“Dalam konteks penyerangan garnizun Belanda di Tanjungpinang tahun 1787, hubungan Kerajaan Melayu-Riau dengan Kerajaan Melayu Siak sedang berada pada titik terendah dan konflik politik antara pihak Melayu dan pihak Bugis dan Belanda, sedang runcing dan kritis. Sewaktu-waktu bisa pecah perang. Riau hampir seratus peratus dikuasai pihak Melayu setelah Tengku Muda Muhammad ditunjuk Mahmud Riayat Syah untuk menjadi yang dipertuan muda. Sedangkan Siak berada hampir seratus peratus dalam pengaruh Bugis melalui tangan Raja Alam Belanda berada di tengah-tengah sebagai dalangnya dengan kepentingan politiknya. Adakala memihak Riau, adakalanya memihak Siak,” (hlm.51-52)
Semenjak dahulu kesultanan melayu dihinggapi dengan intrik dan politik adu domba. Belanda atau Inggris dengan sengaja menciptakan prahara di antara mereka. Inilah batu api yang selalu membara sehingga muncul faksi-faksi yang didukung oleh Belanda atau “kulit putih”. Hal ini terjadi seperti siklus penyakit yang mendera tubuh-tubuh kerajaan melayu. Belanda dengan mudahnya membolak balik halaman perang dan permusuhan untuk kekuasaan. Ini pula yang menjadi kegentingan pada konflik yang terjadi sehingga Lanun Tempasuk ikut dalam pertarungan dengan Belanda di Benteng Inhil.
Budianta (2006) menyatakan bahwa sejarah yang diacu oleh karya sastra bukan sekedar latar belakang tetapi menyusun satu kisah tentang kenyataan. Jika dilihat lebih dalam pada novel Lanun Alang Tiga, Belanda dengan jelas mengatakan bahwa apa yang diberikan pada Riau semuanya adalah pinjaman yang sewaktu-waktu bisa diambil. Datok Rida dengan terang menjelaskan bahwa perjanjian tertulis di atas kapal Belanda Utrech yang sangat menyakitkan Sultan Mahmud. Kegelisahannya dengan bernas direka ulang oleh Datok Rida.
Sebagai sebuah karya novel sejarah tokoh-tokoh berhak untuk dihidupkan dan diimprovisasi asal tidak menyalahi peristiwa yang sebenarnya. Maka konflik batin yang tergambar dalam diri Sultan Mahmud digambarkan dengan kekecewaan yang mendalam dan ditemani Tengku Sulong. Novel sejarah tentunya berisi dengan imajinasi-imajinasi penulis dalam ruang pembentukan situasi dan pengadeganan. Datok Rida mencoba masuk dalam diri Sultan Mahmud yang begitu terluka dengan perjanjian yang dibuat oleh Belanda setelah kematian ayahnya.
Beta paling sakit hati dengan isi perjanjian ini, yang menyatakan bahwa negeri kita ini sebagai negeri pinjaman. Padahal ini negeri milik nenek moyang kita, orang Melayu, yang didirikan dengan darah dan air mata. (hlm.167)
Bak sudah jatuh tertimpa tangga, mungkin seperti itulah perasaannya ketika berhadapan dengan penjajah Belanda. Namun apa hendak di kata, musuh telah di depan mata. Intrik dan politik busuk Belanda dengan mengadu domba dan mengangkat sultan-sultan yang berpihak kepadanya adalah cara mereka untuk mempertahankan kekuasaan.
“Artinya, persekutuan antara kerajaan Melayu di Semenanjung dan Melayu di Borneo Utara, bukan simpul mati. Selalu ada celah untuk berubah yang bisa diurai. Kesetiaan bangsa atau suku terkadang kalah karena kepentingan kekuasaan. Tapi, itulah politik. Praktis dan pragmatis. Itu yang juga membuat Belanda selalu mudah mengadu domba dan menuduh para raja Melayu sulit dipercaya. Sudah ada perjanjian, tapi dengan mudah dilanggar. Yang paling kuat mengikat hubungan mereka itu adalah darah, saudara mara, dan perkawinan,” kata Nadin coba membuat kesimpulan. (hlm.85)
Pembatinan sebagai suku bangsa melayu telah disusupi oleh politik kolonialisme yang dilakukan oleh Belanda. Itu terjadi berulang kali, berganti waktu dan tak lekang oleh zaman. Amuk melayu terus diuji dalam setiap tindakan pengkhianatan dari mereka yang kenyang diberi makan oleh penjajah. Sebagai sebuah bangsa yang bermarwah, melayu terus diombang ambing untuk dipecah belah demi kepentingan kekuasaan. Maka saudara mara, perkawinan dan pertalian darah adalah salah kekuatan yang bisa menolak perpecahan akibat kekuasaan.
