Lanun Alang Tiga, Cermin Semangat Perjuangan Dalam Bingkai Sejarah: Catatan Riki Utomi (Bagian-2)

Seperti yang sering terjadi dalam lingkungan kerajaan bahwa jalinan antarkerjaan dapat dieratkan dengan menjodohkan anak-anak raja. Penjodohan yang lazim dan seolah menjadi “baku” pada masa itu menjadikan orang-orang pada masa kerajaan dahulu tidak dapat leluasa dalam memilih. Seperti yang terjadi pada Tengku Maimunah yang sempat akan dijodohkan dengan seorang putra sultan dari Trengganu. Namun ia bersikeras menolak. Tetapi, lagi-lagi, “kebakuan” itu diungkapkan neneknya dengan penuh harapan.

“Bahwa menjadi putri seorang raja itu memang tidak boleh banyak memilih. Ada yang disebut nikahul siasah: pernikahan untuk kepentingan kerajaan, merapatkan persaudaraan, mengekalkan persekutuan, dan kepentingan tahta/kuasa.” (hlm. 233).

Setidaknya dapat kita bayangkan “kekangan” yang terjadi dalam lingkungan kaum elit bangsawan pada masa lalu dalam hal itu. Namun, tentu pada masa itu penanaman prinsip demikian mampu memberikan sugesti penuh untuk menunjang kepentingan-kepentingan tertentu bagi para raja selain dari mempertahankan sebuah kerajaan. Hingga jalinan antarkerajaan, suku, politik, ekonomi, dan lainnya dapat berlangsung erat oleh tali pernikahan anak-anak raja. Hal ini diperkuat lagi oleh pengalaman nenek Tengku Maimunah yang juga dahulu dinikahkan dengan seorang anak raja dari Kerajaan Siak, Tengku Ismail.

“Nenenda juga begitu. Bukankah dahulu nenenda tidak tahu siapa Tengku Ismail Siak itu? Tapi ayah nenenda Sultan Mansyur Syah, menjodohkan kami. Kita perlu mempererat persebatian sesama Melayu menghadapi pihak Bugis,” ucap Tengku Tifah. Perempuan yang tampak sangat arif dan penuh pertimbangan. (hlm. 232-234).

Persebatian panjang Tok Lukus dengan Kemaharajaan Riau Lingga patut dijadikan hikmah. Sebagai orang kepercayaan sultan, Tok Lukus yang juga keturunan bangsawan, datuknya raja di Tempasuk merupakan raja Iranun, benar-benar ingin mengabdi tanpa pamrih. Pengabdiannya dalam menolong Tengku Yahya menuju Lingga dari kejaran pihak-pihak yang saling merebut kekuasaan. Kisah kasih mereka ini setidaknya tersandung kasta. Tok Lukus yang memang dikenal lanun penguasa laut itu memang rendah hati, tidak serta-merta mengungkapkan rasa sukanya dengan menggebu-gebu kepada Tengku Maimunah. Kisah asmara ini sepertinya belum dapat diikuti titik terangnya apakah mereka berhasil membangun kasih? Namun dalam hal ini, sebagai pembaca, kita dapat mengambil hikmah bahwa seorang yang notabenenya keras dan garang, cadas dan liat, tetap mampu memperlihatkan kelembutan dan tidak tergesa-gesa dalam bersikap ketika mengungkapkan perasaan cintanya, lebih jauh dapat dikatakan mampu menunjukkan nilai-nilai karakter sopan santun dan tahu diri, juga tahu adat dimanapun berada.

Di sini Datuk Rida menempatkan porsi yang sama dalam mengolah konflik tokoh-tokohnya. Bukan hanya kisah dari tokoh-tokoh sejarah saja yang disikahkan demikian, tetapi juga dari tokoh sentral novel ini Nadin Sukmara. Sebelum wartawan muda engergik ini bertolak ke Riau, ia sudah memiliki kekasih anak asli Sabah yaitu Haini yang juga seorang wartawan. Jalinan cinta mereka sudah masuk usia empat tahun. Namun belum kuat untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan. Tetapi setibanya ia di Riau, berada di Reteh, Indragiri, Nadin seperti nahkoda kehilangan kompas; terombang-ambing oleh perasaannya yang begitu sulit untuk menentukan pilihan. Ia pun mengalami konflik batin karena memendam perasaan cinta kepada seorang dara suku Iranun bernama Julia. Julia, seorang gadis periang yang setamat kuliah ingin mengabdi di kampungnya sebagai guru seni-budaya. Sebagai anak kepala suku Iranun, orang tua Julia yaitu ayahnya Ami Mat setuju bila Nadin menikah dengan anak gadisnya itu.

