Memahami Aksi Greenpeace: Seberapa Nyata Pengaruh Krisis Iklim bagi Lingkungan Kita?

Memahami Aksi Greenpeace: Seberapa Nyata Pengaruh Krisis Iklim bagi Lingkungan Kita?

 

Amad Habil Prayuda Siahaan
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi UIN Suska Riau

Selasa pagi, 20 Oktober 2026, enam aktivis Greenpeace Indonesia memanjat patung Selamat Datang di Bundaran HI dan membentangkan dua spanduk kuning raksasa. Satu bertuliskan “Bencana Makin Parah, Hidup Makin Susah, Apa Kerja Pemerintah?”, sedangkan yang lain menghadap Istana Merdeka dengan pesan “Tangani Krisis Iklim, Turunkan Biaya Hidup”. Sebagian orang mungkin menganggapnya sekadar aksi mencari perhatian. Saya melihatnya sebagai pertanyaan yang pantas dijawab: seberapa nyata pengaruh krisis iklim bagi lingkungan kita? Menurut saya, pengaruhnya nyata dan sudah terasa, dan aksi ini layak dipahami, bukan hanya ditonton.

Krisis Iklim Memperparah Kerusakan Lingkungan

Contoh paling dekat adalah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Sebagian besar karhutla di Indonesia terjadi di lahan gambut, yaitu tumpukan sisa tumbuhan yang membusuk selama ratusan tahun dan tersimpan dalam kondisi basah. Selama tetap basah, karbon di dalamnya terkunci aman. Begitu dikeringkan dan terbakar, gambut membara di bawah permukaan, sulit dipadamkan, dan menghasilkan asap pekat berisi karbon dioksida (CO2), karbon monoksida (CO), serta partikel sangat halus. Dampaknya bahkan terpantau dari luar angkasa: satelit NASA pada 13–15 Oktober 2026 menunjukkan konsentrasi karbon monoksida yang tinggi di atas Indonesia, dan BMKG menyebut asap sempat masuk ke Jawa bagian barat pada 16 Oktober 2026.

Di sinilah menurut saya hubungan dengan krisis iklim sulit dibantah. Pemanasan global membuat musim kemarau lebih kering dan panjang, terutama ketika fenomena alami seperti El Niño terjadi, dan lahan yang kering jauh lebih mudah terbakar. Kebakaran kemudian melepas karbon yang tersimpan puluhan hingga ratusan tahun, menambah gas rumah kaca di atmosfer, dan memperparah pemanasan. Lingkarannya saling memperkuat. Karena itu, karhutla bukan sekadar bencana lokal, melainkan bagian dari persoalan iklim yang lebih besar. Menyebutnya “musibah musiman” berarti menutup mata pada pola ini.

Sebagian orang mungkin bertanya, bukankah kemarau dan kebakaran sudah ada sejak dulu? Memang benar bahwa fenomena seperti El Niño bersifat alami. Namun yang berubah adalah seberapa kering dan panjang musim yang harus kita hadapi, dan perubahan itulah yang membuat risikonya makin besar. Gambut yang dibiarkan kering ibarat bahan bakar yang menunggu percikan api. Manusia tidak menciptakan kemarau, tetapi cara kita mengelola lahan dan menahan emisi ikut menentukan apakah kemarau berubah menjadi bencana.

Mengapa Aksi Greenpeace Layak Dipahami

Kerusakan lingkungan pada akhirnya kembali kepada manusia. Partikel PM2,5 berukuran sekitar 30 kali lebih kecil daripada lebar sehelai rambut, sehingga lolos dari penyaring alami di hidung dan sebagian dapat masuk ke aliran darah. Anak-anak paling rentan karena bernapas lebih cepat dan paru-parunya masih berkembang. Kementerian Kesehatan mencatat 306.309 kasus ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) akibat karhutla hingga pertengahan Oktober 2026, dan kelompok usia 6–9 tahun menjadi yang terbanyak dengan 77.022 kasus. Dengan angka seperti itu, kalimat “Bencana Makin Parah” pada spanduk terasa jauh dari berlebihan.

Sisi “biaya hidup” pada spanduk itu pun masuk akal. Pertanian bergantung pada cuaca yang bisa diprediksi; kekeringan, banjir, dan cuaca tidak menentu dapat menurunkan hasil panen, dan ketika pasokan berkurang, harga cenderung naik. Asap tebal menambah beban lewat jarak pandang yang menurun, sekolah dan pekerjaan yang terganggu, serta biaya berobat yang meningkat. Rantainya sederhana: iklim berubah, cuaca ekstrem, produksi pangan terganggu, harga naik, pengeluaran rumah tangga bertambah. Krisis iklim akhirnya sampai ke meja makan.

Saya paham jika sebagian orang merasa risi dengan aksi memanjat patung di tengah kota. Meski begitu, aksi simbolik seperti ini sering berhasil melakukan satu hal penting: membuat isu yang abstrak menjadi terlihat. Krisis iklim kerap terdengar jauh, seperti urusan es di kutub atau angka suhu rata-rata. Spanduk kuning itu menariknya ke bahasa yang dekat dengan keseharian, yaitu napas anak-anak dan harga makanan. Terlepas dari setuju atau tidaknya kita pada cara yang dipilih, pesan di baliknya patut ditanggapi dengan data, bukan dengan cemoohan.

Pemerintah memang sudah bergerak, misalnya lewat operasi modifikasi cuaca (OMC) di Kalimantan Selatan sejak 10 Oktober dengan 23 sorti penerbangan. Namun OMC hanya bekerja jika awan cukup, sehingga sifatnya pemadam sementara. Di titik inilah kritik Greenpeace terasa relevan. Para pakar umumnya menekankan bahwa solusi jangka panjang ada pada pencegahan, yaitu menjaga gambut tetap basah, memulihkan lahan, dan menegakkan aturan, sebab memadamkan api setelah menyala jauh lebih mahal dan sulit daripada mencegahnya sejak awal.

Spanduk kuning di Bundaran HI mungkin sudah diturunkan, tetapi pertanyaan di baliknya tetap relevan. Seberapa nyata pengaruh krisis iklim bagi lingkungan kita? Menurut saya, sangat nyata, dan pengaruhnya sudah kita hirup di udara dan rasakan di pasar. Memahami aksi Greenpeace berarti memahami rantai sebab-akibat itu, lalu menuntut penanganan yang tidak berhenti pada pemadaman. Kita juga perlu terus mengikuti perkembangannya lewat sumber resmi seperti BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika), Kementerian Kesehatan, dan KLHK (Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan).

Comments (0)
Add Comment