Pasca polemik mekanisme Debat Capres 2024 antar tim sukses pasangan capres dengan KPU, akhirnya sesi pertama debat digelar dengan seru dan menarik perhatian publik nasional. Sehari sebelum debat digelar, Majalah Tempo yang diunggah melalui akun Instagram @tempodotco membuat sebuah headline menarik yakni ‘Pura-Pura Debat Calon Presiden’. Apakah headline ini benar adanya? Kita akan kaji dari proses berjalannya sajian debat seru yang mengangkat tema Hukum, HAM, hingga Pemberantasan Korupsi tersebut.
Gagasan dan Narasi
Tujuan pelaksanaan debat pada dasarnya adalah publik ingin melihat dan menguji kualitas gagasan dan narasi dari para kandidat, dalam hal ini terkait dengan tema yang disajikan yakni upaya penegakan hukum, HAM, hingga pemberantasan korupsi.
Pada dasarnya setiap kandidat capres bersetuju bahwa ketiga aspek di atas harus ditegakkan di Indonesia, tetapi latar belakang positioning yang dibawa oleh ketiga kandidat pada akhirnya menunjukkan bagaimana narasi sebagai perwujudan gagasan itu ditampilkan.
Anies dengan positioningnya menggagas perubahan dengan santainya menyampaikan gagasan bahwa Indonesia harus bangkit menjadi negara hukum, di mana kekuasaan harus tunduk kepada hukum. Narasi ini juga yang digunakan untuk mengkritik paslon nomor 02, ‘hentikan negara kekuasaan’ di mana hukum diatur oleh penguasa.
Kasus di Mahkamah Konstitusi terhadap penetapan batas usia cawapres menjadi poin penting yang harus dijawab oleh paslon nomor 02. Walaupun jawabannya tetap sama dengan template yang disajikan Jokowi dan Gibran, ‘biarkan saja rakyat yang memilih.’
Ganjar sedikit lebih aman dalam konteks narasi ini, sebab pihaknya juga termasuk pada yang getol mengkritisi kasus-kasus hukum dan kekuasaan belakangan. Maka paslon 03 tidak ada beban untuk menyampaikan upaya komitmennya dalam penegakan hukum, HAM, dan pemberantasan korupsi. Walaupun di tubuh legislatif dan eksekutif, bagian dari pengusung Ganjar sendiri juga tidak menutup kemungkinan banyak yang terjerat kasus hukum.
Sekali lagi, banyaknya masalah hukum dan kekuasaan belakangan di tanah air menguntungkan positioning perubahan dari capres Anies. Bicara kritik dan narasi tanpa beban sehingga lebih jujur dan terbuka di depan publik.
Emosi dan Etika
Salah satu pemandangan paling menonjol dari pelaksanaan debat capres 2024 sesi pertama ini adalah pergolakan emosi antar calon. Prabowo dengan usianya yang paling tua (72 tahun) tampil dengan emosi yang meledak-ledak. Reaksi ini lebih khusus tertuju pada sosok Anies. Kesan bahwa ‘Anies, gue dulu yang naikin elu’ sangat kental terlihat dan terungkap secara verbal dan nonverbal. Efeknya, sanggahan-sanggahan debat lebih mengacu kepada perasaan emosi ke personal, bukan sanggahan terhadap sebuah gagasan yang disajikan.
Publik menyaksikan reaksi secara fisik yang ditampilkan oleh seorang Prabowo dalam mengelola emosi. Mulai dari diksi, ekspresi wajah, mimik tubuh, intonasi, dan seterusnya yang menunjukkan kontrol emosi tidak stabil. Hal bertolak belakang ditampilkan Anies. Sosok yang dalam beberapa penelitian ilmiah tersebut dikenal sebagai pengelola emosi yang handal di depan publik, tampil dengan senyuman, dan pilihan diksi yang tetap intelek. Namun, banyak yang tidak menyangka Anies akan berani menjawab pernyataan-pernyataan Prabowo yang menyudutkan diri ini. ‘Saya dulu yang menaikkan Anda Nies,” ucapan Prabowo ini ditangkis dengan bahasa lembut tetapi menusuk soal oposisi, bahwa Prabowo lah yang ternyata tidak kuat beroposisi.
Anies yang dikenal cukup terbiasa dengan panggung debat tidak kehilangan narasi dan cara berpikir. Saat ditanya tentang kasus polusi udara di Jakarta, Anies menjawab dengan data. Selanjutnya Prabowo merespon dengan ungkapan, ‘kok nyalahin angin?’ lalu dengan cerdas dan kemampuan pathos nya yang baik Anies menjawab, ‘inilah bedanya orang yang berbicara dengan data dibandingkan dengan fiksi’.
Tak pelak sanggah menyanggah antara dua orang yang dulunya cukup dekat tersebut mengundang tepuk riuh para pendukung. Semua pendukung kandidat merasa puas dengan jawaban masing-masing calon yang didukungnya.
Anies menyoroti pentingnya etika seorang pemimpin dalam mengelola kekuasaan dan pelaksanaan hukum. Diksi ini secara khusus ditujukan kepada Prabowo yang memiliki PR sebagai pasangan calon penerus kebijakan Jokowi. Namun, seperti citra yang dibangun sebelum-sebelumnya, masalah-masalah seperti ordal (orang dalam), masalah hukum, ditanggapi dengan santai dan gerak tubuh ‘joget’. Biarkan saja rakyat yang memilih dan menilai, demikian jawaban yang selalu dikatakan paslon 02.
Apakah Debat itu Berpengaruh?
Indonesia sebagai negara demokrasi yang masih berada di kualitas low, seringkali menjadikan panggung debat sebagai ajang perdebatan pula di level antar pendukung. Di Amerika ruang debat calon presiden akan sangat berpengaruh terhadap keputusan untuk memilih. Bagaimana dengan Indonesia? Debat adalah ruang menyampaikan gagasan dan narasi, ruang melihat bagaimana penampilan emosi. Publik yang sudah cerdas akan dapat mengambil keputusan pilihan yang tepat setelah sajian sebuah debat. Semoga masyarakat Indonesia semakin cerdas dalam memilih sehingga perdebatan itu tidak menjadi perdebatan pura-pura yang hanya menghabiskan anggaran.
(Nafi’ah al-Ma’rab adalah nama pena dari Sugiarti. Penulis adalah mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Riau, tercatat sebagai penggiat literasi di organisasi Forum Lingkar Pena).