Narasi Historis dan Imaji Visual, Membaca Peta Kumal Boy Riza Utama: Catatan Murparsaulian*

Buku kumpulan puisi bertajuk Hindia Sebentang Peta Kumal (Palagan Pustaka, 2020) yang ditulis Boy Riza Utama seperti perjalanan batin seorang penyair yang membaca kembali sejarah kolonialisme di nusantara. Boy tidak sekedar menorehkan puisi-puisinya dalam rangkaian kata, melainkan juga merekam jejak sejarah, memutar ulang peristiwa yang terjadi ratusan tahun lalu, dan dilumatnya menjadi pengalaman masa kini dengan prespektif seorang anak muda yang lahir jauh dari rentang waktu peristiwa itu terjadi.

Dengan cara unik, puisi Boy merekam beragam peristiwa. Sekali waktu ia memilih diam, di kali lain ia membiarkan kata-kata menguap, bebas luncas, lalu menangkapnya kembali untuk diramu menjadi puisi. Tema besar yang dibentangkan sewaktu kolonialisme Belanda dengan latar geografis yang luas mulai dari Sumatera Barat, Riau (Pekanbaru, Logas, Taluk Kuantan, Bengkalis, Siak dan seterusnya) hingga sampai ke Jawa, bahkan Hanoi. Semuanya muncul sebagai latar penting yang menjadi saksi sejarah. Boy bahkan menyinggung kota-kota di Belanda (Amsterdam, Rotterdam, Den Haag) sebagai jejak lain dari lintasan sejarah kolonial.

Boy bukan Penyair Inggris TS Eliot yang menulis puisi dari peristiwa kehancuran Eropa pasca Perang Dunia 1 atau Pablo Neruda, Penulis berbahasa Spanyol dengan puisi epik sejarah Amerika Latin mulai dari zaman Pra-Columbus, Kolonialisme Spanyol, hingga perlawanan rakyat atau bukan pula W.H. Auden, Penyair Amerika yang menulis puisi atas kegelisahannya terhadap perang Dunia II.

Peserta Bincang Buku “Hindia Sebentang Peta Kumal”

Boy adalah penyair Gen Milenial yang dalam istilah kekinian disebut sebagai penduduk asli digital yang mendapat pengaruh lebih banyak dari generasi sebelumnya. Ia tampil dengan bahasanya sendiri. Merilis ulang beragam peristiwa dengan dialog-dialog naratif terhadap kejadian yang sudah lama terjadi itu. Bahkan sejak abad ke-16 hingga 19. Dalam rentang waktu ini, tentu gaya bahasa yang digunakan akan jauh berbeda dengan gaya bahasa saat puisi-puisi ini ditulis yakni antara tahun 2015 hingga 2020. Boy Riza style, menggugah ingatan kolektif kita dari peristiwa-peristiwa sejarah itu. Seperti membuka kembali ruang-ruang kesadaran berpikir. Ia membentangkan “peta kumal” sejarah kolonial Belanda di Sumatera dan Jawa, lalu menempatkannya dalam ruang batin penyair masa kini.

Untuk memahami puisi-puisi Boy dalam buku ini, pembacanya mesti berpikir ekstra. Sebagai contoh puisi berjudul Rumah Haven Meester, Kampung Dalam (setting Pekanbaru, di samping jembatan Leighton). Penyair ini menumpahkan imajinasinya tentang sebuah rumah kenangan. Seakan ia melihat apa yang pernah terjadi di Hasyim Straat, di mana pada tahun 1925 lalu, kompeni Belanda punya kuasa yang disebutnya dengan istilah jatah ‘’panen’’. Ia juga memakai bahasa Belanda dalam puisinya antara lain; Invoer-rechten dan uitvoer-rechten (bea masuk dan bea keluar). Penerima (Ontvanger) pajak ini Riouw en Onderhoorighede (Riouw dan Ketergantungannya). Sampai pula pada sosok Marsose. Boy menerjemahkan itu semua dengan simbol ‘’kenangan terisolasi’’. Ia bicara dengan bahasa batinnya, mengajak pembacanya untuk berpikir lebih jauh lagi dengan berusaha mencari arti kata-kata dari bahasa Belanda dan makna yang tersirat dari kata-kata kiasan.

