Kembali ke Pengaturan Pabrik: Catatan Gino Gumara

Bayangkan sebuah pabrik yang dibangun dengan tujuan awal memproduksi produk yang tahan lama, berkualitas tinggi, dan bermanfaat bagi masyarakat umum. Namun, seiring berjalannya waktu, lini produksinya mulai terganggu. Standar kualitas dikompromikan, sumber daya dan bahan baku diabaikan, dan yang paling parah tujuan produksi pun terlupakan. Alih-alih menciptakan barang berkualitas tinggi ataupun produk unggulan, pabrik tersebut kini disibukkan dengan mempercantik kemasan tanpa mempertimbangkan isinya.

Situasi pendidikan saat ini mungkin dapat digambarkan melalui analogi ini: sebuah sistem yang telah kehilangan “pengaturan pabriknya“—tujuan utama pendidikan itu sendiri.

Pendidikan atau Sekadar Administrasi?

Mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab“. Kalimat ini termaktub dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 20 Tahun 2003 yang menjabarkan tujuan pendidikan Indonesia. Namun kenyataan yang ada, sudah nampak jauh panggang dari api.
Pendidikan kini seolah hanya sekadar urusan administrasi. RPP, penilaian formatif dan sumatif, CPMK, rubrik penilaian, dan platform digital yang terus berkembang hanyalah beberapa dari sekian banyak laporan yang harus dihadapi guru. Padahal, esensi dari mendidik adalah membangun relasi antara pendidik dan peserta didik—relasi yang sarat nilai, makna, dan keteladanan. Namun, administrasi, layar LCD dan aplikasi yang “merdeka” tetapi sebenarnya membelenggu telah terlalu dominan menggantikan hubungan tersebut. Tidak ada salahnya pabrik meng-upgrade mesin dan teknologinya, namun output tidak boleh lari dari setting-an awalnya.

Sekolah: Tempat Berkembang atau Pabrik Nilai?

Pemujaan terhadap peringkat dan angka merupakan fenomena aneh lainnya. Bukan karena siswa benar-benar memahami ilmu tersebut, tetapi karena sekolah bersaing untuk menghasilkan lulusan dengan nilai bagus untuk akreditasi. Faktanya, bukan hal yang aneh jika penyeragaman cara berpikir, menciptakan kelas-kelas yang “unggul”, dan praktik-praktik memanipulasi nilai menjadi hal yang biasa.

Ironisnya, siswa yang unik, kreatif dan imajinatif justru kadang dianggap melanggar aturan. Mereka terkadang dituduh “mengganggu kelas” ketika mereka mempertanyakan aturan yang kaku, mengajukan terlalu banyak pertanyaan, atau bahkan berpikir di luar buku pelajaran. Sekolah bukan lagi tempat tumbuh dan menemukan jati diri, melainkan pabrik pencetak “produk” yang seragam, patuh, dan siap ujian.

Pendidikan yang Gagal Menghadirkan Manusia

Hilangnya orientasi kemanusiaan merupakan aspek paling menyimpang dari setting-an pabrik pendidikan kita. Pendidikan kini dipandang sebagai proses input-output untuk pasar tenaga kerja, bukan sebagai sarana memanusiakan manusia (humanisasi). Sasaran kurikulum adalah membuat siswa “siap kerja“, tetapi “tak siap hidup”. Mereka menyadari rumus luas permukaan bola, tetapi tidak memiliki keterampilan yang diperlukan untuk menangani kegagalan, mengendalikan emosi, atau terlibat dalam konflik secara sehat.
Tragisnya, sistem kita justru memperlebar kesenjangan. Disaat banyak daerah tertinggal harus puas dengan bangunan reyot dan guru honorer tak pasti gajinya, kota-kota besar justru ditumpuk dengan sekolah-sekolah berfasilitas mewah.

Sudah Saatnya Kembali ke Tujuan Awal
Melihat realitas ini, penulis mengajak untuk menekan tombol “reset”, yang akan mengembalikan sistem pendidikan ke pengaturan awal, yakni mendidik manusia seutuhnya.
1. Kembalikan Esensi Pendidikan sebagai Proses Pemerdekaan
Mengutip Ki Hadjar Dewantara, pendidikan adalah upaya untuk memerdekakan manusia. Ini menyiratkan bahwa daripada sekadar tunduk dan takut melakukan kesalahan, siswa harus diajarkan untuk berpikir kritis, mandiri, dan bertanggung jawab atas keputusan mereka.
2. Guru sebagai Subjek, Bukan Objek Kebijakan
Hentikan pendekatan top-down yang memandang guru hanya sebagai pelaksana kebijakan. Libatkan guru dalam penyusunan kurikulum, berikan ruang untuk kreativitas, dan kurangi beban administratif.
3. Indikator Keberhasilan Tidak Terbatas pada Nilai Kognitif
Nilai efektivitas sekolah tidak hanya dari rata-rata rapor atau nilai Ujian mereka, tetapi juga dari sejauh mana siswa tumbuh menjadi pribadi berintegritas, peduli sesama, dan siap menghadapi kehidupan.
4. Luruskan Arah: Pendidikan untuk Kemanusiaan
Membentuk pribadi yang utuh—secara spiritual, intelektual, emosional, dan sosial—adalah tujuan pendidikan. Kita telah gagal sebagai sebuah bangsa jika sistem ini justru hanya menciptakan individu yang kehilangan tujuan hidupnya.

Kita masih memiliki kemampuan untuk mengatur ulang mesin pendidikan kita. Tapi kita harus berani menekan tombol “kembali ke pengaturan pabrik”. Bukan demi romantisme masa lalu, tetapi agar pendidikan benar-benar menjadi jembatan menuju masa depan yang lebih manusiawi.

Karena pada akhirnya, kita hanya akan menciptakan robot berseragam yang bingung akan kehidupan mereka sendiri – bukan menjadi manusia merdeka – jika pabrik pendidikan ini terus beroperasi tanpa arah.

Pekanbaru, 2 Mei 2025

Comments (0)
Add Comment