Pengantar: Berikut ini adalah pokok-pokok pikiran yang dikemukakan dalam acara Dialog Seni Budaya Dumai 2026, pada 12 September 2026, di Pantai Tantrayana, Teluk Makmur, Dumai, dimana hadir peserta dari Jakarta, Riau, Sumbar, Jawa Barat, Yogyakarta, Singapore dan Malaysia. Semoga bermanfaat.
Indahnya bulu si burung Punai
Hinggap sekejap di tepi pantai
Selamat datang di negeri Dumai
Menikmati karya seni yang aduhai
(1)
Organisasi antara bangsa ASEAN yang ditubuhkan sejak berakhirnya konflik antara Presiden Soekarno dengan negara tetangga akibat pembentukan negara Malaysia, sekitar tahun 1966, ternyata membawa stabilitas kawasan. Fokus perhatian adalah membangun ekonomi demi mencapai kesejahteraan masyarakatnya. Kita ingat trilogi pembangunan masa Orde Baru yaitu Pertumbuhan Ekonomi, Stabilitas Politik, Pemerataan Pembangunan. Bagaimanapun konflik itu, yang belum sampai pada perang terbuka namun sedikit banyak telah menguras sumber daya ekonomi, dan ini artinya mengganggu sektor kehidupan lainnya termasuk kebudayaan.
ASEAN memang merupakan organisasi resmi antar pemerintahan. Namun perkembangan lebih lanjut adalah diperlukannya langkah-langkah lebih jauh yaitu membangun masyarakat ASEAN, sehingga hubungan timbal balik bukan hanya terjadi antara pemerintahan tetapi juga antara warga masyarakatnya. Perlu membangun sebuah masyarakat ASEAN.
Membangun sebuah masyarakat ASEAN dimulai dari sektor kehidupan yang relatif mudah, yaitu terbukanya hubungan silaturrahmi/kunjung mengunjung, tourisme/dunia wisata dan dunia kebudayaan. Bebas visa untuk kunjungan sesama negara ASEAN untuk waktu tertentu merupakan langkah awal terbentuknya interaksi antar warga. Tak terasa setahap demi setahap, pergaulan yang ada menimbulkan saling pengertian dan saling hormat menghormati antar warga negara.
(2)
Kebudayaan yang didalamnya terdapat elemen-elemen seperti kesenian, sastra, puisi, tari, drama, teater, seni rupa, film, adalah pintu masuk interaksi antar warga. Oleh karena itulah perkembangan yang pesat dalam menampilkan karya-karya seni sangat mudah diterima oleh masyarakat yang majemuk itu. Di kalangan warga ASEAN perteman kebudayaan atau kesenian semakin sering dilakukan. Demikian juga di kalangan sastrawan: ada Pertemuan Penyair Nusantara, yang dilakukan setiap tahun dengan mengambil tempat bergantian antar negara-negara ASEAN. PPN Aceh ke XIV baru saja dilaksanakan di Aceh dan insya Allah tahun depan dilaksanakan di Brunei Darussalam. Setiap pertemuan antara bangsa selalu ada sesi untuk melakukan pertukaran gagasan dan konsep, selain tentu saja ada performance dari berbagai cabang seni lainnya: drama/teater, seni rupa dan lain-lain.
(3)
Dumai adalah sebuah kota yang tengah berkembang. Berada di tepi selat Melaka, dan berhadapan dengan kota Melaka di semenanjung. Kota Melaka adalah kota bersejarah dimana kerajaan Melayu dimulai dan ditubuhkan. Namun dari Melaka pulalah, penjajahan bangsa asing dimulai. Sultan Melaka terakhir Sultan Mahmud, dimakamkan di Pekan Tua, Pelalawan Riau. Hari ini Dumai menjadi ajang pertemuan sejumlah seniman warga Asean. Tentu saja pertemuan ini akan menunjukkan berbagai karya seni dalam berbagai genre. Puisi, tari, drama dan lainnya. Demikian juga perjumpaan gagasan dan ide di bidang seni dan kebudayaan.
Namun pelu diingat, bahwa peristiwa kali ini, bukanlah yang pertama, Sebab sekitar dua puluh tahun yang lalu, sekitar awal Tahun 2000-an, sebuah peristiwa kebudayaan yang serupa juga pernah dibuat oleh kota Dumai. Peristiwa itu dikenal dengan sebuah festival kesenian yang disebut dengan Sayang-Sayang Selat . Festival Sayang-Sayang Selat ini dilaksanakan 3 tahun berturut-turut dengan mengambil tempat di Selat Panjang (Lalang), Pambang (Pulau Bengkalis), dan Dumai. Inisiator festival ini adalah Yusmar Yusuf (Profesor UNRI), Sujianto (Profesor UNRI, Syafhendri (Prof. Madya UIR), Agustnimar (Prof.Madya UIR). Penamaan Sayang-Sayang Selat merujuk pada Selat Melaka, yang disebut sebagai halaman bermain bagi warga Melayu baik di Riau ataupun di Semenanjung. Festival ini dihadiri oleh sejumlah warga negara ASEAN.