Lalu siapa Elisa Netscher, yang terbangun dalam imajinasinya pada puisi Elisa Netscher Suatu Hari (halaman 58). Elisa adalah pegawai negeri Hindia Belanda sekaligus residen Riouw pada tahun 1861yang banyak menulis tentang Riau terutama Pekanbaru tempo dulu. Pengalaman pelayaran Elisa di pedalaman Sumatera Tengah hingga ke tepian sungai Siak dirangkumnya dalam dialog-dialog dan menyebut Virtus Nobilitat. Apa itu Virtus Nobilitat? Adalah moto dari Ordo Singa Belanda, biasanya digunakan untuk berbagai konteks simbolis yang menekankan tentang kebaikan hati dan karakter yang baik sebagai sumber kemuliaan dan kehormatan sejati.

Begitu juga Kapiten Yonker, salah seorang figur yang tidak kalah pentingnya yang disebutnya dalam buku ini dengan judul Kapitan Yonker (Halaman 67). Sebagai pemimpin Ambon di bawah Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). Pria peranakan Ambon–Belanda ini dikenang sebagai sosok yang berjasa menumpas pemberontakan, namun mengalami akhir hidup yang tragis. Fakta sejarah tentang Kapiten Yonker yang terjadi pada tahun 1666 dihidupkan kembali dalam dimensi waktu pada tahun 2019. Kapiten Yonker diposisikan sebagai perantara militer; aset sekaligus ancaman. Alih-alih menyajikan data faktual, puisi ini memberi ruang pada dimensi batin Yonker. Pada satu sisi, ia digambarkan bangga atas kejayaannya, di sisi lain ia adalah penghianat :

Aku mengepalai seluruh Ambon… dan Jenderal Speelman menyayangiku.” Namun pada sisi lain, ia digambarkan penuh kegelisahan: “Sampai bila pengkhianatan? Sampai di mana kecewa? Sampai kapan dihina?” Boy menghadirkan petikan-petikan dialog keresahan dan konflik batin Kapiten Yanker dengan gaya naratif – historis, lalu dihadirkan imaji visual tentang pertempuran, pemenggalan kepala, dan darah yang tumpah.

Ada banyak puisi yang menandai tokoh-tokoh dalam kolonial Belanda lainnya, termasuk Ratu Wilhelmina dalam puisi bertajuk Pacu Jalur Rantau Kuantan (halaman 33). Semuanya seakan hadir dengan dialog-dialog, berinteraksi secara telepati dalam ruang imajinasinya dengan tokoh-tokoh itu. Mengingatkan saya kepada penyair terbilang Indonesia Chairil Anwar dengan puisi Kerawang Bekasi, dan Diponegoro. Chairil juga seperti berdialog dengan tokoh-tokoh dalam puisinya. Dialog-dialog langsung yang menggugah.

Dari museum Fatahillah, lahir tokoh Manoel dan Jagur. Dua tokoh imajiner peninggalan sejarah kolonial Portugis di Nusantara: Meriam Si Jagur (meriam besar yang kini berada di Museum Fatahillah, Jakarta) dan sosok Portugis bernama Manoel Tavares Baccaro (tokoh Portugis abad ke-17). Puisi ini seperti refleksi historis tentang memori kolonial Portugis–Belanda di Nusantara yang terwakili oleh Meriam Si Jagur.

Meriam Si Jagur sebagai simbol sejarah yang menyimpan memori masa lalu, dari Makau, Melaka, hingga Batavia. Tubuhnya yang besar (3,5 ton, panjang 3.085 meter) penuh ukiran dan simbol (seperti tulisan Latin Ex Me Ipsa Renata Sum. Artinya, aku diciptakan oleh diriku sendiri).

