Lanun Alang Tiga: Sebuah Perjalanan Mengulik Sejarah Orang Iranun di Sumatera: Catatan Juliana. S

Novel sejarah yang berjudul Lanun Alang Tiga karya Rida K Liamsi ini menceritakan perjalanan seorang tokoh bernama Nadin yang ditugaskan oleh kantornya yaitu surat kabar Suara Borneo, Kinabalu, Sabah, Malaysia untuk menelusuri kehidupan orang Iranun di pulau Sumatera negara Indonesia. Tokoh Nadin ditugasi untuk mengulik sejarah tentang jejak-jejak perjalanan suku Iranun, bangsa Lanun yang dimulai sejak abad ke 15. Nadin memulai perjalanannya ke Indonesia demi mendapatkan informasi yang akurat dan melihat langsung keturunan Iranun di Indonesia.
Sejarah yang diangkat dalam novel ini yaitu tentang perebutan kekuasaan antarsaudara. Kisah tentang perjuangan Sultan Yahya untuk kembali merebut Kerajaan Siak dari Sayid Ali yang merupakan cucu dari Raja Alam yang dibantu oleh Belanda. Hingga akhirnya Sultan Yahya harus menepi ke Daik. Daik merupakan sebuah pulau yang terdapat di Kabupaten Lingga, Provinsi Kepulauan Riau. Selain dari perebutan kekuasaan, sejarah mengenai percintaan Tok Lukus sang Raja Lanun dengan Tengku Maimunah yang merupakan putri dari Sultan Yahya turut menghiasi karya indah ini.
Novel sejarah Lanun Alang Tiga ternyata mengambil nama Alang Tiga dari sebuah nama pulau yang berada di Kecamatan Singkep, Kabupaten Lingga, Kepulauan Riau, yaitu Pulau Alang Tiga. Pulau ini menjadi kediaman sang Raja Lanun yaitu Tok Lukus atau Raja Tembing. Kata lanun yang denotasinya bermakna negatif yaitu seorang bajak laut, perompak di lautan, tidak demikian makna lanun dalam novel sejarah ini. Makna Lanun dalam novel sejarah ini bermakna baik, dengan tujuan membangun persaudaraan, solidaritas sesama kerajaan, begitu juga pada sektor ekonomi. Selain dari hal tersebut, para lanun bersatu untuk berjuang bersama melawan penjajah pada masa itu.
Kehadiran novel sejarah Lanun Alang Tiga ini untuk meluruskan pemahaman sejarah, bahwa lanun atau pembajak laut bukanlah sebuah kejahatan, melainkan sebuah upaya perlawanan yang dilakukan bangsa Iranun untuk melawan penjajahan. Inilah bentuk perlawanan yang membentuk solidaritas Melayu dengan sesama Melayu di kawasan Rantau Melayu. Perlawanan yang dilakukan orang Melayu terhadap penjajah Belanda, Inggris, Spanyol, dan Portugis.
Sepintas lalu, novel ini akan menimbulkan persepsi negatif dari pembaca terkait judul dan sampul depan novel sejarah ini. Kata Lanun yang bermakna bajak laut, sejauh ini belum pernah ada makna baik untuk konsep bajak laut. Dipahami bahwa bajak laut adalah manusia yang jahat, karena merampas hak orang lain di tengah lautan. Begitu juga dengan gambar novel ini, menunjukkan kepala seorang laki-laki berambut gondrong tidak beraturan dengan dua buah rantai di belakang kepalanya, serta latar warna merah menyala seperti kobaran api. Siapa sangka ternyata makna Lanun dalam novel ini bermakna baik. Ini tentunya menjadi hal yang di luar persepsi pembaca pada penilaian awal kisah ini.
Novel sejarah ini menyajikan latar tempat yang banyak sekali. Tentunya latar tempat yang terlalu banyak dan alur yang maju mundur ini dapat membingungkan pembaca mengenai isi dari novel ini. Pembaca memerlukan konsentrasi untuk memahami kisah dalam novel sejarah ini. Novel ini semata-mata bukan untuk hiburan, melainkan menambah wawasan pembacanya mengenai orang Iranun di Indonesia, khususnya di pulau Sumatera.
