MELIHAT MITOS DAN RIMA DALAM “FAQIH YANG KESEPIAN”

Sebab sampai kapanpun seorang faqih pada hakikatnya memang kesepian, dan akan tetap kesepian.

Tapi begitulah ia ada. Sebagai tiang penyeimbang kemaruknya dunia.

(Raudal Tanjung Banua)

Mengamati kumpulan cerita pendek “Faqih yang Kesepian” sepertinya kita melihat seorang Norham Abdul Wahab yang religius. 11 cerita pendek dalam buku ini cerminan realitas sosial religi dari kehidupan pengarang. Saya mencoba mengambil satu cerpen yang diletakkan pada bagian paling akhir sekaligus judul buku “Faqih yang Kesepian”. Pengarang sepertinya telah punya alasan tersendiri meletakkan judul buku pada bagian akhir. Hal ini tentunya bagian dari strategi penerbitan buku.

Representasi seorang faqih (baca: sosok juhud) dalam “Faqih yang Kesepian” terwujud dari kover buku yang penuh dengan simbolik. Seorang faqih hadir dengan penuh kesederhanaan dan terkadang dipersepsikan terkesan lusuh. Sosoknya menjadi fenomena di tengah masyarakat yang serba hedonis saat ini. Sosoknya menjadi ide cerita bagi pengarang untuk menempatkannya pada cerita utama sebagai bahan renungan bagi kita. 

Mitos

Tokoh Faqih dalam cerpen yang diletakkan sebagai cerpen penutup adalah symbol  tokoh mitos yang hadir di tengah masyarakat. Tokoh yang dapat mempengaruhi pola pikir bahwa kehadirannya dapat membawa keberkahan dan keberlimpahan rezeki. Mitos yang hadir akan menghadirkan pengkultusan pada seseorang. Seseorang dianggap memiliki “mukjizat” yang tidak dimiliki semua orang. Terlihat pada pandangan masyarakat tentang faqih tersebut.

…pemilik toko terlihat senang tak kepalang… Ia berharap, duit itu diambil dan dijarah oleh lelaki muda itu. Sebab ia percaya, lelaki muda itu membawa keberkahan bagi siapa saja yang diambil dijarah olehnya. Pemiliknya akan berlimpah rezeki, semakin kaya. Begitu keyakinannya. (h. 132).

Realitas dalam cerpen tersebut sejalan menurut pemikiran Mircea  Eliade tentang mitos. Bagi masyarakat arkhais (tradisional), mitos berarti suatu cerita yang benar dan cerita ini menjadi milik mereka yang paling berharga, karena merupakan sesuatu yang suci, bermakna, menjadi contoh model bagi tindakan manusia, memberikan makna dan nilai pada kehidupan ini. Mitos menceritakan bagaimana suatu realitas mulai bereksistensi melalui tindakan makhluk supra-natural. Mitos selalu menyangkut suatu penciptaan. Dan mitos dianggap sebagai jaminan eksistensi dunia dan manusia, terbaca pada toko yang dijarah oleh faqih dianggap akan mampu melipatgandakan kekayaan.

“Beruntung Koko Liong. Orang baik berpadah baik. Tinggal nunggu hari, semua akan balik lagi. Dan lebih banyak. Mewah … Mewah …”

Kehadiran sosoh faqih sebagai simbol mitos akan mempengaruhi seseorang untuk melakukan proses identifikasi diri. Proses ini dipengaruhi karena ada energi wibawa yang ditawarkan tokoh faqih pada pengikut dan masyarakat sekitarnya. Dalam teori sosiologi tersebut (identifikasi) terjadi pada ending dalam cerpen ini.

Dan entah oleh kekuatan dari mana, sejak malam itu, akupun berpenampilan seperti dirinya, jubah putih, surban melilit kepala, kemanapun jua kaki ini dilangkahkan (h. 142).

