Membaca Teks dan Jalan Kepenyairan Iyut Fitra dalam Kumpulan Puisi Dengung Tanah Goyah: Catatan Redovan Jamil

Saya membaca puisi-puisi Iyut Fitra sejak awal belajar menulis puisi. Puisi Iyut menjadi salah satu acuan bagi kami (komunitas sastra) untuk merangkai kata, menentukan diksi, gaya ucap, dan sebagainya. Saya membaca buku Iyut mulai dari buku Baromban (2016), Lelaki dan Tangkai Sapu (2017), Mencari Jalan Mendaki (2018), Sinama (2020) dan sekarang Dengung Tanah Goyah (2024) yang merupakan buku puisi Iyut ke-sepuluh. Buku ini diterbitkan oleh Penerbit JBS dengan tebal 100 halaman. Terdapat 41 judul puisi di dalamnya. Raudal Tanjung Banua, sastrawan Indonesia yang banyak menulis puisi dan cerpen, memberikan prolog bagi buku ini. Sementara itu, epilognya diberikan oleh Kiki Sulistyo, sastrawan Indonesia yang bergiat di Komunitas Akarpohon. Hebatnya buku puisi Dengung Tanah Goyah (2024) masuk tiga besar Buku Sastra Pilihan Tempo (2024) dan masuk Daftar Pendek Kusala Sastra Khatulistiwa (Kusala) Kategori Kumpulan Puisi (2025).

Saya membaca, kumpulan puisi Dengung Tanah Goyah ada pergeseran subjek tentang “aku” menjadi “ia”, sebagaimana yang dikatakan Heru Joni Putra dan Raudal Tanjung Banua, makin ke sini, kian terasa begitu benar adanya. Aku-lirik berubah fungsi dari pembahasan personal ke pembahasan yang lebih luas. Namun, cuplikan pergolakan penderitaan masih saja terasa dalam helaan bait-baitnya. Meski, perkara rantau sudah ia lepaskan secara tidak langsung, hanya saja ia terus menyuguhkan kebimbangan-kegamangan terhadap hari depan. Ketakutan-ketakutan perihal tanah kelahiran, adat istiadat, mitos-mitos, gedung dan benda-benda yang dulu akrab di masa kecilnya, pelan-pelan hilang ditelan oleh bencana alam atau bencana yang terbuat dari kecanggihan teknologi. Kemudian, juga tergambarkan dalam puisi-puisi Iyut tentang kondisi jiwa masyarakat atau individu yang sedang dilanda krisis identitas, terombang-ambing antara nilai lama dan baru, bingung menghadapi perubahan atau belum siap dengan perubahan itu sendiri.

Penyair dan Lokalitas Minangkabau

Iyut Fitra penyair asal Payakumbuh, memperlihatkan konsistensi dalam mengolah kekayaan kultural Minangkabau melalui karya-karyanya. Keterlibatannya dalam komunitas literasi serta peran aktifnya dalam ekosistem sastra lokal telah membentuk sensibilitas estetik yang berakar kuat pada lanskap budaya, adat, dan ruang sosial Sumatera Barat. Dalam kerangka teori Pierre Bourdieu, habitus lokal yang dimiliki Iyut Fitra, dengan modal kultural berupa tradisi lisan, pepatah-petitih, dan narasi merantau menjadi landasan yang menginformasikan pilihan diksi, konstruksi citraan alam (gunung, tanah, sungai), ritme puitik, serta perangkat stilistika yang khas dalam puisinya.

Sapardi Djoko Damono (1979) menegaskan bahwa karya sastra tidak pernah lahir dalam ruang hampa sosial, melainkan selalu berkelindan dengan pengarang, pembaca, dan masyarakat yang melingkupinya. Oleh karena itu, orientasi dari teks sebagai entitas otonom menuju teks sebagai praktik sosial yang secara aktif menegosiasikan nilai, ideologi, dan pengalaman sehari-hari. Maka, puisi-puisi Iyut, terkhusus pada puisi yang berjudul “tanah goyang” dapat ditafsirkan sebagai artikulasi pandangan dunia puak Minangkabau yang sedang berhadapan dengan krisis ekologis, kultural, dan politik—ekonomi. Habitus penyair yang dibentuk oleh pengalaman lokal, tradisi, serta jejaring komunitas berinteraksi dengan medan sastra melalui pertukaran berbagai modal, baik kultural, ekonomi, sosial, maupun simbolik.

