerja jurnalisme. Datok Rida mencoba menawarkan pendekatan empirismenya sebagai wartawan yang telah makan asam garam. Ia membingkai bagaimana jiwa jurnalis muda seperti Nadin yang menggebu-gebu dalam mencari informasi. Nadin yang punya gejolak muda serta egosentris yang berapi-api harus dihadapkan pada rintangan lain yaitu kisah asmaranya.
Nadin dalam novel ini sudah memiliki kekasih di Sabah yang juga keturunan Iranun. Haini namanya perempuan asal Belud. Ketika cerita telah dimulai di Sumatera dialog-dialog yang lahir mulai mengarah pada pindah hatinya Nadin pada seorang gadis keturunan Iranun. Gadis yang baru saja lulus kuliah tersebut tinggal di Patah Parang. Tempat Nadin mencari sumber-sumber peninggalan Iranun Tempasuk hingga sampai ke Indragiri. Kebetulan pula ayahnya – Ami Mat– menjadi salah satu narasumber primer yang masih tersisa untuk menjelaskan riwayat Panglima Sulong.
Fokus kisah percintaan yang memang mulai dibangun dari awal oleh Datok Rida menunjukkan bahwa genre novel sejarah tidak serta mertas harus membosankan. Kesan novel-novel sejarah yang selalu berkutat dengan angka dan peristiwa mencair dengan padanan kisah cinta Nadin dengan Haini dan Julia. Amore yang biasa dimainkan dalam novel-novel popular atau scifi diramu kembali oleh Datok dalam novel sejarah. Kisahnya tidak menjadi tempelan, namun seperti benar-benar terjadi. Pasalnya, penggunaan nama-nama kampus, komunitas serta seting tempat digunakan secara realis.
Lanun Alang Tiga mengurung pembaca dalam pertanyaan-pertanyaan tentang ujung kisah Haini, Nadin dan Julia. Tidak sampai disitu, ternyata Julia juga sudah punya kekasih bernama Awi. Seorang lelaki yang dekat dengan Julia dan ingin melanjutkan kuliahnya ke Malaysia. Konflik batin yang melanda keempat tokoh dengan baik membuat pembaca menerka-nerka kemana arah cerita. Sebagai seorang penulis novel sejarah, Datok Rida tidak hanya fokus memperhatikan sejarah yang ia rajut kembali. Namun, ia juga punya tugas menjalin kisah Nadin seorang jurnalis Sabah yang sedang jauh dari kekasihnya dan ‘main hati’ dengan Julia.
Cerdasnya novel ini sebenarnya dilihat dari bagaimana tidak ada satu pun tokoh yang bersifat menempel pada kisah. Tokoh-tokoh punya watak yang sengaja dikemas berbeda sehingga muncullah katarsis yang tak berhenti-henti hingga akhir novel. Nadin pun telah menunda-nunda kepulangan demi bisa lebih dekat dengan Julia. Nadin mengajak Ami Mat beserta keluarga untuk ke Sabah dan gayung pun bersambut. Penceritaan dengan motif percintaan akan selalu menarik sampai kapan pun. Lihat saja kisah Romeo Juliet kaya Shakespear yang hingga kini masih relevan.
Lantas, keinginan Nadin dan Julia untuk bersatulah yang menjadi sorotan. Amore atau percintaan akan selalu diselubungi oleh tragedi perpisahan atau pertemuan. Lanun Alang Tiga ditulis dengan memilih untuk pergi dan berpisah baik-baik mesti ada ‘bumbu’ lari dari rumah yang dimainkan oleh Julia. Keinginan untuk bisa bersama-sama mesti dikubur dalam-dalam oleh Nadin dan Julia hingga akhirnya harus kembali pada mula cerita. Kembang ke pangkal jalan sebelum menuju ke ujung jalan.
Di dalam speed boat mereka menuju Batam, Nadin bercerita, bahwa Ami Mat minta maaf karena tidak jadi pergi ke Sabah karena selain agak uzur, juga karena anaknya Julia, tak bisa ikut serta, dan sedang pergi ke KL juga, melanjutkan sekolahnya. “Dia sudah menikah,” kata Nadin, agak parau. Haini menjelingnya dan membuat Nadin serba salah. (hlm.354)
Prahara percintaan antara Nadin dan Julia merupakan sebuah simbol keinginan setiap Iranun untuk kembali memperoleh Zuriat Iranun murni. Apakah hal tersebut menjadi salah? Tentu saja tidak, dalam cerita ini memang diselipkan bahwa keberadaan Iranun yang semakin hari semakin sedikit melakukan pernikahan memparpanjang garis keturunan Iranun. Ini bukan chauvinisme tapi ini semacam pesan untuk menjelaskan eksistensi dan keberadaan Iranun.