Ada pernikahan yang dinamakan nikahul siasah atau disebut dengan pernikahan demi kepentingan kerajaan. Hal ini dikarenakan banyak prahara, pasal-pasal pertikaian yang akan rekat jika dua kesultanan atau kerajaan diikat lewat pernikahan. Dua kerajaan tersebut akan kembali rukun seperti sedia kala. Hal ini sering dilaksanakan di kalangan kerajaan yang bertikai guna menempuh diplomasi yang tidak perlu mengangkat senjata. Diplomasi pernikahan ini merupakan salah satu opsi win-win solution dalam meredakan konflik yang tak kunjung reda yang mungkin sudah memakan waktu bertahun-tahun lamanya.
Kembali pada kisah Lanun Alang Tiga yang ditulis Datok Rida. Tulisan ini mengajarkan manusia untuk membaca sejarah tidak boleh sepotong-sepotong, sebab jika itu dilakukan mungkin akan muncul tafsir baru atau tafsir konflik yang bukan merujuk pada kesahihan sejarah. Sejarah yang baik mesti menunjukkan mana hulu dan mana hilir, mana pangkal dan mana ujungnya. Sehingga sebagai sebuah karya novel sejarah ia telah memiliki bukti autentik sebagai sebuah peristiwa sejarah yang direka dan dibacakan ulang meski akan ada perbedaan minor pada beberapa bagiannya.
Kisah Tengku Yahya yang meminta pertolongan kepada Lanun Tempasuk agar bisa merebut kembali tahtanya menjadi awal mula cerita ini bergerak. Tengku Yahya memohon kepada Lanun Tempasuk untuk membawa pasukan yang dikenal dengan kekuatan militansi dan paling ditakuti di lautan itu untuk menghentikan pasukan Sayid Ali dan Belanda mengejarnya. Tengku Yahya tidak sendiri namun ia bersama banyak pengikutnya yang merupakan perempuan dan anak-anak.
Tok Lukus yang merupakan pimpinan Lanun kemudian datang bersama pasukannya dan menghadap Tengku Yahya yang sedang menepi dan sembunyi di Pelalawan. Mereka sepakat membawa Tengku Yahya ke Lingga dan memohon bantuan untuk bisa disana bersama Sultan Mahmud Riayat Syah. Selama perjalanan itulah Tengku Yahya melihat kepercayaan dan kekuatan pada Tok Lukus. Ia melihat pada diri Tok Lukus sebuah kekuatan yang akan membawanya untuk merebut kembali tahtanya. Begitu pula Tengku Maimunah anak Tengku Yahya yang mau bersuamikan seorang Lanun. Maka gayung bersambut, jodoh tak dapat ditolak, untuk tak dapat dilepas. Begitulah kiranya pernikahan kedua kerajaan ini yang bisa dikatakan sebagai sebuah monumen penting yang mengekalkan hubungan Siak dengan Iranun. Tok Lukus bergabung dengan Tengku Yahya dan menjadikan dua bangsa ini semakin erat persaudaraannya. Mereka dinikahkan ketika telah sampai di Daik Lingga dan senarai pernikahannya dilaksanakan oleh tuan rumah Sultan Mahmud Riayat Syah.