Dengung Tanah Goyang dalam ruang kuratorial dan ajang penghargaan memperlihatkan akumulasi modal simbolik yang menentukan peredaran maknanya. Dalam perspektif berbeda, Ian Watt dan Alan Swingewood menekankan fungsi reflektif sastra terhadap masyarakat: bukan sekadar cermin pasif, melainkan refleksi selektif yang menyoroti aspek sosial tertentu, seperti memori gempa, migrasi (merantau), dan dialektika tradisi—modernitas, seraya menciptakan jarak kritis untuk menafsirkan ulang pengalaman kolektif tersebut.

Dengan demikian, puisi-puisi Iyut berfungsi bukan sekadar ekspresi estetik individual, melainkan sebagai medium historis yang merekatkan ingatan personal dengan sejarah komunal.

Stilistika dalam Dengung Tanah Goyah

Pilihan diksi dalam puisi Iyut Fitra memperlihatkan keterikatan yang erat dengan ruang kultural Minangkabau, khususnya melalui representasi geografi (gunung, tanah, sungai), ritus sosial—religius (surau, nagari), serta benda-benda keseharian yang mengakar pada pengalaman lokal. Sebagaimana dikemukakan Sapardi Djoko Damono (1979), teks sastra selalu berkaitan dengan realitas sosial yang melingkupinya; maka penggunaan repetisi kata-kata seperti “dengung,” “retak,” dan “goyah” berfungsi bukan sekadar perangkat stilistika, melainkan mantra memori yang mengarsipkan trauma kolektif.

Metafora Seismik

Metafora seismik yang mendasari teks tidak hanya hadir pada lapis semantik, tetapi juga mengatur ritme puisi melalui jeda, sinkopasi, dan hentakan yang menyerupai “aftershock” afektif—suatu bentuk estetika, menunjukkan kemampuan sastra untuk merefleksikan sekaligus menafsirkan pengalaman sosial, (Ian Watt).

Metafora seismik pada puisi yang berjudul “tanah goyang” merepresentasikan kondisi dunia yang tidak stabil: tanah yang rapuh sekaligus dengung sebagai gema panjang dari pengalaman traumatis maupun peringatan ekologis. Dapat ditafsirkan bahwa metafora seismik dalam puisi “tanah goyah” sebagai bentuk arsip afektif, yang mengikat memori kolektif masyarakat terhadap bencana banjir di Sumatera Barat dengan implikasinya pada tatanan kehidupan sehari-hari, seperti rumah, sawah, kebun, surau, dan jejaring sosial lainnya:

gelombang banjir berpulun yang dikirim itu
sudah biasa tiba di beranda
sedangkan tenang tumbuh tak jadi, ini bah lapar bergulung
ia kini adalah ungguk puing berbaju lecah
puing bertimbun basah
(tanah goyah, hal. 38)

Di sisi lain, intertekstualitas lokal hadir dalam puisi Iyut melalui serpihan pepatah, pola paralelisme, serta imaji adat yang menyiratkan dialog dengan tradisi lisan Minangkabau. Hal ini sejalan dengan gagasan Lucien Goldmann tentang karya sastra sebagai pandangan dunia subjek kolektif, di mana teks berfungsi sebagai medium keberlanjutan sekaligus transformasi budaya dalam horizon estetiknya.

Larik

Saya sepakat dengan apa yang dikatakan Kiki Sulistyo bahwa komposisi tiap-tiap puisi Iyut dalam Dengang Tanah Goyang ini cukup rapi dibandingkan buku-buku puisi sebelumnya. Koherensi dari larik yang satu ke larik berikutnya, bait demi bait, membentuk
suatu jalan yang cukup mudah dipahami. Puisi-puisi Iyut berhasil mengantarkan pembaca kepada apa yang ingin ia capai dari puisinya (seperti: ia bagai penyair mencemaskan kata-kata/kata terjalin indah tapi lupa pada pedih/hari memucat) sehingga membentuk babak-babak yang memiliki satu napas yang panjang dan terstruktur.

Rima

Iyut juga lihai memainkan rima dalam bait puisinya, seumpama tangga kata pada tubuh puisinya, yang dapat meninabobokan pembaca. Bila puisi-puisi dalam buku ini dibacakan di panggung-panggung, terdengar indah dan memiliki irama yang berpola. Dalam buku Iyut ini ditemukan rima yang meliputi (rima awal, tengah, akhir, mendatar, tegak) dibedakan berdasarkan letak bunyi dan pola pengulangannya (rima sejajar/lurus, silang/berselang-seling, berpeluk/berpasangan, dan rima kembar):

beragam harap berlompatan. di siang-siang kelabu
di malam penuh hantu
barisan keangkuhan. tak hanya mengendap
tak hanya merayap
(cerita-cerita beruk, hal. 71)

kata manti kata berulang, kata alim kata hakikat
tegak di adat alang-kepalang, lipat pakaian dengan mufakat
(barisan yang merayap, Hal. 33)

