Apa yang menggelitik hati, merangsang pikiran, dan mendorong kemauan penyair dan dalam hidup kesehaiannya banyak sekali. Di rumah tangga dalam hubungannya dengan segenap anggota keluarga, pergaulannya dalam masyarakat, tanggapannya terhadap bangsa dan tanah aimya, wawasannya tentang alam serta lingkungannya, bahkan kesadarannya sebagai makhluk dalam kaitannya dengan Tuhan sebagai Khalik, Sang Pencipta alam semesta dengan selengkap isinya, banyak diungkapkan oleh penyair dalam puisinya. Jadi puisi ada yang isinya tentang hal yang bersifat sentral, memusat pada diri penyair, ada yang bersifat horisontal, menjangkau alam lingkungan beserta orang lain di luar dirinya, dan mungkin juga berkaitan dengan Tuhan sebagai Khalik, karena si penyair menyadari dirinya sebagai makhluk yang berwujud renik lembut di mata Tuhan.
Banyak puisi Sumatra Utara yang isinya langsung berkaitan dengan Tuhan atau bernapaskan ketuhanan, atau bertautan juga dengan agama yang dianut oleh penyairnya. Puisi-puisi itu ada yang mempermasalahkan nasib, takdir, ibadah, dan sebagainya. Puisi-puisi itu antara lain tulisan N. A. Hadian dengan judul “Sketsa” Biru langit/Langkah pun tertegun. Ketika itu maut tiba/ Aku terbaring/Kulihat matamu/Cuaca dalam kelam/ Setelah angka-angka di bawah nol/Dan aku jadi diam.
Karya Hadian tersebut tentu saja persepsi materialnya yang ada dalam benak bukan hasil penghayatan si penyair, melainkan tangkapan inderawi visual, auditif, ditambah taktil, tentang kematian. Aku lirik dalam puisi itu bukan si penyair. Hanya permainan imajinasinyalah yang memegang peranan. Isi puisi semacam itu sifatnya humanistis universal. Puisi yang dijemput maut pernah juga saya baca dalam bentuk soneta dengan judul “De weg terug” (“Jalan Kembali“), karangan M. Vasalis, nama samaran wanita penyair Belanda, seorang Psikistis di rumah sakit Groningen, Holland.
Puisi ‘alit‘ (kecil) semacam itu pernah juga ditulis oleh Aldian Arifin dengan judul “Metafisik” (1970), yang sekaligus tertangkap keislamannya:
Dunia di luar dunia/gelombang arwah
tak terjemba/luput dari mata
Dunia di luar dunia/khidmad dan mulia dan Dia/duduk di arasyNya
Begitulah Aldian Arifin mempermasalahkan ‘metafisik‘, asosiasinya mekar kepada Tuhan yang seakan-akan sedang duduk di arasy-Nya. Aldian memang mempunyai kekhususan yaitu terampil membuat puisi alit yang bernas. Sebutir puisi “Jauh tapi dekat” (1984) garapan Djaidir S.H. di bawah ini senafas dengan salah satu lagu gubahan Bimbo:
Kucari Engkau, kucari kucari/dalam hatikukah/
atau bila kita bertemu
Dia yang kucari/kucari, kucari.
Di manakah di manakah/ Jauh, tapi dekat.
Oh, Tuhanku.
Aku lirik dalam puisi di atas mendua arah wajahnya. Dalam bait I aku lirik menghadap Tuhan (Engkau), sebagai persona kedua tunggal, yang diajak berbicara Dalam bait II aku lirik menghadap orang lain (pembaca) sebagai persona kedua tunggal, yang dibicarakan.
R. Lubis Zamakhsyari merindukan Tuhan ‘Dalam Sujud‘ (1978). Puisi visualnya di bawah ini:
setiap kucoba
melupakanMu
semakin rindu
hati ku
Puisi kontemporer yang tidak cukup jika hanya didengar, tetapi harus dilihat tipografinya seperti di atas cukup banyak dihasilkan oleh beberapa orang penyair dalam dasawarsa 70-an. Renungan tentang hidup insani sekaligus bakal tibanya ajal diungkapkan Damiri Mahmud dalam beberapa puisinya. Satu di antaranya tentang hayat insan di tangan Tuhan ditulisnya dengan judul “Kubur Itu di Matanya Telah Hadir” (1978):
gelisah kita pada maut/bagai gelisah laut/
yang menerjang-nerjang pantai/padahal tahu tenang/
A A. Bungga dalam puisinya “Kepada Anak” (1983) yang relatif cukup panjang, isi kekeluargaannya dilatarbelakangi dengan kehidupan yang miskin, bernapaskan Ketuhanan dengan anutan agama Islam, yang sebenarnya isinya berbaur juga dengan masalah kemasyarakatan. Di bawah ini bait keduanya:
bertahun ayah papah engkau, ya anak/ serta adik-adik/ buruh kecil, yang tiada orang pandang artinya/tikar lusuh, yang kita kembangkan ketika makan di lantai rumah/menundukkan wajah, karena tahu mahalnya kehidupan/ketika afdhalkan dengan bismillah .