Pandangan-pandangan tentang Iranun Tempasuk yang semakin terang di Indragiri dan Alang Tiga membuat novel ini hampir tuntas. Namun, masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang mengganjal dalam intuisi pembaca. Iranun Tempasuk yang jauh hari sudah menjalin hubungan dengan melayu semenanjung masih belum dijelaskan secara gamblang. Pertanyaan-pertanyaan seputar sisa-sisa keturunan Panglima Sulong juga masih belum terungkap.
Datok Rida telah menyelesaikan tulisannya untuk kembali mengaktifkan ingatan tentang sejarah. Ia menggali pemikiran-pemikiran liarnya yang haus akan teori kemungkinan. Ia berangkat dari andai kata, bisa jadi, atau mungkin, pola-pola itulah yang digunakan sebagai bentuk kemungkinan yang bisa dijabarkan dalam sebuah karya fiksi yang penuh dengan tafsir. Matanya mesti melihat lebih jauh dari pada pengamat sejarah, naluri ingin tahunya mesti jauh lebih tinggi dari seorang peneliti. Begitulah ia melihat bahwa yang sejarah yang terjadi mungkin akan berulang di masa depan atau bahkan hilang dan lenyap begitu saja. Sehingga kemampuan-kemampuan untuk menalar kisah sejarah ‘mati’ dalam sebuah peristiwa atau definisi terdahulu yang mungkin telah dipakemkan oleh beberapa orang.
Meskipun sejarah yang dituliskan dalam bentuk novel, namun kehadirannya justru menambah tafsir dan ruang bagi penjelajah dimensi waktu. Novel ini bisa jadi akan menjadi kontroversi apabila ada pihak-pihak yang tidak setuju dengan jalinan sejarah yang diuntai. Namun, kembali lagi pada hakikatnya bahwa ini adalah novel sejarah yang telah ditulis dengan riset dan penelitian namun kembali pada khittahnya sebagai sebuah karya fiksi.
Iranun atau Lanun yang datang dari Mindanao bukanlah penjahat seperti yang didengungkan oleh banyak orang. Lanun Tempasuk adalah gerakan militansi dalam menjaga solidaritas melayu. Mereka hidup merayau-rayau demi terciptanya negeri yang jauh dari cengkeraman kolonialisme. Apatah lagi, mitos-mitos yang mengatakan bahwa lanun itu sangat keji. Mereka keji pada kezaliman dan tunduk pada zuriat sultan.
Panglima Sulong sebagai salah satu tokoh yang telah diberi gelar kehormatan Bintang Mahaputera menjadi momen penting yang diungkap dalam novel ini. Hal yang mungkin dianggap remeh temeh bagi sebagian orang namun esensinya sangat mengakar di kalangan masyarakat Indragiri, Lingga begitu juga dengan Iranun Tempasuk. Gerakan inilah yang ingin dititipkan sejatinya oleh Datok Rida tentang mengingatkan kembali upaya-upaya kepada pemerintah pusat untuk mengesahkan penghargaan pahlawan nasional kepada orang-orang melayu yang telah berdarah-darah ratusan tahun lalu, jauh sebelum negeri ini merdeka.
Gerakan ini mestinya menjadi pemantik api bagi penulis-penulis yang peduli dengan budaya dan sejarah untuk kembali menggelorakan tokoh-tokoh dari melayu sebagai bahan penulisan. Gerakan ini mestinya menjalar ke daerah-daerah yang telah lama mengajukan pahlawan nasional. Apa kabar dengan Narasinga dari Indragiri, Tengku Buang Asmara dari Siak, Mahmud Marzuki dari Kampar? Masih banyak lagi daftar tokoh-tokoh yang mestinya mendapatkan tempat yang layak dari pusat. Novel Lanun Alang Tiga mestinya menjadi teks panjang yang ditafsir dalam meneroka apa yang terjadi di negeri ini. Kisah ini bukan hanya bercerita tentang sejarah yang kemudian ditafsir ulang, namun kemana akan membawa sejarah di negeri ini. Mengutip puisi Datok Rida: “Sebatang tempuling tersadai di gigi pantai, sehabis badai”. Apakah melayu kini tersadai di gigi pantai? Menyerah? Tidak, bergegaslah meriam telah siap. Panglima Sulong telah berdiri di bentengnya menghadapi Belanda. Tabik Lanun Alang Tiga.