Tetapi di satu sisi, Julia juga mengalami konflik batin yaitu rasa serba salah apakah ia akan menerima Nadin dalam hidupnya kelak, sedangkan ia juga telah memiliki kekasih yaitu Awi yang masih ada di Pekanbaru. Satu sisi ia menyukai Nadin karena memiliki watak fleksibel, suka bercanda, menepati janji, dan mampu berterus terang. Berbeda dengan Awi yang selalu dingin, apa adanya, kurang agresif, sulit ditebak, dan sedikit bicara. Sehingga dua insan ini saling memendam perasaan dan saling menebak takdir hidup.

Di sini terasa sekali begitu kompleksnya kisah-kisah yang diuraikan dalam novel ini. Pak Rida mampu memberikan bobot ceritanya dengan alur kisah yang lancar, padat, terarah, dan tidak jatuh kepada kesan-kesan percintaan yang picisan. Segala sikap dari tokoh yang mengalami konflik tersebut dapat kita ikuti dengan sikap-sikap dewasa dan bersahaja. Hal ini dapat dilihat dari tokoh Julia yang menyikapi dengan bijak, akhirnya memutuskan untuk tidak menerima Nadin dalam kehidupannya, meski ia tahu hati Nadin terluka. Julia berbuat demikian karena mengerti bagaimana perasaan perempuan bila terluka. Ia tidak ingin larut memendam perasaan remuk dan serba salah itu. Ia mengerti perasaan Haini, pacar Nadin yang menghubunginya dari Sabah sebelum keberangkatannya ke Jepang, untuk menanyakan kepastian hubungan itu.

 

Julia meneruskan semua isi WA Haini kepada Nadin. Kemudian dia menulis penutup, “Bang Nadin, dimana sekarang? Pulanglah segera. Kak Haini menanti. Jangan rusak hubungan yang sudah bertahun-tahun itu karena perkenalan sebulan. Tidak mudah juga bagi Julia untuk membuat putusan meninggalkan bang Awi. Kami sudah sepakat untuk tetap memelihara hubungan kami meski Ami dan Umi belum setuju ….” (hlm. 335).

 

Konflik percintaan itu akhirnya berakhir dengan keputusan dewasa dari Julia yang penuh kepastian untuk menolak “rasa hati” Nadin kepadanya. Meski di satu sisi, ayahnya telah menganggap ia sebagai anak durhaka yang tidak mau menuruti keinginan orang tua. Bagi Julia, tidaklah boleh sama masa kini dengan masa dahulu. Sebagai orang berpendidikan ia tidak ingin dikekang dalam hal perjodohan meski ia tahu keinginan ayahnya yang ingin benar jalinan kesukuan Iranun itu tetap ada, karena Nadin dan dirinya masih sama-sama keturunan Iranun. Sedangkan Awi seorang yang dari latar belakang keturunan Arab bergelar Said yang mana menurut orang tua Julia tidak sesuai untuk menjalin ikatan keluarga. Namun Julia tetap memegang cintanya meski ia tidak tahu juga apakah orang tua Awi setuju untuk menerima dirinya.

Jalinan kisah kasih ini terasa indah dan menggugah. Berkesan dengan segala sikap dan tindak-tanduk tokoh-tokohnya. Kita dapat larut terbawa oleh rasa hati yang miris dan pilu. Siapapun mereka, dalam kisah novel ini, mampu menemukan jalan hidup untuk menentukan takdir sendiri. Sikap Julia yang menunjukkan kesan sebagai perempuan yang teguh dan kuat pendirian merupakan cerminan perempuan masa kini dengan segala intrik yang menggempurnya, tetapi ia tidak oleng dan jatuh. Sebaliknya ia tetap menjunjung nama baik sebagai gadis yang berasal dari suku bangsa Iranun.

Setidaknya kita dapat mengambil hikmah dari kisah mereka; apakah tokoh yang dikisahkan dalam nuansa masa lalu atau tokoh yang dikisahkan pada masa kini dalam novel yang mengharu biru ini, bahwa sebuah realisasi yang pernah dipegang dan hidup pada masa lalu—apapun bentuknya—tidak seluruhnya dapat diwujudkan di masa kini. Sebab masa lalu (sejarah) hanya mampu menjadi “cermin” bagi kita untuk berpikir, menyikapi dengan bijak, dan bertindak dengan selaras dan sesuai. Masa kini memerlukan “olah pikir” yang tajam namun tidak menepikan sejarah. Sebab, sejarah (masa lalu) bagaimanapun tidak boleh dilupakan. Melupakan sejarah ibarat kita lupa siapa diri kita sebenarnya.

