“Cahaya bukan hanya sesuatu yang menerangi jalan, tetapi juga yang memeluk jiwa saat gelap datang. Dalam setiap langkah hidupku, aku menemukan bahwa pelukan cahaya itu nyata – datang dari harapan, cinta, dan makna.”
Filosofi diksi “Dalam Dekap Cahaya” mengandung makna yang dalam, dengan simbolisme cahaya sebagai lambang pencerahan, kesadaran spiritual, dan harapan. Secara filosofis, “cahaya” bukan hanya merujuk pada pencerahan intelektual, tetapi juga melambangkan iluminasi batin, yakni kesadaran ruhani yang memperkuat pemahaman hidup dan keberadaan seseorang secara bertahap dan berlapis-lapis. Frasa ini mengisyaratkan sebuah kondisi di mana hati manusia terasa hangat dan terang karena kedekatannya dengan unsur ilahi, membawa makna kedamaian, optimisme, dan kebijaksanaan.
Menurut filosofi Suhrawardi, cahaya adalah simbol kesadaran atas realitas diri yang tampak dan yang murni, serta menjadi sumber kehidupan dan pengetahuan secara langsung tanpa perantara. Dalam konteks ini, “Dalam Dekap Cahaya” seperti berada dalam pelukan atau naungan pencerahan yang menghadirkan ketenangan dan kekuatan batin yang membebaskan dari kegelapan atau kebodohan. Cahaya bagi Suhrawardi tidak hanya fenomena fisik tetapi merupakan prinsip eksistensi dan kesadaran paling mendasar yang menjadi sumber pengetahuan, kehidupan, dan realitas itu sendiri. Filosofi ini menekankan pencerahan batin dan pengetahuan intuitif sebagai jalan untuk memahami hakikat eksistensi.
Lebih jauh, diksi ini juga bisa dimaknai sebagai harapan yang terus bertumbuh dan bertumpuk, di mana setiap lapisan cahaya membawa makna baru, yakni usaha, cinta, kebijaksanaan, kesabaran, dan ketenangan jiwa, yang menjadi sumber kekuatan dalam melewati tantangan hidup. Sehingga, “Dalam Dekap Cahaya” mengekspresikan sebuah keadaan spiritual dan psikologis yang paling ideal, di mana seseorang hidup dalam kesadaran penuh, telah meraih pencerahan batin dan kematangan jiwa yang berkelanjutan.
Buku setebal 100 halaman berjudul “Dalam Dekap Cahaya: Story of My Life” karangan L.N. Firdaus diterbitkan oleh Penerbit Taman Karya Pekanbaru. Buku yang hadir di tangan kita ini termasuk dalam kategori otobiografi. Buku yang disusun dan diilhami tujuh ayat Al-Fatihah ini sebenar menyentak karena dirancang dengan pendekatan bak perjalanan sebuah cahaya kehidupan manusia. Tujuh ayat yang diapit oleh prolog dan epilog. Niat pengkaryaan mulia dengan menjadikan keajaiban Al-Quran sebagai sumber inspirasi pengkaryaan.
Buku yang memiliki “Kata Mereka” berupa pandangan tiga kelompok sudut pandang itu terasa berbeda dari otobiografi lainnya, terasa renyah untuk dibaca dan dinikmati pembacaannya. Kita dimanjakan dengan gambar penguat cerita dan quotes (kata-kata inti sari/bijak) dari penulis sendiri dan tokoh dunia serta penggalan puisi. Bahkan latar lahir di tanah Melayu, berpengaruh dalam gaya kepenulisannya, pasal dalam Gurindam Dua Belas dan pepatah.
Ibarat siklus kehidupan, bagian dari buku ini yang paling mengharu biru terletak pada Bab 2. Keluarga dan Masa Kecilku (h. 13 s.d. 26). Di sinilah letak penempahan cahaya dalam kehidupan penulis yang akan menjadi ibrah bagi siapapun yang membacanya.
Kala membaca kisah hidup seseorang, inti cerita bukan pada kisah suksesnya yang kita cari, namun pada titik jatuh bangun dalam hidupnya yang memicu untuk bangkit. Adrenalin penulis untuk meraih cahaya sepertinya terpicu dari sebuah peristiwa pada halaman 24:
“Semasa SMA, aku merekam satu momen kecil yang secara diam-diam mengubah arah hidupku. Suatu hari, seorang teman sekelas – dia juga Tionghoa sepertiku – melontarkan kata-kata bahwa kemampuan otakku hanya cukup untuk SMA, tidak mungkin bisa sampai kuliah. Mungkin saat itu ia tidak sadar bahwa ucapannya menusuk harga diriku di hadapan teman-teman. Tapi aku diam saja. Namun dalam hatiku berkata: “Suatu hari, akan aku buktikan bahwa perkataan kamu salah …!”
Kala harga diri telah terusik, siapapun akan menjawabnya dengan cara yang elegan. Penulis telah menyimpan “hinaan” menjadi energi dendam positif untuk mengubahnya menjadi cahaya.
Pencarian sebenar cahaya penulis tertera pada halaman 77 dengan sub judul “Hijrah: Sebuah Kelahiran Kembali”:
“Hidup, pada akhirnya, adalah perjalanan pulang ke dalam. Dan dalam perjalanan itu, kadang kita dipanggil untuk berbalik arah, menempuh jalan yang sama sekali baru – bukan karena jalan lama salah, tetapi karena hati merindukan cahaya yang lebih terang.”
Buku otobiografi “Aheng”, biasa penulis disapa ini memberikan warna tersendiri dalam menuliskan otobiografi dengan tipografi menarik. Kita juga diajarkan menghargai ilmu sebagai bekal utama menjemput cahaya. Selamat membaca.
“Makna hidup bukan hanya dalam puncak pencapaian, tapi dalam kesetiaan menjalani hari-hari dengan hati utuh.”
Kota Tua – Jakarta, 14/10/2025
Setiap buku biografi selalu ada saja bbrp kalimat yang inspiratif …