Selepas itu Tok Lukus bisa membawa mereka pindah ke Alang Tiga bersama pengikutnya. Pernikahan itu melahirkan Tengku Sulong yang dianalisis lahir pada tahun 1792. Sebagai darah seorang anak yang lahir dari Ibu yang berdarah biru dan ayah seorang lanun ia memiliki keistimewaan sebab memiliki pasukan yang terdiri dari dua pengikut tersebut. Panglima Sulong merupakan keturunan dari Tok Sikolo yang juga silsilah dari Sultan Tempasuk 3. Ia pun mendapatkan kepercayaan dari Mahmud Muzaffar Syah, Sultan Muda Riau-Lingga untuk memimpin sebuah negeri bernama Reteh. Setelah Sultan Mahmud mengecoh Belanda dengan perjanjian-perjanjian, sebab di Lingga dan Tanjung Pinang moncong meriam Belanda berada di depan mata. Sultan melihat perlu membangun kekuatan baru yang cukup jauh dan tidak terdeteksi Belanda. Sultan tidak ingin negeri ini dianggap pinjaman dari Belanda.
Tengku Sulong berlayarlah menuju Reteh bersama pengikutnya dan membawa orang-orang dari Alang Tiga untuk ikut. Di Reteh mereka membangun banteng dengan 30 meriam menghadap Kuala Reteh. Kerajaan mereka beribukota di Kota Baru. Pada 1858 pecahlah sebuah perang yang disebut dengan Perang Reteh. Perang tersebut juga didasari oleh dilengserkannya Sultan Mahmud dari kesultanan oleh Belanda. Perang besar tersebut membuat Belanda kocar-kacir. Kapal-kapal mereka tenggelam dan tidak mampu masuk ke Reteh. Tidak ada perang yang yang mampu membuat Belanda harus memutar otak berulang kali untuk mendekat ke Kuala Reteh. Perang di Indragiri adalah salah satu perang besar yang menjadi salah satu basis perjuangan melawan hegemoni Belanda. Taring Panglima Sulong yang tak pernah mengenal kata kalah dan memiliki darah Iranun yang militant membuatnya tak gentar meski kapal-kapal Belanda silih berganti datang untuk menghancurkan bentengnya.
“Ya, pengkhianatan dari dalamlah. Itulah ami rasa semua penyebab kita kalah perang. Kata orang tua-tua, Melaka itupun begitu. Bentengnya kuat, senjatanya banyak, kerajaannya kaya. Tapi karena ada pengkhianatan dari dalam kerajaan, tak sampai dua minggu, Melaka jatuh ke tangan Peringgi. Reteh lebih hebat, boleh bertahan sampai sebulan setengah,” ami Mat berkata dengan murung. “Meskipun pengkhianatan itu bukan karena memang mau khianat atau karena disuap Belanda, tapi karena Belanda pandai menyiarkan kabar bohong dan prajurit Panglima Sulong, terpedaya dan tertipu dengan kabar bohong itu,” lanjut ami. (hlm. 213)
Akhirnya perjuangan Panglima Sulong harus terhenti setelah dikhianati dari dalam. Jenazahnya di hanyutkan di Sungai Mulia dan tawanan perang lainnya dibawa oleh Belanda. Sejatinya perjuangan-perjuangan dalam kisah-kisah Sejarah Melayu kalah dalam intrik pengkhianatan dari dalam tubuhnya. Strategi ini telah terbukti dalam rekaman manuskrip dan peristiwa-peristiwa penting. Panglima Sulong menjadi korban dalam jahatnya pengkhianatan setelah Belanda berhasil membujuk dan menghasut prajuritnya untuk berhenti berperang karena isu perang tidak lagi direstui karena Yang Dipertuan Muda Raja Abdullah wafat dan berwasiat agar perang dihentikan. Kabar inilah yang menjadi lapuknya pertahanan Panglima Sulong, prajuritnya mulai meninggalkan benteng satu demi satu.
