Meluruskan Mitos-mitos Menyesatkan Soal Pramugari : Oleh Tutin Apriyani

Meluruskan Mitos-mitos Menyesatkan Soal Pramugari

Oleh Tutin Apriyani

SEBUAH iklan kecil di koran kuning (yellow newspaper) cukup menyita perhatian banyak orang terutama kaum lelaki. Bunyinya: : “ingin berkencan dengan pramugari? Kami menyedikan para pramugari yang hot dan dijamin memuaskan.”

Lelaki mana yang tak akan tergoda dan punya dreaming begitu membaca iklan tersebut. Begitulah sosok pramugari ditempatkan pada posisi yang khusus dan istimewa.

Pramugari memang termasuk profesi yang sering dipandang glamour dan high-class. Pasalnya, penampilan pramugari yang tampak di permukaan saat menjalankan tugas dalam penerbangan cukup mempesona. Rata-rata tubuh mereka yang proprosional, masih muda dengan kulit bersih berada dalam balutan pakaian dinas (uniform) yang dipenuhi emblem dan simbol maskapai penerbangan tempatnya bekerja.

Padahal, pramugari tak lebih dari seorang pelayan yang ditugaskan di dalam kabin pesawat dalam penerbangan baik domestik maupun internasional. Apa yang dilakukan oleh seorang pelayan restauran, sebenarnya itu pula yang menjadi sebagian tugas pramugari. Sebutlah, melayani keluhan dan permintaan penumpang yang minta selimut karena kedinginan, menyajikan makanan dan minuman, mendampingi penumpang yang sakit atau lansia dan masih banyak lagi.

Pergaulan para pramugari yang dipandang menutup diri dan cenderung berada dalam lingkaran awak kabin lainnya seperti pilot, pramugara atau crew lainnya, membuat keberadaan pramugari bagai sulit disentuh. Bahkan banyak orang mempersepsikan pramugari seolah-olah hanya ingin mencari jodoh di kalangan kaum lelaki yang berduit dengan postur tubuh yang atletis.

Mitos serupa itu dihembuskan akibat ketidak-fahaman dunia pramugari. Bagaimana pun pramugari adalah manusia biasa yang dipagar oleh aturan-aturan normatif biasa. Apa yang ditabukan pada banyak kaum perempuan, itu pula yang berlaku pada para pramugari.

Betapa banyak sebenarnya pramugari yang menikah dengan orang yang berprofesi biasa saja. Dan ternyata kehidupan rumah tangga mereka juga berjalan lancar tanpa intrik-intrik negatif.

Padatnya jadwal penerbangan para pramugari sehingga banyak meninggalkan rumah dan tak terjangkau pengawasan orangtua atau keluarga, memunculkan mitos seolah-olah pramugari hidup bebas tanpa batas. Begitu pula bagi pramugari berstatus istri sering pula menimbulkan mitos miring. Pramugari dipersepsikan tidak bisa mengurus rumah tangga atau suami sendiri.
Bahkan, dituduh sangat berpeluang berselingkuh dengan sesama kru pesawat (pramugara dan pilot) baik saat menjalankan tugas maupun saat santai.

Pramugari asing top dunia

Memang ada saja segelintir oknum pramugari yang melakukan kekeliruan yang bersifat pribadi. Sebagaimana dilansir di internet beberapa waktu lalu, adanya skandal percintaan oknum pramugari dengan oknum pilot yang sudah berkeluarga atau kisah kasih pramugari dan pramugara bahkan juga skandal cinta dengan penumpang. Namun, persentase yang terlibat skandal yang dapat mencoreng citra profesi dan maskapai penerbangan sangat kecil. Bahkan, boleh dikatakan, hal itu hanyalah faktor manusiawi yang boleh terjadi dalam profesi apa pun.

Bagi sebagian besar penumpang laki-laki di kelas eksekutif atau kelas bisnis di saat menjalani rute penerbangan yang jauh (long trip), kadangkala meminta pelayanan lebih seperti menemani ngobrol. Dalam perbincangan panjang itu, ada saja penumpang yang memandang pramugari dapat diajak berkencan di luar jam dinas. Mitos miring ini tak jarang beredar cepat sehingga profesi pramugari bisa-bisa dipandang sebagai gosip murahan

Apalagi, hampir semua pramugari yang ingin tampil cantik dan mempesona tentu membutuhkan bahan dan peralatan kosmetika yang bermutu dengan harga mahal. Dibanding gaji bulanannya tentulah tak sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan ekstra terkait upaya mempercantik diri tersebut.

Persepsi begini pun pasti dapat mempengaruhi pola pikir kaum lelaki terhadap profesi pramugari. Padahal, pramugari punya sumber pendapatan yang cukup karena selain gaji juga memperoleh allowance (tunjangan) penerbangan yang lumayan besar.

Jangan-jangan munculnya iklan hiburan yang dimuat di rata-rata suratkabar kuning itu berdasarkan mitos-mitos miring dan menyesatkan yang tak beralasan. Layaknya hukum pasar, si pengiklan melihat dreaming sebagian kaum laki-laki untuk membuat sensasi kencan dengan pramugari untuk mencari mangsa yakni kaum laki-laki yang suka sensasi.
Keramahan para pramugari yang melekat pada tugas-tugas pelayanan yang diembannya kadangkala bisa menjadi pemicu munculnya prasangka tidak mengenakkan.

Bayangkan saja, tugas pramugari saat memberikan pelayanan seperti menghidangkan makanan dan minuman, mengingatkan penumpang agar memasang seat belt (sabuk pengaman) atau memenuhi permintaan bantuan penumpang, memang bisa jadi disalah-tafsirkan. Semua itu sangat berpulang pada sikap manusiawi seseorang yang dipagar oleh etika dan norma yang dianut.

Pramugari Indonesia ternyata punya kelebihan tersendiri dibanding pramugari mancanegara lainnya. Hal ini pernah diungkapkan oleh Raja Segran, General Manager Singapore Airlines untuk Indonesia beberapa tahun silam, bahwa pada umumnya pramugari Indonesia sangat disukai karena terkenal sopan, lembut, perhatian dan ceria serta memiliki nilai-nilai keluarga yang baik.

“Jadilah pramugari Indonesia dengan kepribadiannya karena menjadi Singapore girl bukan berarti menjadi orang Singapura.” pesan Segran. Waktu itu, Singapore Airlines yang memiliki 3.400 Singapore Girls di mana 116 di antaranya dari Indonesia.

Di balik mitos-mitos miring soal pramugari itu, ternyata tugas seorang pramugari begitu berat dan mulia dalam memberikan pelayanan terhadap para penumpang. Sebutlah di antaranya, menjelaskan prosedur keselamatan penerbangan, komunikasi, pelayanan katering, semuanya yang ada dipesawat mereka harus mengetahuinya belum lagi berbagai peraturan domestik atau internasional.

Bahkan.,mereka tidak hanya dituntut untuk menguasai materi pelatihan yang diberikan tetapi juga harus dapat mempertahankan apa yang telah dicapai para senior mereka.

Pramugari sebenarnya berada di frontline dalam membangun citra positif maskapai penerbangan tempatnya bekerja. Citra buruk seorang pramugari akan berpengaruh langsung terhadap nama besar maskapai penerbangannya. ***

Hj. Tutin Apriyani, SE adalah pramugari maskapai pemerintah 1980-1993. Pernah melayani rombongan VVIP Presiden Sieharto.

Comments (0)
Add Comment