Hikayat Iranun dari Tempasok
(Rida K Liamsi)
: Ayo segera berlayar!
Jaga pusaka moyang kita
Jangan biarkan sesiapa pun melintas
Kecuali berbudi balas
Laut itu kita punya
Sejauh mata memandang
Tak boleh ada yang menyalang
Sesayup suara angin
Tak boleh ada yang ingin
Beri upeti atau kita serang
Kita yang punya ikan dan teripang
Tokong, Pulau Suak, dan rantau
Jangan ada yang datang, sembarang
***

Daftar Bacaan
Budianta, M. (2006). Budaya, Sejarah, dan Pasar: New Historicism dalam Perkembangan Kritik Sastra. Jakarta: HISKI Yayasan Obor Indonesia.
Datu Bandira Datu Alang. (1992). Iranun: Sejarah dan Adat Tradisi. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.
Djokosujanto, A. 2001. Novel Sejarah Indonesia: Konvensi, Bentuk, Warna dan Pengarangnya. Jakarta Lembaga Penelitian Universitas Indonesia.
Fleishman, Avrom. 1971. The English Historical Novel. (Walter Scott to Virginia Woolf). Baltimore and London: The John Hopkins Press.
Lokman Abdul Samad & Asmiaty Amat. (2012). Iranun. Dlm. Kntayya Mariappan & Paul Porodong (ed). Murut dan Pelbagai Etnik Kecil Lain di Sabah, 303-317. Kuala Lumpur: Institut Terjemahan dan Buku Malaysia.
Lukacs, Georges. 1963. Théories du roman. Paris: Gonthier.
Kuntowijoyo. 1987. Budaya dan Masyarakat. Yogyakarta: Tiara Wacana
Wellek, R. & Waren, A. 1995. Teori kesusastraan. Jakarta: PT. Grasindo

Rian Kurniawan Harahap M.Pd. lahir di Pekanbaru pada 5 Juli 1989. Saat ini menjabat Ketua Komite Sastra Dewan Kesenian Kota Pekanbaru periode 2020-2025 dan Ketua Jaringan Teater Riau (JTR) periode 2022-2024. Menulis dua buku tunggal Novel Kelambu Waktu (Salmah Publishing, 2020) dan Kumpulan Cerpen Api Rimba (Lovrinz Publisher, 2022). Namanya dikenal melalui karya-karyanya berupa puisi, cerpen, dan esai yang dipublikasikan di sejumlah surat kabar, dan terangkum dalam berbagai antologi.
Berbagai penghargaan dan prestasi telah diraihnya di antaranya:
• Juara 2 Esai Inkubator Literasi Terbaik Perpusnas Riau 2023
• Juara 2 Esai Sutardji Terbaik Unilak Riau 2023
• Juara 1 Cipta Puisi Nasional UNS 2023
• Juara 1 Esai Teater Terbaik Dinas Pariwisata Riau 2022
• Juara 2 Laman Cipta Sastra Cerpen DKR 2022
• Juara 3 Laman Cipta Sastra Cerpen DKR 2022
• Juara 3 Esai Daerah Dispusip Kampar 2022
• Tujuh Esai Teater Pemenang Nasional Dinas Kebudayaan Sumbar 2021
• Juara 3 Cipta Cerpen Nasional Sekacil 2021
• Juara 2 Naskah Drama Nasional Dewan Kesenian Metro Lampung 2020
• Juara 3 Festival Sastra Sungai Jantan Kabupaten Siak 2019 dan 2023
• Juara 1 Cipta Puisi Guru Nasional Universitas Islam Riau 2019 dan 2020
• Juara 2 Naskah Drama Nasional Fakultas Ilmu Budaya UGM 2017

Comments (0)
Add Comment