(4)
Pertemuan antar seniman di lingkungan warga ASEAN sering dilakukan, terutama yang mempergunakan bahasa Melayu. Hubungan antar kota semakin rapat karena faktor transportasi laut dan udara yang semakin mudah dan relatif murah. Kalau pada Tahun 2002 Festival Gendang Nusantara diadakan di Kota Melaka, dan kemudian dilanjutkan terus menerus sampai tahun-tahun terkini, tidak lain untuk menjaga dan merawat kebudayaan Melayu dan Islam. Apalagi Melaka ditunjuk untuk menjadi tempat kedudukan pengurus pusat Dunia Melayu Dunia Islam. Waktu itu Datok Seri Hj. Muhamad Ali Rustam memegang jabatan Menteri Besar Melaka. Kekuatan ekonomi suatu negara tidak bisa dipisahkan dengan kemajuan di bidang kesenian dan kebudayaan.
(5)
Bagaimana para seniman melihat perkembangan masyarakatnya, melihat kemajuan ekonomi bangsanya? Juga melihat perkembangan nasib kaum bumi putera, kaum Melayu? Ternyata melihat perkembangan dan kemajuan suatu negara, di mata kaum seniman bisa saja melihatnya dengan cara berbeda. Mungkin kita bisa berbeda dengan para seniman itu, tetapi boleh jadi cara melihat yang dilakukan seniman ada juga kebenarannya.
Bagi seniman semua genre, karya seni juga berfungsi sebagai media pengungkapan sikap dan pandangan penciptanya pada sebuah perkembangan bangsanya, disamping tentu saja merupakan karya seni yang indah dan memukau. Karya seni juga berfungsi sebagai media korektif dan evaluatif atas keadaan masyarakatnya.
Saya ingin mengutip beberapa bait syair/puisi karya seniman yang penyair (sang penguasa kata-kata) yang mempunya pandangan kritis atas situasi kaumnya, nasib bangsanya.
Ahmad Samad Said, penyair sastrawan Malaysia penerima anugerah Sastrawan Negara ke 4 di Tahun 1985 (setelah Keris Mas 1981, Shahnon Ahmad 1982, Usman Awang 1983) menulis dalam puisinya yang terkenal Hai Melayu.
Hai Melayu
Masih mendabik menjadi tuan?
Sibuk mahu menjadi tuan
Rupanya kerja kelas bawahan
Ditipu mentah orang atasan
Konon perjuangan ini untuk kalian !
Kerja sikit, sembang kencang
Banyak rungut, sikit rancang
Siapa tegur, dituduh lancang
Duduk warung, gigit kacang
Hai Melayu
Konon kau pantang dicabar
Konon kau tangjas menyambar
Tapi Cuma indah khabar
Rentakmu makin lama makin hambar
Kau Melayu aku pun Melayu
Aku menulis bukan cemburu
Aku mau engkau tahu
Kenapa Melayu tak macam dulu
Penyair Indonesia, yang puisinya selalu disebut secara keliru, sebagai karya penyair terkenal Taufiq Ismail, dialah Ahmad Sastra, seorang Doktor, bidang pemikiran pendidikan Islam, lulusan Universitas Ibnu Khaldun, Bogor.
Negeri ini masih dicekik ribuan triliuan hutang berbunga haram
Jika negeriini telah mampu melunasi hutang itu
Silahkan teriak merdeka
Jika belum mampu lebih baik diam dan berfikir
Malu kita
Negeri khatulistiwa ini dahampari kekayaan alam yang luar biasa
Namun dikelola dan dimiliki negara lain
Membiarkan sumber daya alam milik rakyat dirampok penjajah
Rakyat hampir tidak pernah bisa menikmatinya
Jika kekayaan alam ini belum bisa dikuasai negara
Jika penjajah asing dan aseng belum dkiusir dari negeri ini
Jangan teriak merdeka !
Lebih baik diam danaa berfikir
Malu kita
Penyair terakhir yang akan saya kutip, adalah penyair kelahiran Tarempa, Kepulauan Riau, kelahiran tahun 1945, dan meninggal 1988, bernama Ibrahim Sattah, puisinya berjudul Di Kaki Jakarta
Terima Kasih Indonesia.
Baik benar hatimu. Niscaya kabar percintaan kita dikawatkan kemana-mana dan aku akan lebih lekat menciummu mencium sisa birahi yang meleleh dikakimu.
Ambillah terimaksihku, Indonesia
Kuucapkan padamu dari hati yang kanan
Sebelum selamat tidur
Sebelum aku tibatiba merasa malu mengenangmu
(5)
Saya tutup tulisan pokok-pokok pikiran ini dengan sebuah pantun penutup
Kalau ada jarum yang patah
Jangan disimpan dalam peti
Kalau ada kata yang salah
Jangan disimpan dalam hati
Penulis adalah penyair penerima anugerah Z. Asikin Kusumahatmadja (2014), anugerah Sastrawan Budayawan Pilihan Sagang (2015), anugerah Makrifat Marjani (2022), anugerah 40 Tahun Berkarya (Balai Pengembangan & Pembinaan Bahasa, 2025), dan seorang pensyarah (associated professor) pada Fakultas Hukum Universitas Islam Riau.