Dalam tamadun melayu pengkhianatan acapkali menjadi hal yang penting untuk digarisbawahi. Pengkhianatan ada dimana-mana, ketidaksetiaan, dan tidak setia pada panji-panji kerajaan menjadi preseden buruk dalam kisah-kisah sejarah. Inilah yang kemudian penting untuk digarisbawahi Datok Rida sebagai sesuatu yang perlu ditafsir ulang dalam kondisi kekinian. Ia titipkan pesan apakah melayu yang kita bicarakan hari ini masih penuh dengan keculasan, intrik pengkhianatan dan bekerjasama dengan penjajah untuk menjual negeri ini. Pola autokritik menjadi penting dalam novel yang menjalankan fungsinya sebagai ruang edukasi. Novel Sejarah yang dihadirkan memberikan ruang renung untuk mencapai titik sadar atas apa yang terjadi setelah melihat kilas balik. Kejadian demi kejadian bisa aja berulang andai saja torehan sejarah tersebut tidak ditarik sebagai sebuah pelajaran berharga dalam mengubah sikap dan perilaku manusia di masa setelahnya.
Mengutip Wellek dan Warren (1995) yang menyatakan bahwa suatu karya sastra dapat dilihat sebagai deretan karya yang tersusun secara kronologis dan merupakan bagian dari proses sejarah. Datok Rida berhasil menuliskan jenjang peristiwa sejarah secara sistematis dan berurut. Mulai dari bicara asal usul Iranun, membantu pelarian Tengku Yahya serta menggambarkan kejadian besar Perang Reteh. Sejarah dalam novel ini bukan hanya sisipan untuk mengembangkan cerita. Justru novel ini menjadikan sejarah sebagai bahan baku komoditas menggerakkan cerita. Novel-novel sejarah lain biasanya bicara tentang bagaimana sejarah dipandang sebagai bumbu-bumbu untuk menunjukkan identifikasi bahwa novelnya bersentuhan dengan sejarah.
Sejarah Iranun serta hubungannya dengan Kesultanan Riau-Lingga, terbentuknya peradaban di Indragiri adalah salah satu bukti besar bahwa sejarah punya catatan tersendiri jika dituliskan dengan gaya novel sejarah. Dalam novel sejarah bisa dikembangkan tokoh lakuan serta imajinasi-imajinasi adegan yang mungkin dalam buku sejarah hanya termaktub nama dan peristiwa. Memahami sejarah dengan novel sejarah yang ditulis Datok Rida membuat sejarah itu hadir di depan mata. Ia tak lagi terselubung debu yang orang malas menjamahnya.
Mengutip Lukacs (1963) bahwa novel sejarah merupakan cerminan masa kini dalam suatu masa lalu, atau suatu usaha untuk memahami/menampilkan masa kini melalui masa lalu, yang berarti bahwa tokoh sejarah dapat menduduki tokoh utama tetapi perwatakannya dan tampilannya dalam aksi disesuaikan dengan interpretasi pengarang.
Memang sejatinya Datok Rida telah menyajikan hidangan sejarah dalam novelnya, namun sajian itu bukanlah sajian “cepat saji”. Hidangan tersebut mesti “dimasak” lewat peristiwa, pertanyaan-pertanyaan jurnalisme, serta mengusung hukum kausalitas. Maka sejarah telah menjadi sebuah peristiwa yang serta merta bukan untuk dinikmati lewat hafalan namun esensinya jauh lebih dari itu. Sejarah telah merubah sikap dari “seperti” kemudian “menjadi”. Sejarah panjang yang diceritakan ulang Datok Rida secara panjang dalam Alang Tiga mungkin bukan sesuatu yang bisa membuat pembacanya seperti kisah-kisah tersebut, tapi sejarahnya membuat pembacanya untuk berpikir ulang untuk menjadi apa. Datok Rida yang telah bertungkus lumus, tunak dalam melakukan riset lapangan dan pustaka pasti punya agenda besar untuk keberlangsungan sejarah. Ketika ia memilih peristiwa besar yang hanya dimunculkan dalam kegiatan-kegiatan pidato, lalu menuliskannya menjadi sebuah novel sejarah. Lanun Alang Tiga kemudian berkembang menjadi cermin untuk menyikapi apa dan mengapa Iranun. Historikal panjangnya yang telah merayau-rayau di lautan hingga akhirnya keturunannya bertanah di Indragiri.