Apa yang dilakukan untuk menjadi  seperti faqih, secara fenomenologi  Ilmu tidak terbatas pada yang empirik melainkan mencakup fenomena yang berasal dari persepsi, pemikiran, pemaknaan dan keyakinan subjek tentang bsesuatu di luar subjek.  Pendapat Husserl ini pada akhirnya dikembangkan oleh Alfred Schutz yang memusatkan perhatian pada struktur kesadaran yang diperlukan untuk terjadinya tindakan atau interaksi. 

Secara garis besar fenomenologi memandang perilaku manusia, apa yang mereka katakan, apa yang mereka lakukan adalah suatu produk bagaimana orang melakukan tafsir terhadap dunia mereka sendiri.  Berdasar hal tersebut, maka menunjukkan bahwa proses pengkultusan adalah bentuk penafsiran terhadap peristiwa dan interaksi yang dilakukan seseorang dengan lingkungannya.

Rima

Dalam KBBI disebutkan bahwa salah satu pengertian rima adalah pengulangan bunyi yang sama. Bila kita cermati dengan jeli, dalam cerpen Faqih yang Kesepian kita menemukan kelihaian pengarang menjaga rima dalam kalimat perangkai paragraf dalam cerpennya. Ada rima yang dijaga di bagian akhir. Ada rima yang dijaga di bagian awal. Bahkan ada rima yang dirangkai pola pantun.

Cara seperti ini menandakan cerpen ini ditulis dengan perencanaan yang matang. Kematangan itu dipengaruhi dari latar lain pengarang yang juga seorang penyair. Penyair yang terbiasa menjaga rima dalam puisinya. Kita dapat menyebut buku puisi-puisi tunggalnya “Preman Simpang”, “Tuah Uzlah”, dan “Gila Bayang”. Hal ini berpengaruhi pada bentuk karya lainnya (cerpen) yang dihasilkan.

Kita perhatikan rima di awal pada rangkaian paragraf berikut:

Lalu, kami berbincang tentang banyak hal. Tentang dia. Tentang aku. Tentang amalan. Tentang Tuhan. Tentang pulau ini. Tentang negeri. Tentang pemimpin. Tentangberbagai hal.

Juga terbaca pada paragraf:

Lama ia begitu, di situ; Orang-orang menatap menunggu. Tubuhnya, hebat bergetar, mulut meracau hingar-bingar; Orang-orang menanti dengan dada berdebar, pandang terbuka lebar. Mata lelaki muda itu mulai berwarna darah, lidah mulai basah oleh air ludah; Orang-orang mulai resah, hati merasa gelisah. Mendengar nama itu, mereka tercengang dan kembali saling pandang. Orang-orang memandang dengan senyum sumbang.

Rima di bagian akhir pada paragraf:

Sedang toko sekitar yang ketakutan, melemparkan semua barang jualan ke jalan, untuk menyelamatkan. Namun hal itu malah mengundang  aksi penjarahan yang dilakukan banyak orang yang menyaksikan. Kecuali toko perhiasan itu, barang perhiasannya telah aman tersimpan.

Paragraf lain:

Sedari muda aku enggan banyak bicara. Tapi denganmu, malam ini, aku merasa boleh lepas bebas bicara, sesuka-sukanya. Aku merasa terlepas dari semua beban derita dan dera kata-kata.

Rima pantun pun membuat unik cerpen ini, coba kita telusuri.

Karenanya aku tak berani lagi banyak bicara. Lalu, aku menukar kata-kata dengan laku. Tapi rupanya, hasilnya lebih kurang sama saja. Orang-orang tetap saja takut berdekat-dekat, apatah lagi berbincang denganku.

Cerpen “Faqih yang Kesepian” memiliki peluang untuk dikaji lebih jauh dalam berbagai tinjauan sudut pandang multidimensi keilmuan. Lebih jauh struktur yang dibangun bila kita telaah lebih jauh akan ditemukan keunikan yang penyajiannya. Tahniah.

Bambang Kariyawan Ys., Sastrawan.

Comments (0)
Add Comment