Ada sejarah konflik Portugis dengan Belanda, misalnya jatuhnya Melaka ke tangan Belanda (1641) dan perjanjian Johor 1606. Portugis kehilangan pengaruh, sementara Belanda menguasai kawasan dan meninggalkan trauma serta dendam di kerajaan-kerajaan Melayu. Puisi ini memiliki makna simbolis yang menyoroti bagaimana benda-benda peninggalan kolonial (Si Jagur) menyimpan jejak sejarah, peperangan, dan pergulatan kekuasaan. Namun kini hanya jadi “spot foto turis”. Kisah sejarah yang penuh pergulatan itu kini terlupakan, hanya tersisa artefak di museum yang dikiaskan Boy dengan frasa ‘’tanpa ingatan’’ (halaman 79).

Beberapa puisi juga didedikasikan kepada sosok tertentu, Atikah, SF, dan HJ yang memperlihatkan sisi personal sekaligus hubungan spesial boy dengan mereka. Hubungan yang nyata, bukan hubungan imaji seperti dengan tokoh nama-nama Belanda seperti; P.J.J Van Rossum, Van der Chijs, dan lain-lain.

Dari semua puisi Boy dalam buku ini, saya melihat ekplorenya tentang Riau lebih dalam dibanding dengan Sumatera Barat sebagai kampung halamannya. Ikatan emosionalnya dengan Melayu sangat terasa, terkhusus dalam puisinya bertajuk Toponimi Riau yang didedikasikan untuk HJ (halaman 60). Memori batinnya dengan sosok budayawan itu mulai dari Pelaut Porto hingga perompak Alfonso hingga berakhir dengan syair Raja Ali Haji yang mangkus.

Sesuai dengan arti toponimi yang berasal dari bahasa latin yaitu nama-nama tempat yang disematkan pada penampakan fisik dan bahkan juga secara budaya. Pun pada puisi berjudul Toponimi Pekanbaru (halaman 46). Boy tetap dengan diaolog-dialog imajiner menggambarkan bagaimana Pekanbaru jaman dulunya yang hanya hutan dan sungai. Hingga dirapalkan oleh para syahbandar. Lalu ada payung sekaki, Chinapelan (mungkin kini Senapelan). Riau seperti punya rumah sendiri di hatinya. Berbagai wilayah itu bukan hanya sekedar nama, namun punya roh dan spirit yang melekat.

Ruang imajinasi Boy dalam buku kumpulan puisi ini seperti sengaja di tulis beruntun berdasarkan latar puisi dilahirkan, dimulai dari Bukit Ambacang dan beberapa daerah di Sumbar, lalu beralih ke Riau, lalu ke Pulau jawa. Sayangnya Boy tidak mencantumkan secara jelas nama-nama tempat di akhir puisinya. Hal ini menimbulkan pertanyaan bagi saya. Apakah puisinya lahir dari pengalaman langsung menyusuri tempat-tempat itu atau semata-mata dari pembacaan sejarah dan imajinasi, lalu puisi-puisi itu ditulis runut berdasarkan setting peristiwa sejarah itu terjadi.

Hindia Sebentang Peta Kumal adalah usaha penyair membentangkan peta sejarah, meskipun “kumal”, namun penuh makna. Buku ini menyatukan lintasan sejarah kolonial, ruang geografis Nusantara, dan pengalaman personal penyair. Ia menghadirkan perenungan bahwa sejarah bukan hanya catatan masa lalu, tetapi juga percakapan yang terus hidup dalam puisi. Boy mampu konsisten menulis 60 buah puisi yang berangkat dari peristiwa sejarah hingga terhimpun dalam sebuah buku kumpulan puisi.

*Penulis dan Penggiat Media Kreatif.
Disampaikan pada Bincang Sastra 3 di Suku Seni Riau Jumat, 19 September 2025.

 

Comments (0)
Add Comment