Lanun Alang Tiga, Nasionalisme, Patriotisme, dan Cinta: Catatan Musa Ismail (Bagian-2)

Ada apa dengan cinta dan harga diri dalam novel ini? Cinta dan harga diri merupakan bagian dari kebutuhan manusia sebagai perwujudan eksistensi diri. Upaya untuk menggapai dan mempertahankan cinta dan harga diri tercermin dalam sikap tokoh. Cinta dan harga diri berkaitan dengan aspek psikologi, tentu saja kajian psikologi sastra. Psikologi sastra adalah telaah karya sastra yang diyakini mencerminkan proses dan aktivitas kejiwaan. Psikologi sastra dipengaruhi oleh beberapa hal. Pertama, karya sastra merupakan kreasi dari suatu proses kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada pada situasi setengah sadar (subconscious) yang selanjutnya dituangkan ke dalam bentuk kesadaran (conscious). Kedua, telaah psikologi sastra adalah kajian yang menelaah cerminan psikologi dalam diri para tokoh yang disajikan sedemikian rupa oleh pengarang sehingga pembaca merasa terbuai oleh problema psikologis kisahan yang kadangkala merasakan dirinya terlibat dalam cerita .

Cinta bukan hanya berkaitan dengan hubungan dua orang atau lebih. Cinta bisa juga berkaitan dengan sikap atau orientasi karakter. Orientasi karakter ini bisa menentukan keterkaitan seseorang dengan dunia secara keseluruhan. Penggambaran cinta dalam LAT tercermin dalam dua masa. Pertama, percintaan tokoh sejarah, yaitu Tok Lukus dan Tengku Maimunah. Kedua, percintaan tokoh terkini, yaitu Nadin dan Haini, Nadin dan Tengku Julia, serta Awi dan Julia. Percintaan Tok Lukus dan Tengku Maimunah merupakan cinta persaudaraan. Namun, pernikahan antara tokoh sejarah ini bukan semata karena cinta kedua tokoh, tetapi jika dilihat dari tokoh Tengku Yahya juga karena ada niat untuk mengokohkan kembali kekuasaannya yang hilang. Percintaan tokoh terkini pun merupakan percintaan persaudaraan, tetapi juga mengandung aspek erotis. Dalam percintaan tokoh terkini, Rida mengacaukan pembaca dengan mengaduk-aduk konflik antartokoh, termasuk tokoh orang tua Julia, yaitu Ami Mat. Namun, ada pesan penting sebenarnya ingin disampaikan Rida, yaitu penyatuan dunia Melayu melalui pernikahan sah, yaitu antara keturunan raja dan bukan keturunan raja atau antara keturunan Arab dan bukan keturunan Arab. Pesan bahwa Melayu harus bersatu sangat kental dalam novel ini. Selain itu, ketertarikan Nadin, Kazai, dan Mustam dalam menelusuri silsilah bangsa Iranun pun merupakan konsep cinta persaudaraan. Cinta persaudaraan merupakan konsep cinta paling fundamental. Yang dimaksud dengan cinta persaudaraan adalah rasa bertanggung jawab, perhatian, hormat, pengetahuan sesama manusia, keinginan untuk memajukan hidupnya. Cinta persaudaraan adalah cinta untuk seluruh umat manusia; cirinya, tak banyak eksklusivitas. Dalam cinta persaudaraan hadir perasaan bersatu dengan seluruh manusia, solidaritas sesama, kesatuan manusia . Rida pun menulis novel ini—sadar atau tidak– dalam rangka rasa cinta persaudaraan, cinta dengan bangsa ini.

Novel LAT merupakan kesadaran Rida untuk membangkitkan kembali persatuan Melayu. Dengan segenap pikiran, perasaan, dan kepekaannya terhadap sejarah Melayu, Rida membungkusnya sebagai oleh-oleh nasionalisme, patriotisme, dan cinta dengan bangsa Melayu. Inilah realitas kehidupan pengarang yang digaul dengan realitas kehidupannya. Novel ini bisa dikatakan sebagai perjalanan meretas sejarah Iranun serta peranan Iranun dalam perjuangan dan persatuan (h.24). Kita akan menemukan sejarah Kerajaan Inderagiri (h.40-41) dan sejarah kedatangan Iranun ke jazirah Melayu (h.43-44). Sepanjang petualangan, pembaca seperti dibawa Rida dalam pengetahuan geografis yang sempurna tentang Pulau Alang Tiga dan sekitarnya. Gambaran geografisnya sangat rinci. Ini tentu saja berkaitan dengan latar Rida sebagai warga tempatan. Beberapa referensi yang ditulis dalam narasi novel ini memperkuat sumber kepustakaan historis.

Melalui novel ini, Rida juga tetap memperlihatkan pikiran kritisnya. Tentang perpecahan bangsa Melayu, pengkhianatan dalam kerajaan, sengketa dan perebutan kekuasaan menjadi modal dasar.
”Mungkin ada yang membocorkan rahasia itu. Pengkhianatan itu ada di mana-mana dan bila-bila saja,” kata Tok Lukus (h.149).
Tokoh pers ini pun mengkritisi dunia pers yang jarang menempatkan masalah budaya dan selalu mengutamakan masalah politik dan bisnis. Rida pun menggambarkan kondisi dunia pendidikan di kampung yang selalu tertinggal jika dibandingkan dengan perkotaan. Kendatipun demikian, novel ini mengetengahkan nilai-nilai perjuangan, persatuan, dan cinta tanah air yang dahsyat. Rida menggambarkannya melalui persatuan Raja Mahmud Muzaffar Syah dan Panglima Besar Sulong serta persebatian antara Tengku Yahya dan Tok Lukus. Persatuan ini sekaligus menjernihkan stigma tentang lanun, bajak laut, atau bangsa Iranun. Stigma ini tentu saja digemakan oleh bangsa penjajah.
”Menjadi lanun itu bukan pekerjaan hina. Ananda melakukannya karena ada tugas dan tanggung jawab untuk mempertahankan harkat martabat kita bangsa Melayu. Yang Ananda lanun adalah kapal-kapal dagang bangsa asing, bangsa penjajah, dan yang lebih penting bagi Ayahanda, Ananda ini orang berbangsa juga,”(h.237).

Nasionalisme, patriotisme, dan rasa cinta telah disemai. Nama buruk lanun telah dijernihkan. Kita tinggal menunggu persatuan Melayu dalam peradaban yang sebenarnya.***

*) Penulis adalah Aparatur Sipil Negara yang bertugas di Dinas Pendidikan Kabupaten Bengkalis (hp 081365781427).

Comments (0)
Add Comment