Ketakutan (Kecemasan) dan Harapan Dua Hal yang Berbarengan: Tausiyah Buya Mas’oed

TAKUTLAH UNTUK BERBUAT KESALAHAN DAN DOSA.

Allah Subhanahu Wa Ta’alaa berfirman:

وَلَنْ يَّنْفَعَكُمُ الْيَوْمَ اِذْ ظَّلَمْتُمْ اَنَّكُمْ فِى الْعَذَا بِ مُشْتَرِكُوْنَ

“Dan (HARAPAN-mu itu) sekali-kali tidak akan memberi manfaat kepadamu pada hari (kiamat) itu karena kamu telah MENZALIMI (dirimu sendiri). Sesungguhnya kamu pantas bersama-sama dalam azab itu.” (QS. Az-Zukhruf 43:39).

Sebaliknya barang siapa yang memberikan syafaat yang buruk, niscaya dia akan menanggung daripadanya.
Artinya bahwa siapa yg telah menyalah gunakan syafaat yang diberikan kepadanya, seperti ;
menjadi perantara tetapi tidak jujur, memberikan jasa baik tetapi dengan niat buruk, mendamai kan tetapi dengan tidak adil, membantu menjadi perantara untuk berbuat yang tidak baik,

Maka orang semacam itu menanggung dosa atas ketidak jujuran, ketidak adilan dimaksud. Syafaat yang baik akan mendapat nashib keuntungan yang baik pula balasannya.

Kata zalim dalam ajaran Islam berarti DHOLIM, maknanya sebuah perkara atau sesuatu yang kondisi bukan selayaknya. Orang yang melakukan perbuatan zalim dinamakan dengan zalimin.

Sedangkan secara etimologi, kata zalim merupakan kata adopsi bahasa Arab, yaitu DHOLAMA, yang maknanya GELAP. Namun, kata zalim dalam Al-Qur’an menggunakan kata BAGHYU dan ZHULM, yang berarti HAK ORANG LAIN YANG DILANGGAR oleh perbuatan seseorang.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

وَمِنْ اٰيٰتِهٖ يُرِيْكُمُ الْبَرْقَ خَوْفًا وَّطَمَعًا وَّيُنَزِّلُ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَيُحْيٖ بِهِ الْاَ رْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran) Nya, Dia memperlihatkan kilat kepadamu untuk (menimbulkan) KETAKUTAN dan HARAPAN, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu dihidup kannya bumi setelah mati (kering). Sungguh, pada yang demikian itu benar- benar terdapat tanda- tanda bagi kaum yang mengerti.” (QS. Ar-Rum 30:24).

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

لَا يَسْئَـمُ الْاِ نْسَا نُ مِنْ دُعَآءِ الْخَيْرِ ۖ وَاِ نْ مَّسَّهُ الشَّرُّ فَيَئُـوْسٌ قَنُوْطٌ

“Manusia tidak jemu memohon KEBAIKAN, dan jika ditimpa MALAPETAKA, mereka BERPUTUS ASA dan hilang HARAPAN-nya.” (QS. Fussilat 41:49).

Allah SwT berfirman:

اَلْمَا لُ وَ الْبَـنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۚ وَا لْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَا بًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi AMAL KEBAJIKAN YANG TERUS-MENERUS adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi HARAPAN.” (QS. Al-Kahf 18:46)

Dalam tafsir Al-Azhar Prof. Dr. Hamka Jilid 2 halaman 1331, dicerita kan bahwa Seorang Ayah yang kematian anaknya diwaktu anaknya masih dalam usia kecil … bahwa selalu orang berkata di dalam Ta’ziah kepada bapak yang kematian itu … Semoga anak saudara yang meninggal itu akan menjadi syafaat bagi saudara di akhirat nanti. Artinya bahwa kematian anak itu akan menolong meringankan azab siksaan si ayah yang akan diterimanya karena ikhlas dan sabar.

Dalam tafsir ini, diceritakan juga :
✓. Bahwa Nabi Muhammad SAW pernah diminta oleh seorang suami utk menjadi perantara mendamai kan perselisihan rumah tangga dengan istrinya. Waktu nabi menyampai kan niat baik itu, istri bapak itu berkata;
Apakah Rasulullah memerintah kan Aku?
Namun nabi menjawab bahwa Aku hanya semata-mata memberi jasa baik.
Namun istrinya tidak mau kembali kepada suaminya sehingga bercerai.
Dengan demikian syafaat untuk hal itu tidak berhasil.
Dari cerita diatas, SYAFAAT itu bisa juga diartikan menolong. Bisa juga diartikan memberikan jasa baik, atau menjadi orang penengah dalam sesuatu hal.

✓. Dimisalkan pula bahwa ada seseorang/ teman membeli sesuatu barang di warung, kebetulan dengan uang yang ada pada nya tidak cukup untuk membayarnya.
Lalu kita menambah uutuk menggenapkan bilangan yang kurang tersebut dengan uang kita sendiri.
Perbuatan kita menolong seseorang / teman tadi itupun dinamakan syafaat. Oleh sebab itu syafaat juga diarti kan menggenapi.

