Menikmati Ketertinggalan, Solusi Waras di Tengah Gempuran Media Sosial: Catatan Retno Auliasari

“When you fear missing out, you’re missing the moment”

Ketika “Takut Ketinggalan” Menguras Waras. Fear of Missing Out (FOMO) bukan lagi sekadar tren, melainkan pemicu kecemasan nyata. Menurut Fuat Tanhan dkk, tingkat FOMO yang tinggi terbukti menurunkan kepuasan hidup akibat penggunaan media sosial yang kompulsif. Ketika kita terus membandingkan keseharian kita dengan momen terbaik orang lain, FOMO berubah menjadi racun yang menguras energi dan kesehatan mental.

Mengubah FOMO Menjadi JOMO. Solusinya bukan mengisolasi diri, melainkan beralih ke JOMO (Joy of Missing Out), menikmati ketertinggalan yang disengaja. Melalui digital minimalism dan batasan media sosial yang tegas, kita bisa memindahkan fokus dari hidup orang lain ke pertumbuhan diri sendiri. Anda tidak harus mengikuti setiap tren atau kafe viral untuk merasa utuh.

Jadi, Penting atau Tidak? FOMO sama sekali tidak penting jika hanya memicu rasa minder dan sifat impulsif. Namun, ia bisa bermanfaat jika dijadikan alarm, sinyal bahwa ada kekosongan diri yang perlu diisi dengan pencapaian nyata, bukan sekadar validasi maya.

Retno Auliasari, SMA Negeri 15 Batam

Comments (0)
Add Comment