Kebutuhan Semu dan Remaja dalam Pandangan Herbert Marcuse: Catatan Bambang Kariyawan Ys.

Kala mengikuti diskusi pemikiran filsafat yang digagas oleh Prof. Yusmar Yusuf di Norma Coffee Pekanbaru, salah satu peserta ada yang membincangkan tentang posisi remaja kita saat ini. Remaja yang telah kehilangan jati diri karena mengikutkan kebutuhan-kebutuhan semu. Iklan sebagai produk kapitalis benar-benar telah menggerus makna identitas diri.
Saya sempat kilas balik kala mengajar di dalam kelas (Sosiologi) terhadap anak-anak remaja yang duduk di bangku SMA. Teringat kala mengajar Sosiologi pada sub materi “Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Interaksi Sosial” ada disebutkan tentang imitasi, identifikasi, dan sugesti. Ketiga faktor itu sekali lagi benar-benar telah menjengkangkan kedirian remaja yang memiliki keunikan masing-masing. Gempuran iklan yang menampilkan berbagai produk kapitalis yang dikenakan dan digunakan figur publik sepertinya menjadi kebutuhan wajib yang harus diikuti. Padahal itu semua kebutuhan semu yang justeru menghilangkan “keakuan” remaja tersebut dengan segala kelebihan dan kekurangan yang Tuhan titipkan padanya. Bagaimana Herbert Marcuse memotret fenomena ini?
Herbert Marcuse sebagai seorang filsuf dan teoretikus Frankfurt School, pemikirannya berfokus pada kritik terhadap masyarakat kapitalis dan alienasi individu. Meskipun Marcuse banyak membahas masyarakat secara keseluruhan, pandangannya juga dapat diterapkan pada perilaku remaja dalam konteks kebutuhan semu ini.
Menurut Marcuse, perilaku remaja dalam masyarakat kapitalis cenderung dipengaruhi oleh kondisi sosial, budaya konsumerisme, dan sistem nilai yang didorong oleh keinginan untuk mencapai kepuasan materi. Marcuse berpendapat bahwa dalam masyarakat yang didominasi oleh kapitalisme, remaja sering kali terjerat dalam spiral konformitas dan pemenuhan keinginan yang tak terbatas.
Marcuse mengkritik budaya konsumerisme yang merayu remaja melalui iklan, media massa, dan industri hiburan yang terus mendorong mereka untuk membeli produk dan mencapai status sosial tertentu. Menurutnya, remaja menjadi korban manipulasi oleh kepentingan kapitalis yang mengarah pada alienasi individu dan hilangnya kemandirian.
Marcuse juga berpendapat bahwa dalam masyarakat kapitalis, remaja dihadapkan pada “kesenangan palsu” yang diberikan oleh industri hiburan dan teknologi modern. Remaja diarahkan untuk menghabiskan waktu dan energi mereka dalam konsumsi hiburan, seperti menonton televisi, bermain video game, atau menggunakan media sosial, yang dapat mengaburkan pandangan mereka tentang realitas sosial yang lebih luas.
Lebih jauh lagi, Marcuse melihat adanya potensi revolusioner dalam perilaku remaja. Menurutnya, remaja memiliki kemampuan untuk mempertanyakan dan menantang norma-norma yang ada, serta melawan sistem yang menindas dan membatasi kebebasan individu. Dia berpendapat bahwa remaja dapat menjadi agen perubahan sosial yang penting jika mereka mampu mengembangkan kesadaran kritis dan keinginan untuk mengubah masyarakat menjadi lebih adil dan bebas.
Pandangan Marcuse tentang perilaku remaja didasarkan pada pemahaman kritisnya terhadap masyarakat kapitalis. Dia melihat adanya potensi pembebasan dan perubahan dalam tindakan remaja, tetapi juga mengakui tantangan dan hambatan yang mereka hadapi dalam menghadapi dominasi sistem sosial yang ada.

Bambang Kariyawan Ys., Guru Sosiologi.

Comments (1)
Add Comment
  • Ali Imran

    Bukan hanya remaja yang terjebak dalam kebutuhan dalam kepalsuan, semua individu yang memiliki sifat konsumtif yang telah dinina bobokan oleh kapitalis dengan suguhan-suguhan iklan yang menjadi fashion/style bagi setiap individu mayoritas. Pemikiran Herbet Marcuse jika ditilik dari One Dimentional Men seharusnya membuak kita lebih selektif dalam menentukan sebuah kebutuhan. Semoga pemikiran yang fundamental dari seorang Herbert Marcuse bisa kita dalami dari perspektif berbagai profesi, supaya lebih membooming dikalangan masyarakat sehingga benar-benar tidak menjadi pro dan kontra sebagai mana isu yang berkembang.