Terdapat dua kisah dalam novel ini. Kisah mengenai Lanun di Alang Tiga dan kisah perjalanan tokoh Nadin di Indonesia. Lanun yang berjuang merebut dan mempertahankan hak Malayu dari tangan penjajah pada masa peperangan di abad ke-15. Kisah ini juga dibumbui dengan percintaan yang tak sampai dari tokoh Tok Lukus terhadap Tengku Maimunah. Kisah serupa juga ternyata dialami oleh pemuda bernama Nadin. Sang jurnalis yang sedang bertugas di Indonesia.
Perjalanan tokoh Nadin yang mengunjungi banyak tempat di Indonesia untuk mengulik sejarah perjalanan orang Iranun, termasuk pertemuannya dengan tokoh bernama Julia. Gadis Iranun yang memikat hatinya. Bagaimana kisah pertemuan laki-laki dan perempuan sering kali menghadirkan kisah baru dalam perjalanan asmara keduanya. Walau pada akhirnya Nadin harus menerima kenyataan bahwa Julia bukanlah jodohnya. Tokoh Julia lebih memilih menikah dengan tokoh bernama Awi dan memilih merantau ke Kuala Lumpur demi menemani suaminya melanjutkan pendidikan sesuai ketentuan beasiswa yang diterima suaminya.
Berbicara tentang kehidupan Melayu yang sarat dengan ajaran Islam, sedikit kurang tepat dengan masih adanya pemujaan terhadap benda-benda yang dianggap keramat. Pada masa Lanun bolehlah kita menganggap hal itu biasa, tetapi pada perjalanan Nadin sudah pada kehidupan saat ini masih ada penggalan kisah yang meyakini hal-hal keramat tersebut. Hal ini tentunya bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Tentang sebuah pohon keramat yang memiliki lima cabang dengan rasa buah yang berbeda atau tentang membasuh wajah di telaga keramat menjadikan wajah tetap tampak muda. Tentunya kepercayaan begitu salah pada ajaran Islam. Kepercayaan terhadap benda-benda keramat dan menyembahnya disebut dengan sikap syirik. Syirik merupakan sikap manusia yang menyeketukan Allah dalam berbagai hal. Syirik diharamkan dalam ajaran Islam.
Novel Lanung Alang Tiga juga berisi tentang kebudayaan Melayu. Baik cara bertahan hidup dan makanan yang khas. Menceritakan masyarakat Melayu menongkah kerang dan berbagai masakan khas dari Melayu. Hal ini sangat baik sekali untuk mengangkat kebudayaan Melayu, sehingga akan semakin diketahui apa saja khas dari suku Melayu.
Berkaitan dengan makna kata lanun dalam kamus besar bahasa Indonesia yaitu bajak laut atau perompak. Kisah lanun tentang merebut kekuasaan dari penjajah dianggap sebagai upaya perjuangan. Lanun kini di Indonesia juga banyak, sayangnya bermakan negatif. Siapakan lanun di Indonesia? Ialah mereka sang koruptor. Berjanji akan menyejahterakan masyakat kecil dari kesulitan kehidupan. Kenyataannya tidaklah demikian. Mereka hanya memperkaya diri mereka sendiri, sehingga menambah kesengsaraan rakyat kecil. Indonesia bagaikan lautan kekayaan tempat mereka (para koruptor) untuk terus merompak. Bukan lagi rahasia kalau saat ini para perompak hak masyarakat masih mendapatkan perlakuan hukum yang runcing ke bawah dan tumpul ke atas.
Semoga Indonesia saat ini memiliki Lanun yang bersatu dan berjuang untuk mengambil kembali hak-hak masyarakat yang dikuasai sepihak oleh penguasa negeri ini. Berjuang bersama memberikan kehidupan yang seharusnya kepada masyarakat, bukan justru sebaliknya. Seharusnya para penguasa yang tidak amanah itulah seharusnya yang dirompak oleh para lanun.

 

Comments (0)
Add Comment