✓. Dengan demikian dalam tafsir ini, bahwa kata2 Syafaat itu mengandung arti menolong atau mengetengahi dua orang berselisih untuk berdamai, memberi kan jasa baik, menggenap kan yang ganjil atau menambah yang kurang, melengkapi mana yang timpang.

Berkaitan dengan, SYAFAAT, sebagai mana firman Allah dalam surat An Nisa’, ayat 85 sebagai berikut ;

مَنۡ يَّشۡفَعۡ شَفَاعَةً حَسَنَةً يَّكُنۡ لَّهٗ نَصِيۡبٌ مِّنۡهَا‌ ۚ وَمَنۡ يَّشۡفَعۡ شَفَاعَةً سَيِّئَةً يَّكُنۡ لَّهٗ كِفۡلٌ مِّنۡهَا‌ ؕ وَكَانَ اللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَىۡءٍ مُّقِيۡتًا.

Artinya; “Barang siap yang memberi kan syafaat yang baik, niscaya ia akan memperoleh bagian (pahala) dari pada nya. Dan barang siapa yang memberi syafaat yang buruk, niscaya ia akan memikul bagian (dosa) daripadanya. Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Secara harfiah, SYAFAAT berarti: “pertolongan yang diberikan oleh seseorang kepada orang lain yang mengharapkan pertolongannya.”

Usaha dalam memberikan suatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan suatu mudharat bagi orang lain.
Dengan demikian jelaslah arti dari ayat 85 diatas, barang siapa yang memberi kan syafaat baik, niscaya dia akan memperoleh keuntungan dari padanya.

Dalam sebuah hadist H.R Thabrani; Dari Aisyah, Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang menghubung kan untuk saudaranya sesama muslim kepada orang yang mempunyai kuasa untuk menyampai kan suatu jasa atau mempermudah sesuatu yang sukar, akan ditolong dia oleh Allah memudahkan ketika melalui shirath di hari kiamat seketika telapak kaki mulai meniti.”

Sebaliknya orang yang memberi Syafaat yang buruk akan mendapat Kiflun/menanggung akibat nya, sebagaimana pantun melayu; Awak dengan baju buruk awak, Gantung kanlah, ampaikanlah … Awak dengan laku buruk awak, Tanggung kanlah, rasaikanlah.

Diakhir ayat 85 tersebut, “Dan Allah maha kuasa atas segala sesuatu.” …. Artinya Allah sanggup dan berkuasa untuk menyediakan pahala yang pantas bagi siapa yang memberikan syafaat yang baik kepada sesama, dan Allah pun serba sanggup dan tidak pernah kurang untuk menyediakan siksaan yang akan ditanggung kan oleh siapa saja yang memberi kan syafaat yang tidak jujur.

Dalam kesempatan ini, mengajak kepada diri sendiri dan dunsanak, mari kita saling memberikan syafaat yang baik kepada siapapun yang memerlu kan bantuan kita semata mata karena Allah dalam memudahkan langkah … ketika kita mulai meniti Shirathal Mustaqim kelak. Aamiin YRA…

Syafaat (bahasa Arab: شفاعة) adalah usaha perantaraan dalam memberikan sesuatu manfaat bagi orang lain atau mengelakkan sesuatu bahaya bagi orang lain. Syafaat disebutkan dalam Al-Qur’an : Allah SWT berfirman

وَا تَّقُوْا يَوْمًا لَّا تَجْزِيْ نَفْسٌ عَنْ نَّفْسٍ شَيْئًـا وَّلَا يُقْبَلُ مِنْهَا شَفَا عَةٌ وَّلَا يُؤْخَذُ مِنْهَا عَدْلٌ وَّلَا هُمْ يُنْصَرُوْنَ

“Dan takutlah kamu pada hari (ketika) tidak seorang pun dapat membela orang lain sedikit pun. Sedangkan SYAFAAT dan tebusan apa pun darinya tidak diterima dan mereka tidak akan ditolong.” (QS. Al-Baqarah 2: 48).
Demikian lah semoga bermanfaat bagi kita dalam membangun HARAPAN dengan SYAFAAT serta menghindari tindakan ZALIM.

Wassalam

Buya H. Mas’oed Abidin adalah ulama dan da’i, pernah jadi Ketua DDII Provinsi Sumbar dan Ketua Bidang Dakwah MUI Sumbar. Menulis 24 buku ke-Islaman dan adat budaya Minangkabau. Tinggal di Padang.

Comments (1)
Add Comment
  • JHONI EMLIA

    MasyaAllah..
    Semoga semakin banyak yg memahami agar ilmu gratis yg bermanfaat ini bisa di amalkan 🤲🤲
    Semoga buya HMA sehat selalu agar beliau bisa membimbing umat 🤲🤲