Kesetiaan Semu dan Tiba-Tiba Cinta dalam “Orang Kasar”: Catatan Bambang Kariyawan Ys.

Kala membaca selebaran “Anak Kasar” dalam rangkaian Anak Pekan Fest, tercantum nama besar asal Rusia, Anton Chekov. Tercantum juga naskah saduran WS. Rendra yang tidak diragukan kepiawaiannya. Teater ini dibawakan dengan apik oleh Teater Taksu Pekanbaru. Setelah melihat dua nama tersebut, saya mencoba menelusuri karya asli dari Anton Chekov tersebut, ternyata sulit ditemukan. Dengan berbagai upaya, hanya menemukan uraian singkat tentang Anak Kasar karya Anton Chekov.

Cerita dimulai dengan pengenalan tokoh utama, seorang pria bernama Ivan Petrovich, yang dikenal sebagai orang kasar oleh penduduk desa. Dia memiliki sikap kasar dan tidak sopan dalam berbicara, sering kali menyinggung perasaan orang lain dengan kata-katanya yang kasar dan pedas. Ivan juga dikenal sebagai peminum berat dan sering terlibat dalam pertengkaran. Namun, meskipun sifatnya yang kasar, Chekov berhasil menggambarkan kompleksitas karakter Ivan. Ia menunjukkan bahwa di balik sikapnya yang keras dan kekasaran, Ivan memiliki sisi manusiawi yang tersembunyi. Melalui interaksi dengan beberapa tokoh lain, seperti tetangganya yang lembut hati dan seorang anak laki-laki yang penyabar, Ivan mulai menyadari kelemahan dan kesalahannya.

Satu pertanyaan apakah ketika menampilkan pertunjukan teater hasil karya saduran, kelompok teater penampil menyempatkan untuk mencari referensi asli naskah yang disadur? Tentunya Langkah ini diperlukan untuk menarik benang merah spirit karya dari pengarang asli. Meski WS. Rendra telah sangat berhasil melakukan proses penyaduran, pembacaan terhadap karya asli tetap diperlukan agar ditemukan “roh” kekuatan kala tampil di atas panggung.
Terlepas dari itu, saya mencoba menelisik dari naskah “Anak Kasar” saduran WS. Rendra, sepertinya naskah itu menyimpulkan sebuah pemahaman bahwa tidak ada yang namanya kesetiaan abadi. Cinta sejati itu hanya kisah dalam dongeng. Seperti apa sebenarnya makna kesetiaan?

Ahli Memandang Kesetiaan

Kesetiaan adalah konsep yang sering dibahas oleh para ahli dalam berbagai bidang, termasuk filsafat, psikologi, dan sosiologi. Berikut adalah beberapa pandangan para ahli mengenai makna kesetiaan:
Menurut Aristoteles, kesetiaan merupakan salah satu dari banyak kebajikan moral. Ia menyatakan bahwa kesetiaan melibatkan kesediaan untuk mempertahankan janji, menjaga hubungan yang baik, dan berkomitmen terhadap nilai-nilai etika yang dianut.
Immanuel Kant menyatakan bahwa kesetiaan adalah kewajiban moral yang muncul dari kewajiban untuk mematuhi aturan moral universal. Ia berpendapat bahwa kesetiaan melibatkan kepatuhan terhadap prinsip moral dan menjaga kesetaraan hak dan perlakuan terhadap semua orang.
Jean-Jacques Rousseau berpandangan bahwa kesetiaan adalah pengorbanan diri yang muncul dari cinta dan loyalitas terhadap individu atau masyarakat. Ia menekankan pentingnya rasa saling menghormati, kepercayaan, dan dedikasi dalam hubungan kesetiaan.
Sigmund Freud mengasosiasikan kesetiaan dengan konsep psikoanalisis. Baginya, kesetiaan terkait dengan pemenuhan kebutuhan emosional dan keamanan psikologis. Kesetiaan melibatkan pembentukan ikatan yang kuat dengan individu atau kelompok yang dianggap penting.
Robert Sternberg adalah seorang psikolog yang mengembangkan teori cinta segitiga. Menurutnya, kesetiaan adalah salah satu komponen penting dalam cinta yang disebut “komitmen.” Kesetiaan melibatkan keputusan sadar untuk tetap setia dan berkomitmen dalam hubungan, meskipun mungkin terdapat godaan atau kesulitan.

Mengubah Setia dan Tiba-Tiba Cinta

Sepertinya penulis naskah ingin menguatkan pemahaman bahwa yang namanya kesetiaan itu tergantung ruang dan waktu. Kesetiaan tidak wajib hanya tersemat pada kaum hawa. Kesetiaan dapat berubah dan mengubah, Berubah pada keadaan yang dapat tiba-tiba serta mengubah sesuatu yang sifat yang kasar menjadi tiba-tiba lembut. Hal ini tergambar pada sosok Nyonya Martopo yang telah berusaha mempertahankan kesetiaan dan tiba-tiba mengubah kesetiaan itu. Beliau ingin lepas sebebas-bebasnya bak burung lepas dari sangkarnya. Tergambar simbol pementasan dengan terdapat beberapa sangkar burung yang bukan sekedar tempelan hiasan semata. Hiasan yang penuh simbolik. Dua dialog berikut melihat kesetiaan Nyonya Martopo dan mencari kesetiaan yang lain

Saya minta, jangan bicara seperti itu lagi. Pak Darmo telah tahu, bahwa sejak kematian mas Martopo, hidup ini tak ada harganya lagi bagi saya. Bapak kira aku ini hidup? Itu hanya nampaknya saja, mengertikah Pak Darmo? Oh, saya harap arwahnya yang telah pergi itu melihatbagaimana aku mencintainya. Saya tahu, ini bukan rahasia pula bagimu, suamiku sering tidak adil terhadap saya, kejam, dan ia tidak setia, tetapi saya akan setia, kepada bangkainya dan membuktikan kepadanya betapa saya bisa mencinta. Di sana, di akhirat ia akan menyaksikan bahwa saya masih tetap sebagai dulu.

Kenapa pergi? Tunggu! – Tidak, pergi! Oh alangkah marahnya saya ini!
Jangan mendekat…, oh…, kemarilah…, jangan!… jangan dekat-dekat.

Sedangkan Bilal, yang dalam naskah Anton Chekov dengan tokoh Ivan Petrovich yang dikenal sebagai orang kasar, berubah ketika melihat “sesuatu” dalam diri Nyonya Martopo. Tiba-tiba mengubah Bilal yang kasar menjadi lembut untuk mencari kesetiaan.

Saya belum pernah mencinta wanita seperti ini. Dua belas wanita telah saya tinggalkan dan sembilan meninggalkan saya, tetapi tak seorangpun pernah saya cintai sebagaimana saya mencintaimu. Saya sudah kalah, tunduk seperti orang tolol, saya meniarap dilantai memohon tanganmu. Terkutuklah saya ini! Sudah lima tahun saya tidak jatuh cinta, saya seperti sebuah kereta yang terkait pada kereta lain. Saya mohon pertolonganmu! Ya, atau tidak? Sudikah nyonya? –Baiklah!

Memang begitulah cinta, berjuta warnanya. Pertunjukkan ini benar-benar komedi kehidupan yang nyata.

Comments (0)
Add Comment