Kehidupan di dunia ini hanya sementara, sedangkan kematian pasti akan datang. Tidak hanya manusia, tetapi semua makhluk bernyawa di muka bumi akan mengalami kematian. Cepat atau lambat, kematian merupakan keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Kematian adalah bagian dari ketetapan Allah SWT yang tidak dapat dimajukan ataupun diundurkan dari waktu yang telah ditentukan-Nya.
Kematian ibarat pintu yang pada akhirnya akan dilewati setiap penghuni rumah kehidupan. Ia menjadi simbol keterbatasan makhluk sekaligus titik akhir perjalanan hidup di dunia. Realitas ini menegaskan bahwa tidak ada sesuatu pun di dunia yang abadi. Semuanya akan berakhir, kecuali Allah SWT, Sang Pencipta Yang Maha Kekal. Hal ini ditegaskan dalam sejumlah ayat Al-Qur’an, antara lain QS. Ali Imran (3): 185, QS. Al-Anbiya (21): 35, dan QS. Ar-Rahman (55): 26–27.
Pada hakikatnya, disadari ataupun tidak, segala sesuatu di dunia berjalan menuju kefanaan. Setiap yang lahir pada akhirnya akan mati, setiap yang dibuat pada saatnya akan rusak, dan setiap yang kuat pada gilirannya akan melemah. Begitulah sunnatullah yang berlaku dalam kehidupan. Segala sesuatu memiliki batas, kecuali Allah Azza wa Jalla, yang Maha Kekal.
Al-Qur’an dengan indah menggambarkan proses tersebut melalui Firman Allah SWT dalam QS. Az-Zumar (39): 21. Allah menjelaskan bagaimana air diturunkan dari langit, mengalir menjadi sumber-sumber air di bumi, lalu menumbuhkan beragam tanaman. Tanaman itu kemudian mengering, menguning, dan akhirnya hancur berderai. Gambaran ini menjadi perumpamaan yang nyata tentang perjalanan kehidupan: tumbuh, berkembang, menua, lalu berakhir.
Begitulah realitas kehidupan. Setiap yang ada pada akhirnya akan tiada. Kenyataan ini semestinya mendorong manusia untuk berpikir dan merenungkan dirinya sendiri. Sebagai makhluk Allah SWT, manusia memiliki banyak keterbatasan, baik dalam kekuatan, kesehatan, usia, maupun kemampuan lainnya. Pada dirinya terdapat fase-fase kelemahan yang tidak dapat ditolak.
Oleh karena itu, manusia tidak layak bertakabur ketika memiliki kelebihan, tidak pantas bersikap pongah ketika memperoleh kenikmatan, dan tidak sepatutnya membanggakan kebesaran dirinya secara berlebihan. Sebab, semua itu tidak berlangsung selamanya. Apa yang dimiliki hari ini suatu saat akan berkurang, berubah, atau hilang. Di sinilah letak pentingnya merenungi hakikat diri dan segala yang dimiliki.
Karena kehidupan dunia bersifat fana, kenikmatan di dalamnya pun tidak berlangsung selamanya. Kesenangan duniawi dapat memperdaya manusia apabila dijadikan sebagai tujuan utama kehidupan. Oleh sebab itu, sungguh keliru apabila manusia tenggelam dalam perlombaan mengejar kepuasan dunia dan mencintainya secara berlebihan. Allah SWT mengingatkan dalam Firman-Nya: “…dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.” [QS. Ali Imran (3): 185].
Bagi orang beriman, kehidupan akhirat merupakan tujuan utama. Segala sesuatu yang diupayakan di dunia semestinya menjadi sarana untuk meraih kebahagiaan hakiki di akhirat. Dunia bukanlah tujuan akhir, melainkan tempat menanam amal yang kelak akan dipanen di kehidupan berikutnya.
Sebaliknya, orang yang menjadikan kehidupan dunia dan perhiasannya sebagai satu-satunya tujuan akan terjebak dalam kenikmatan sesaat. Pandangannya hanya tertuju pada kesenangan lahiriah, sementara kehidupan akhirat terlupakan. Padahal, kesenangan dunia tidak dapat menjamin keselamatan dan kebahagiaan abadi.
Allah SWT berfirman: “Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” [QS. Hud (11): 15–16].
Kefanaan yang Allah SWT tetapkan pada kehidupan di dunia juga merupakan tanda-tanda kekuasaan-Nya. Melalui berbagai peristiwa di alam semesta dan perubahan yang terjadi pada diri manusia, Allah SWT mengajak kita untuk berpikir, mengambil pelajaran, dan menyadari akan kebesaran-Nya.
Hal ini ditegaskan dalam Firman Allah SWT: “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kebesaran) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Qur’an itu adalah benar. Tidak cukupkah (bagi kamu) bahwa Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” [QS. Fussilat (41): 53].
Melalui ayat-ayat-Nya, Allah SWT mengingatkan manusia bahwa kehidupan dunia tidak kekal. Segala yang ada bersifat sementara dan fana. Adapun akhirat merupakan kehidupan yang hakiki, tempat manusia mempertanggungjawabkan segala amal perbuatannya selama hidup di dunia.
Oleh karena itu, marilah kita memanfaatkan waktu, kesehatan, kesempatan, dan segala karunia Allah SWT untuk memperbanyak amal saleh. Jangan sampai kesibukan mengejar dunia membuat kita lalai mempersiapkan bekal untuk kehidupan akhirat. Hendaklah kita seimbang di kehidupan keduanya. Sukses di dunia apatah lagi di akhirat kelak.
Sebab, kehidupan di dunia hanyalah persinggahan, sedangkan akhirat merupakan tempat kembali. Semoga Allah SWT membimbing kita agar mampu menjalani kehidupan di dunia ini dengan penuh kesadaran, memperbanyak amal kebajikan, dan memperoleh keberuntungan di sisi-Nya. Aamiin.
Wallahua’lam bish-shawab.
Guru MTsN 1 Bengkalis dan Alumni Program Magister PAI-IAIN Datuk Laksemana Bengkalis