Sedangkan “Kunanti Senja Ini” (1976) tulisan M. Indra AM di bawah ini benar-benar lirik erotik. Dengan bagan untaian serta dengan hiasan paralelisme, dan perulangan sebagai intensitas yang dinyatakan dalam sifatnya yang mencair:
Kunanti senja ini/abang kau kembali/aku tahu laut cintamu/aku tahu
laut hidupmu/kunanti senja ini/abang kau kembali/bersama degup rindu cintaku/yang membara selalu di hati/pulang abang, pulanglah sayang/aku tahu laut cintamu/aku tahu laut hidupmu/ jangan biarkan jauh di pantai/ada dara terbakar rindu/senja ini kau kunyanyi sayang/bersama kasih dan rindu/pulanglah abang, pulanglah sayang/jangan biarkan dara mati menanti/kunanti senja ini kau kembali/ dengan dada dibakar rindu//
Walaupun penyairnya mungkin menganut Romantik (Romantism) dan karya sastranya bersifat romantis impresionistis, namun rasanya tidak ada puisi-puisi kita yang isinya murni lirik alam (naruurlyiek). Umumnya alam hanya dipergunakan sebagai latar (back ground) untuk menumpangkan kandungan jiwa penyair, misalnya tentang: Ketuhanan, lingkungan hidup, kemasyarakatan, rasa cinta tanah air, renungan-renungan, dan sebagainya.
Jika image mental inderawi yang berfungsi pada Herman KS visual dan auditif, pada HA. Dharsono visual dan taktil. Di bawah ini BY. Tand membuat “Percakapan (1982) yang agak Iain dengan dua penggal puisi di atas:
sudahlah, kita akhiri saja percakapan ini Karena kita hampir sampai sekarang ke pantai/laut tenang burung-burung berkicau/di dahan hijau. Kampung halaman yang kita rindukan terhampar biru/angin berkepak. Hujan berderai memintaskan kenangan kepada gelombang laut dan jejak kita yang tertinggal di pantai. Barangkali/anak-anak yang bakal lahir mendirikan pilar-pilar/di atasnya. Barangkali jejak itu sekarang sudah terhapus/air pasang pada musim gugur yang panjang
Dan yang diungkapkan oleh Shafwan Hadi Umry dalam “Bahasa Alam” (1982) juga tak sama dengan puisi Herman KS dan HA. Dharsono:
Angin senantiasa bergantungan/menyapa dahan-dahan, berayun dalam musim tak bercuaca/hidup suatu seni yang sulit, kata orang di Timur tidak seperti mawar dan rembulan/berkelana dalam musim tak ber cuaca/tapi engkau adalah musik yang siap memainkan lagu/ seperti beranda sungai dan perahu-perahu/siap menari dalam hatiku/ begitulah selalu kehijauan membasahi abad/senantiasa bergetaran dan berlari/seperti juga burung-burung benua menyanyi dari dahan ke dahan/seperti alam yang menyanyi dari zaman ke zaman
Di bawah ini “Elegi” Herman KS:
Siapakah yang di luar itu/Kudengar menyebut-nyebut namaku/
Serasa kukenal suara langkahnya/(apakah harus kubukakan pintu).
Penulis asing bernama Isabelle Ziegler menerangkan, “There are many kinds of styles and many variations of them.” Sastrawan harus menguasai dan mencintai bahasanya, sebab bahasa itu menjadi alat baginya untuk berkarya sastra. Di samping itu, bagi penyair yang selalu mengembara di padang angan-angan (pikir) dan padang perasaan (hati)-nya dalam mencai inovasi untuk dihidangkan dalam wujud puisi, barangkali perlu selalu berimprovisasi dalam gaya ungkap selama mengasah penanya.
Penyair Djohan A. Nasution (lahir 1938) gaya ungkapnya sedikit berbeda untuk puisinya yang ditulis menjelang ujung dekade 60-an, misalnya puisinya “Debu-Bebu Jatuh“(1968):
Senja-senja susut ke dalam kelam/debu-debu lesi jatuh ke dalam gelap tanpa kerisik
Debu-debu pun jatuh/nasib-nasib pun jatuh diteras remang kehidupan/penuh bisu
Puisi dengan tipografi akrobatik semacam itu bukan hanya ada di tanah air kita, melainkan kedapatan pula di negara lain. Salah satu majalah asing yang memuat pelajaran bahasa Inggis (“Enghsh Teaching“) pernah memuat puisi yang ditata secara tipografis.
