Komunikasi Etnik Melayu dalam Novel Lanun Alang Tiga Rida K. Liamsi, Sebuah Analisis Ilmiah: Catatan Nafi’ah al-Ma’rab (Bagian-2)

Pesan-Pesan Etnik Melayu
Novel Lanun Alang Tiga memuat pesan yang kuat tentang orang-orang Iranun dan sejarahnya. Tokoh Nadin yang mendapat tugas dari atasannya Datuk Rahman untuk menjelajah dan menyusuri sejarah orang Iranun di bebarapa daerah di Sumatra menjadi tokoh penting dalam pengungkapan pesan. Praktis novel ini pun memuat pesan tentang sejarah, tradisi, asal-usul etnik Melayu yang cukup holistik. Asal-usul kedatangan orang Iranun ke beberapa jazirah Melayu disajikan runut dalam teks novel tersebut.
Keterlibatan orang-orang Iranun secara politik di jazirah Melayu ini ditandai dengan kedatangan sekitar 100 buah perahu perang dan kemudian mereka atas permintaan Sultan Riau, Johor, dan Pahang, Mahmud Riayat Syah, menyerang dan mengusir orang-orang Belanda dari Tanjungpinang. Tetapi, bagaimana caranya orang-orang Iranun itu kemudian terus bertapak di kawasan ini? Bukan hanya tetap menjadi lanun dan mengharu biru serta bersekutu dengan bajak laut lain di kawasan ini, tapi juga kemudian menetap dan membangun komunitas orang-orang Iranun. Mereka membangun sebuah dinasti baru yang namanya Dinasti Melayu Timur, yaitu komunitas keturunan orang-orang Melayu Tempasuk. Beberapa penulis sejarah mengatakan orang Melayu Timur itu sebagai Dinasti Panglima Sulong Dinasti Iranun.
Walaupun kuat dengan dominasi narasi-narasi sejarah, pengarang tetap memberi balutan kisah percintaan menarik dalam novel ini. Kisah cinta Nadin dengan Haini harus diuji dengan perempuan Iranun di Indragiri bernama Raja Julia. Nadin jatuh cinta kepada Julia tersebab wajah perempuan itu yang seiras sama pula dengan Haini kekasihnya yang juga bekerja di kantor berita serupa dirinya. Pertemuan dalam satu perjalanan liputan di Patah Parang menjadi pertarungan kesetiaan hati Nadin pada Haini, demikian pula Raja Julia yang telah memiliki kekasih bersama Awi. Namun, tokoh Julia tampil sebagai sosok perempuan yang kuat memegang prinsip kesetiaan. Bahwa ia tak akan merusak kebahagiaan Haini dan Nadin, demikian pula sosok yang dicintainya Awi. Maka, pada akhir konflik cerita ini penulis memberikan suguhan penyelesaian konflik tak terduga, Julia dan Awi memutuskan menikah secara mendadak. Melalui konflik kisah cinta ini, pengarang menyuguhkan pesan kesetiaan yang kuat sebagai nilai yang mengakar dalam tradisi Melayu. Sebagaimana pesan Tenas Effendy dalam Tunjuk Ajar Melayu:
Apabila hidup seiya sekata
Tentulah tercapai sebarang dicita
Apabila hidup seiring jalan
Tentu terhindar dari pergaduhan
(Tenas Effendy, 2013:56)
Rida K. Liamsi dalam membangun konflik cerita-ceritanya cukup terkenal dengan sajian konflik-konflik sosial budaya yang memengaruhi karakter dari tokoh yang dibangun. Sama halnya dengan novel Bulang Cahaya sebelumnya, sebuah penelitian dari Wulandari, dkk (2020) mengungkap pengarang menyuguhkan konflik-konflik berlapis meliputi konflik pribadi, sosial, politik, dan budaya. Sehingga dalam penyelesaian konflik yang dibangun tersebut, pengarang melibatkan karakter tokoh yang dilatarbelakangi dari budaya yang disajikan. Fenomena ini pula yang dapat ditemukan pembaca dalam novel Lanun Alang Tiga. Bagaimana karakter Nadin, Julia, Prof. Kazai, hingga Mustam, semua dibangun dari latar budaya etnik Melayu yang kuat.

Teks Novel Sebagai Media Komunikasi yang Berpengaruh Kuat
Rida K. Liamsi memilih menggunakan media teks berbentuk novel dalam menyampaikan pesan, gagasan, informasi, dan segala hal terkait Melayu oleh dirinya sebagai seorang komunikator. Walaupun teks novel sendiri tidak setua puisi usianya, tetapi karya sastra yang konon mulai hadir pada abad ke-18 (sebagian menyebut abad ke-11) ini menjadi salah satu bentuk karya sastra yang paling berpengaruh mampu memberikan perubahan terhadap kehidupan dan pola pikir seseorang.
Dalam sejarah novel pertama berjudul The Tale of Genji karya Murasaki Shikibu dikenal sebagai pengantar budaya aristokrasi di awal periode Heian Jepang. Pengarangnya seorang perempuan bernama asli Fujiwara no Kaoruko yang juga seorang dayang istana di masa kekaisaran Jepang Heian. Novel tersebut menyajikan dinamika natural antara manusia dengan alam yang konon mengacu pada budaya Buddha tentang dunia yang fana. Novel ini berhasil memberikan pengaruh besar terhadap kehidupan masyarakat di masanya. Murasaki Shikibu sebagai nama panggung Fujiwara adalah seorang penyair sekaligus novelis masyhur di masanya.
Latar belakang seorang prosais dan penyair pada diri Murasaki terlekat seutuhnya pula dalam diri pengarang Rida K.Liamsi. Ditambah lagi pengetahuan budaya sebagai pelaku dan sejarawan yang berpengalaman menjadikan media teks berbentuk novel yang dipilih pengarang menjadi bentuk media yang lebih kuat dan berkarakter. Novel dapat menyentuh semua segmen khalayak, dapat bertahan dalam usia yang lama, dan dapat memberikan pengaruh yang kuat pada kehidupan pembacanya.