Tipografi

Dalam buku Dengung Tanah Goyah juga ditemukan pola tipografi. Hampir di setiap judul puisi memiliki tipografi, meski tidak begitu dominan seperti yang terdapat pada puisi “Tragedi Winka dan Sikha” karya Datuk Sutardji Calzoum Bachri, maupun pada puisi “Doa Perahu” karya Ismed Natsir yang dimuat di majalah Horizon pada Oktober, 1974, dan pemakain tipografi pada tubuh puisinya juga pernah dilakukan oleh penulis Indonesia lainnya, seperti W.S. Rendra dan Widji Thukul. Tipografi sebagai elemen penting yang tidak hanya berfungsi sebagai representasi visual, tetapi juga memperluas daya ekspresif puisi. Tipografi mampu memengaruhi interpretasi, membentuk resonansi emosional, dan memperkaya pengalaman estetik pembaca.

Manipulasi unsur visual—seperti font, spasi, dan tata letak—dapat menghadirkan lapisan makna baru sekaligus merefleksikan referensi budaya. Sebagaimana yang dilakukan Iyut pada struktur puisinya mampu mengeksplorasi ekspresi puitik yang inovatif. Dalam perspektif semiotik, tipografi berfungsi sebagai sistem tanda yang menentukan gaya sekaligus membentuk makna, seperti tampak dalam puisi populer Indonesia, termasuk apa yang dilakukan Iyut dalam buku puisi Dengung Tanah Goyah ini. Misalnya terdapat pada puisi yang berjudul “bagai penyair” halaman 24-25.

ia bagai penyair mencemaskan kata-kata
kata terjalin indah tapi lupa pada pedih
hari memucat
menggigil dalam rima palsu
melambungkan mimpi di antara diksi-diksi basi
di antara bangkai-bangkai kelaparan
di hamparan cakrawala angin silang-siur. awan kelabu
berarak sendu
lalu hujan di sekujur bumi
kata mana mampu mengguyur sejuk selain air mata?
ia bagai penyair mabuk sanjung puja
di emperan beberapa orang melempar langit
larik-larik haru. bulan tak jatuh
nasib semakin lentuh
bait demi bait hanya barisan luka berlungguk
serupa kata-kata lupa cara berdoa
ia bagai penyair tenggelam oleh bahasa
bahasa hilang muka
muka topeng seribu
harapan, impian, cita-cita
hancur berkeping makna
ia bagai penyair yang tak bisa berbuat apa-apa
menghanyutkan kata demi kata
ke sungai-sungai tak bernama

Sebagai penutup saya ingin menyampaikan bahwa ketakutan-katakutan, kegelisahan, kegamangan muncul dalam buku kumpulan puisi Dengung Tanah Goyah karya Iyut Fitra. Saya berasumsi Iyut telah selesai dengan puisinya, dengan perantauannya, dengan kanak-kanaknya, dengan kampung halaman, dengan benda-benda, dengan petatah-petitih, dengan kata-kata lama (arkais), dengan gedung-gedung serta jalan yang menyimpan kenangan, dan semua yang pernah dibicarakan Iyut dalam puisinya. Kita lihat saja nanti. Pembaharuan atau pergeseran apalagi yang akan dilakukan oleh Iyut Fitra untuk karya-karya selanjutnya. (*)

Referensi:
Bourdieu, Pierre. 1977. An Outline of Theory of Practice. Terj dari Bahasa Perancis oleh Richard Nice, Cambridge: Cambridge University Press.
Damono, Sapardi Djoko. 1979. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas. Jakarta: Depdikbud.
Fitra, Iyut. 2024. Dengung Tanah Goyah. Jogjakarta: Jual Buku Sastra.
Goldmann, L. (1980). Esssays on Method in the Sociology of Literature (W. Q. Boelhower (ed.)).
Swingewood, Alan and Diane Laurenson. 1972. The Sociology of Literature. Paladin: University of Michigan.
Watt, Ian. 1964. “Literature and Society” dalam Robert Wilson (Ed.) The Arts in Society. New Jersey, Prentice-Hall.
Website:
Puisi: Doa Perahu (Karya Ismed Natsir). https://www.sepenuhnya.com/2025/04/puisi-doa-perahu-karya-ismed-natsir.html
Puisi: Tragedi Winka dan Sihka (Karya Sutardji Calzoum Bachri). Diakses 19 September 2025. https://www.sepenuhnya.com/2025/01/puisi-tragedi-winka-dan-sihka-karya-sutardji-calzoum-bachri.html

* Disampaikan pada acara Bincang Buku Sastra #4 Dengung Tanah Goyah oleh Suku Seni Riau tanggal 23 September 2025

Comments (0)
Add Comment