Bukan hanya Rusli A. Malem dan A. Rahim Qahhar, R. Lubis Zamakhsyari (lahir l942) bahkan mendahului Rahim Qahhar membuatnya puisi “Potret Panjang Sebuah Perjalanan (1978):
aku
tak tahu kapan
aku
akan sampai pada perjalanan
terakhir menuju
diri ku
aku
tak tahu
Puisi mbeling tidak kedapatan dalam setumpuk bahan yang saya hadapi. Hanya A. Rahim Qahhar membuat kejutan kecil dengan judul “Tak Ada Waktu Melupakan Mu“:
haatsyiiii
alhamdulillah
Puisi konkret, yaitu puisi yang mungkin menggunakan huruf bertebaran begitu saja, tanpa dirangkai yang mengandung makna, atau bahkan hanya menggunakan tanda-tanda garis lurus, gais lengkung, gambar kotak, segitiga, dan sebagainya.
Barangkali karena menghadapi kenyataan seperti yang saya paparkan di atas itulah maka Damiri Mahmud (lahir 1945) membuat prediksi “Kepada Penyair” (1979), yang beberapa lariknya sbb:
barangkali bumi ini/tempatmu mimpi
tak punya urusan lagi dengan sebaris puisi
tanyakan itu kepada angin/yang dulu awan
selalu membelai kita kini matahari menatap penuh jelaga
Simpanlah sajakmu itu buru-buru penyair
Iihatlah ke lapis sepatumu yang paling dekil
karena sebentar lagi akan lewat di sini
iringan aksara yang tiada pernah engkau mengerti
diamlah/diamlah/ itu bukan burung yang bernyanyi
Karena Damiri Mahmud menyuruh diam, maka B. Y. Tand pun membuat diam. Namun “Diam”nya B. Y. Tand (lahir 1942) yang bagian VI (ditulis di Medan, 1981) adalah diam yang tidak diam:
Dalam diammu/senyap pun berkata-kata/dengan dirinya sendiri batu-batu berteiak/pasir di pantai menyanyikan/Iagu ombak Dalam diammu/resah jadi badai/dendam bergumam-gumam menunggu angin/mengepakkan/sayapnya Dinihari/senyap pun tidur dalam diamnya
barangkali sebentar lagi/angin akan menggiing kita/ke pusat badai
Lantaran B. Y. Tand menyatakan pasir di pantai menyanyikan lagu ombak, maka pada tahun 1986 Shafwan Hadi Umry (lahir 1951) mencoba “Menyimak Ayat Ombak“:
apa arti pasir di sepanjang pantai
ketika ombak tiap hari bertandang
memanggil-manggil namamu dengan sayang
kemudian pasir menemukan sebutir mutiara
dan bertanya, apa yang terjadi dengan dirimu?
Kemudian ombak dan gelombang bertanya
‘apa yang terjadi tentang dirimu’
kerang itu, sahutnya pendek
ia membuka menutup tak sengaja
engkau pun berumah di lautan
sepanjang siang sepanjang malam
memulas menyekap rahasia lautan
mendengar menyimak ayat-ayat ombak
kemudian tamat
seperti batu dan makrifat
(Puisi Menyimak Ayat Ombak, 1997)
Penutup
1. Berdasarkan paparan di atas kesimpulan yang dapat saya ambil ialah bahwa dalam serentang waktu ini:
a. Puisi Sumatra Utara dalam kondisi baik karena berkesinambungan hadir, sedangkan penyairnya berkesinambungan berkarya lagi;
b. Puisi Sumatra Utara beraneka ragam isinya, beraneka macam gaya ungkapnya, sehingga bidang puisi di wilayah Sumatera Utara bagaikan taman sari yang terhiasi bunga yang aneka rona, dan aneka aroma,
c. Ada hal yang membanggakan, dan sekaligus menimbulkan rasa iri (dalam pengertian yang positif) yaitu bahwa beberapa orang penyair di wilayah ini sudah benar-benar memuisi jiwanya, masih menulis puisi sampai senja.
d. Karena puisi adalah sastra yang sulit dinikmati/dipahami oleh orang awam, maka saya sarankan agar sering diusahakan penanaman apresiasi kepada generasi muda, terutama kepada para anak sekolah. Banyak langkah yang dapat diambil untuk keperluan itu.
*Tulisan Piek Ardijanto Suprijadi pada Acara Temu Sastrawan Sumatra Utara 1977 di Taman Budaya Medan. Meskipun sudah diedit namun tidak mengurangi isi makalah yang pernah disampaikannya.