Hasil riset sejarah bukanlah kerja satu hari atau dua hari. Kerja-kerja mengumpulkan sejarah merupakan kerja-kerja besar dan membutuhkan waktu yang panjang. Datok Rida merunutkan sejarah Iranun dengan cukup baik. Bukankah sejarah mesti dituliskan dengan baik apalagi sejarah tersebut adalah sejarah peradaban melayu yang cakupannya cukup luas. Alhasil pembaca akan menemukan risalah-risalah penting dalam peradaban umat manusia dalam peristiwa sejarah. Mengutip Djokosujanto (2001) bahwa Novel sejarah harus merupakan resureksi masa lalu yaitu kemampuan pengarang untuk menghidupkan kembali masa lalu yang menjadi pokok ceritanya.
Begitulah sejatinya nilai-nilai kemudian akan bertransformasi ketika berbicara tentang masa lalu dan dirangkum dalam novel sejarah, tentu akan berhubungan dengan masa kini. Aktivasi ingatan tentang kejayaan masa lalu mesti dilakukan dalam bentuk-bentuk dokumentasi. Walaupun tidak serta merta akan hadir dalam jumlah yang berlimpah, dokumentasi sangat diperlukan sebagai legasi peradaban budaya manusia moderen.
Menghidupkan peristiwa sebagai sebuah kejadian persis seperti aslinya dalam sebuah novel memerlukan analisa dan tafsir dari berbagai sudut pandang. Beberapa bagian yang terasa hidup dalam novel ini antara lain ketika percakapan Tengku Maimunah dan Tok Lukus yang sangat cair. Penggambaran adegan ‘seolah’ dekat dengan pembaca. Dialog-dialog yang dihadirkan cukup mudah dicerna serta tidak jauh dari percakapan dua orang yang sedang dibalut asmara. Kesan itulah yang Datok Rida sampaikan untuk membuat logisme pernikahan dua manusia yang memiliki latar belakang berbeda tersebut. Seorang Iranun atau Lanun yang menikah dengan seorang putri sultan.
Selain itu, gagasan rekonstruksi cerita juga terlihat rapi pada bagian peperangan Reteh. Datok Rida punya riset yang kuat untuk menjabarkan bentuk benteng, bagaimana pola penyerangan sampai akhir peperangan. Membaca novel ini seperti sebuah mesin waktu untuk kembali menjenguk masa lalu. Ada tabir-tabir yang tak pernah diungkap yang dimunculkan sebagai wacana semiotika tentang masa lalu. Perjalanan dan catatan-catatan itu ditafsir ulang untuk memunculkan tafsir baru dari pembaca.
Percakapan intelektual antara sejarah Iranun dahulu dengan Iranun kini mestinya digagas sebagai motor gerakan untuk mengkaji lebih dalam. Terlebih jika berbicara tentang Alang Tiga yang menjadi situs sejarah yang semakin bersolek untuk masa depan wisata. Sebagai sebuah novel yang bekerjasama dengan Dinas Pariwisata Lingga, novel ini berhasil untuk menyelipkan pesan persuasif dalam mewujudkan ekowisata ke pulau Alang Tiga. Menghaluskan ‘titipan’ promosi pariwisata tersebut dengan secara tidak terang benderang menyebutkannya adalah sesuatu yang indah. Karya sastra telah berhasil membentuk dirinya menjadi ruang promosi daerah. Datok bermain di bab-bab terakhir untuk menciptakan penyelesaian konflik dengan suguhan deskripsi keindahan dan memori pulau Alang Tiga.
Novel ini membuat orang-orang yang membacanya ikut menelusuri pantai dengan pasir yang indah, gua-gua serta mercusuar yang tinggi. Sejatinya Novel ini telah membentangkan keindahan alamnya, terlepas dari isinya yang penuh dengan sejarah. Wisata dan peristiwa sejarah menjadi dua hal seiring sejalan yang membuka wacana tentang nilai-nilai otentik lahirnya sebuah peradaban.
Alang Tiga, tiga pulau yang ada di antara Kuala Indragiri dan Pulau Singkep, terutama pada musim angin Timur. Dia menjajakan kerang, pisang, kelapa, ketam, dan ikan asin. Di Alang Tiga, selain ada penduduk yang tinggal, juga ada sebuah mercusuar yang menjadi penanda arah perjalanan kapal dari Selat Melaka ke Selat Karimata dan juga ke Jambi dan Palembang. (hlm. 105)