Efek Komunikasi Budaya Novel Lanun Alang Tiga
Karya-karya novel Rida K.Liamsi memiliki pengaruh dalam ruang sosiologi sastra yang begitu kuat. Interaksi antara karya sastra dengan kehidupan manusia tercermin dalam karya Lanun Alang Tiga. Aspek etika, sosial, dan budaya merupakan unsur yang saling terpaut dan berpadu dalam novel ini.
Berkaca dari karya-karya sebelumnya, novel Rida K. Liamsi memang memiliki karakter pengaruh di bidang sosiologi sastra yang dominan. Dalam karya sebelumnya yakni Megat, kajian tentang kekuatan sosiologi sastra seorang Rida K. Liamsi juga telah dibuktikan secara ilmiah. Prahasti (2019) dalam disertasinya mengkaji secara khusus kekuatan sosiologi sastra dari novel Megat karya Rida K. Liamsi. Hasil penelitian tersebut menunjukkan novel Megat memiliki kekuatan sosiologi sastra dalam aspek etika secara nurani dan budaya, aspek sosial dan budaya yang direpresentasikan dalam karakter tokoh, konflik, dan narasi cerita yang dibangun. Novel Lanun Alang Tiga yang mengkaji sejarah, budaya, dan asal-usul orang Iranun memiliki kemiripan karakter jika dilakukan kajian secara ilmiah.
Bagi pembaca (komunikan), pengaruh karya ini bukan setakat pengetahuan, tetapi juga pada pengkajian etika budaya Melayu. Pembaca akan dapat terpengaruhi dengan deskripsi yang kuat penulis tentang kuliner Melayu misalnya, destinasi tempat di Indragiri Hilir, karakter khas orang Melayu dan seterusnya. Pesan budaya yang terdapat dalam novel ini memberikan pengaruh dalam berbagai aspek pada pembaca.

Novel Lanun Alang Tiga Sebagai Model Komunikasi
Analisis unsur komunikasi (komunikator, komunikan, pesan, media, dan efek) dari novel Lanun Alang Tiga menjadi salah satu referensi kajian ilmiah yang menarik. Karya novel ini tak hanya memenuhi kajian-kajian teori sastra, tetapi dapat dilihat dari berbagai perspektif keilmuan termasuk Ilmu Komunikasi. Dalam perspektif komunikasi, novel ini telah menjadi satu bentuk model komunikasi budaya yang memiliki pengaruh kepada khalayak. Bagaimana budaya Melayu dikomunikasikan untuk konservasi dan revitalisasi budaya tersebut dalam media yang kreatif yakni karya sastra novel. Karya sastra novel mampu menjadi ruang komunikasi antar budaya, antara Melayu dengan negeri antara bangsa. Novel yang bersifat universal, dapat disajikan dalam berbagai bahasa dunia menjadi celah yang lebih luas lagi sebagai pilihan media komunikasi. Akhiru kalam, tabik dan tahniah buat penulis telah memberikan referensi dan kajian baru dalam keilmuan. Bukan setakat karya luahan pengalaman atau hiburan, tetapi berdampak pada pengembangan ilmu pengetahuan dan pelestarian budaya.

Nafi’ah al-Ma’rab adalah nama pena dari Sugiarti. Tinggal di Pekanbaru. Menulis novel, cerpen, puisi, artikel populer dan ilmiah. Bergiat di Forum Lingkar Pena. Saat ini sedang menempuh studi Magister Ilmu Komunikasi. Penulis dapat dihubungi di Whatsapp 085265124139 dan Instagram @nafiah.setia.

Referensi:

Prahasti, K. R. Y. (2019). Analisis Sosiologi Sastra Dalam Novel Megat Karya Rida K
Liamsi (Doctoral dissertation, Universitas Islam Riau).
Tinambunan, J., & Sudirman, N. A. (2023). Hubungan Antara Biografi Pengarang dengan
Sosiologi Karya Sastra dalam Novel Megat Karya Rida K. Liamsi. Jurnal Sastra Indonesia, 12(2), 148-157.

Wulandari, Z., Hartati, Y. S., & Yusandra, T. F. (2020). SOCIAL CONFLICTS
ANALYSIS OF CHARACTER’ S IN NOVEL BULANG CAHAYA BY RIDA K LIAMSI. Jurnal Kata: Penelitian tentang Ilmu Bahasa dan Sastra, 4(1), 70-79.

Comments (0)
Add Comment