Novel ini, di satu sisi, juga membawa kesan tersendiri dengan akhir kisah yang memberikan daya gugah untuk bagaimana kita menghargai sejarah, budaya, dan memajukan suatu daerah dengan menjadikannya aset wisata yang diharapkan dapat memberikan dampak kemajuan ekonomi bagi daerah tersebut. Tetapi dalam hal ini, tetap tidak melupakan sosok-sosok sejarah yang telah bersebati di hati orang-orang Melayu. Adanya pertemuan antara investor dari Sabah (Malaysia) dengan pihak Pemerintah Daerah Kabupaten Lingga (Indonesia) untuk membangun pusat pariwisata berbasis sejarah dan budaya Melayu mencerminkan sikap menjalin kembali hubungan persaudaraan yang pernah hidup itu. Hal ini seperti dikatakan tokoh Datuk Rahman, pemilik surat kabar Suara Burneo dan Ketua Yayasan Warisan Iranun Sabah.

 

“Selain pulau-pulau di Alang Tiga ini menarik sebagai destinasi pelancongan, kami juga dari yayasan ingin mengekalkan kengangan kami pada para tokoh Iranun yang dulu pernah sampai di pulau ini, terutama Tok Lukus dan Panglima Sulung. Memang mereka dulu dikatakan Belanda sebagai bajak laut, lanun. Tapi itu dari sisi pandangan penjajah. Dari sisi perjuangan kerajaan-kerajaan Melayu di kawasan semenanjung, mereka ini juga pejuang dalam melawan penjajah. Seperti yang terjadi pada 1787 ketika Raja Ismail dan 100 perahu perangnya membantu Sultan Riau Mahmud Riayat Syah untuk menghancurkan garnisun Belanda di Pulau Bayan dan Tanjungpinang.” (hlm. 351).

 

Sekali lagi, menikmati novel Lanun Alang Tiga karya Datuk Rida ini memberikan kita—saya sendiri khususnya—wawasan yang sarat makna dari sejarah kemaharajaan Melayu di Riau dan Kepulauan Riau. Juga menjadi “cermin” yang dapat melihat kembali karakter ketokohan orang-orang Melayu pada masa lalu yang memiliki etos semangat perjuangan dalam mempertahankan marwah dan menjunjung tinggi nilai-nilai adat.

Sebagai orang yang dulu dibesarkan di Kepulauan Riau, tepatnya di Dabo dan Daik, novel ini seperti mambawa kembali segala kenangan dalam ingatan saya. Pikiran saya kembali berkenala ke situs-situs sejarah Kerajaan Riau Lingga di Daik itu: Makam Merah, Makam Bukit Cengkih, Lubuk Palawan, Kampung Pahang, Masjid Sultan Lingga yang di belakangnya terdapat kompleks pemakaman keluarga para sultan, Kuala Daik, Benteng Bukit Cening, Benteng Pertahanan Pulau Mepar, hingga puing-puing Istana Damnah yang dikisahkan dalam novel ini, dan yang tidak kalah memukau adalah menikmati indahnya pemandangan Gunung Daik bercabang tiga yang melegenda di seantero tanah Melayu itu. Tahniah. (*)

Selatpanjang, 21 Januari 2024

Riki Utomi kelahiran Pekanbaru 1984. Namun menghabiskan masa-masa sekolahnya di Dabosingkep dan Daiklingga, Kepulauan Riau. Menamatkan studi di Prodi. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Islam Riau. Bukunya yang telah terbit Mata Empat (cerpen, 2013), Sebuah Wajah di Roti Panggang (cerpen, 2015), Mata Kaca (cerpen, 2017), Menuju ke Arus Sastra (esai, 2017), Belajar Sastra Itu Asyik (non fiksi, 2019), Anak-Anak yang Berjalan Miring (cerpen, 2020), Amuk Selat (puisi, 2020), Menjaring Kata Menyelam Makna (esai, 2021), Jelatik (novel, 2023). Sejumlah puisinya pernah tersiar di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, NusaBali, Indo Pos, Lampung Post, Banjarmasin Post, Serambi Indonesia, Bhirawa, Radar Banyuwangi, Padang Ekspres, Rakyat Sumbar, Riau Pos, Batam Pos, Haluan Riau, Haluan Kepri, Tanjungpinang Pos, Metro Riau, Harian Vokal, Koran Riau, Majalah Sabili, Majalah Sagang, Majalah Elipsis, Apajake, Inilah Koran, TirasTimes, Ngewiyak, RuangLiteraSIP, Nusantaranews.co., Sastramedia.com. Puisi-puisinya terangkum dalam antologi 999: Sehimpun Puisi Penyair Riau, Negeri Sawit, Banjarbaru’s Rainy Day Festival, Negeri Langit (DNP 5), Puisi untuk Lombok, Jejak Hang Tuah dalam Puisi, Riau Istimewa, Matahari Sastra Riau, Segara Sakti Rantau Bertuah, Matahari Cinta Samudera Kata, Merayakan Pagebluk, Cincin Api, Perempuan-Perempuan Kencana, dll. Buku puisinya Amuk Selat masuk 25 Nomine Sayembara Buku Puisi (HPI) 2020. Kini bermukim dan bekerja sebagai guru di Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti. (*)
Nomor WA: 0896 4397 5565

Comments (0)
Add Comment